
"Maksud Anda gimana ya, Pak? Saya?" Wajah suamiku terlihat sedikit kebingungan.
Tiba-tiba Pak Suhandi menuduh yang tidak-tidak kepada suamiku yang telah begadang semalaman demi persiapan Serah Terima Jabatan. Sepertinya beliau belum ikhlas turun menjadi dosen biasa? Nah, kan? Aku malah jadi julid?
"Maaf kan saya, Pak. Bukan maksud saya lancang, hanya saja saya—" Mulutku yang sudah bersiap berkoar membalas mulut beliau yang lemess itu, terpaksa berhenti.
Mas Aren menggenggam tanganku menggelengkan kepalanya. Akhirnya aku menundukkan kepala merasa cukup menyesal karena malah membuat reputasi suamiku semakin jatuh karena memiliki istri bodoh sepertiku.
Akhirnya, aku hanya memilih untuk memainkan tanganku. Membiarkan suamiku yang berbicara.
"Saya tidak paham yang Anda maksud. Akan tetapi, tiba-tiba Dekan menghubungi untuk menghadap Beliau. Mungkin karena Bapak sudah dua kali periode menjadi Ketua Program Studi. Sehingga, Beliau mengharapkan saya yang menggantikan posisi Bapak."
Suamiku menjelaskan satu per satu dengan kalimat yang sangat sopan. Aah, ternyata pria itu memang berbeda ya? Bisa tetap kalem meski di dalam hatinya telah berkecamuk.
"Namun, seharusnya bukan kamu yang naik. Masih ada dosen-dosen senior lain yang lebih layak untuk menjadi pimpinan program studi ini. Bukan kamu!"
Perasaanku benar-benar tidak enak mendengar ucapan dari Pak Suhandi. Mendengarnya membuat perasaanku terluka. Sekarang aku mengerti kenapa Mas Aren ingin sekali berhenti menjadi pengajar di kampus ini. Karena, perselisihan di antara rekan sejawat sungguh sangat memusingkan.
Kita akan terus bertemu dengan orang yang sama dalam lingkaran yang sama. Ini pasti membuat perang dalam batin yang membuat Mas Aren terus menghindari orang-orang yang terus bertentangan dengannya.
"Mungkin Pak Dekan melihat satu hal yang lebih yang tak dimiliki oleh dosen senior lain dari Pak Rendra mungkin, Pak." Akhirnya mulut ini tak sanggup aku tahan. Sebagai istri, sudah kewajibanku untuk memuji dan membela suamiku bila terjadi hal seperti ini.
__ADS_1
Mas Aren menyenggol bahuku yang sejajar dengan lengannya. Dia tidak ingin aku ikut campur dengan urusan mereka. Aku mengangguk kan kepala dan akhirnya memilih permisi keluar dari ruangan itu menunggu Pak Suhandi menyelesaikan urusannya dengan suamiku.
Tak lama kemudian, netra yang aku miliki menangkat sosok yang berjalan lesu di koridor kampus. Aku pun berjalan mendekati temanku itu.
Lingga yang menyadari kehadiranku, memilih berbalik arah mencoba mempercepat langkah. Aku pun mengejarnya dengan cepat, penasaran dengan apa yang telah terjadi padanya.
Aku tidak ingin kejadian dulu terulang kembali. Ini sudah bukan masanya marah-marahan dengan sahabat dengan alasan yang tidak jelas.
"Lingga?" Aku terus mengikuti langkahnya. Saat langkahnya menjadi semakin cepat, maka saat itu pula kecepatan langkahku makin bertambah.
Akhirnya, kejar-kejaran ini aku akhiri dengan sedikit berlari lalu menangkapnya.
Kedua lengan Lingga aku genggam. Lingga berusaha menepis, tetapi genggamanku menjadi semaki erat.
"Aggghh .... Sakiiiit ...." ringisnya mengerutkan wajah.
Dengan refleks, aku melepaskan genggaman itu. "Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti. Aku hanya—" Ucapanku terputus karena melihat pipinya yang telah banjir oleh air mata.
Aku pun memeluk Lingga mengusap punggungnya. "Kamu kenapa? Apakah kamu bersedia menceritakannya kepadaku?"
Setelah Lingga merasa sedikit lega, aku mengajaknya duduk di gadezo tempat nongkrong kesayangan. Mumpung telah sore, maka tak terlalu banyak yang duduk di sana, hingga memberikan ruangan yang lapang bagi kami berdua untuk berbagi cerita.
__ADS_1
"Cerita kan lah padaku! Apa yanh terjadi? Apakah ini menyangkut masalah Bang Alan?"
Lingga membisu dengan matanya yang mengawang entah ke mana. Tak beberapa lama, dia mengangguk dan air matanya mulai terjatuh lagi.
"Semenjak dia membelikan ponsel baru ini, hubunganku dengan Bang Alan terasa semakin renggang."
Lingga terdiam kembali menatap ponsel yang tak pernah lepas dari genggamannya. "Sebenarnya, aku yang meminta dia untuk membelikan ini. Dia sama sekali tidak pernah menawarkan apa pun untukku."
Lingga kembali merenung sambil memutar-mutarkan benda itu. "Semenjak makan di kafe terakhir bareng, kamu yang bayarin itu, dia tidak pernah lagi menghubungiku. Saat aku menghubunginya, tak pernah nyambung. Aku merasa dia memblokir kontak yang aku punya."
Aku teringat beberapa waktu lalu saat Bang Alan mengira aku masih menyukai dia. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang itu sih? Apa dia tidak pernah berpikir panjang, saat menyia-nyiakan hati seorang perempuan? Nanti setelah semua berakhir dan tidak ada lagi rasa tersisa, dia malah dengan seenaknya mengatakan cinta. Aaah, apa harus diakhiri dulu, baru dia menyadari semua?
"Sekarang, perasaanmu padanya bagaimana?"
Lingga menunduk kembali merenung. "Aku mencintai dia. Sekarang aku sadar, yang cinta itu hanya aku. Sementara aku tidak mengetahui perasaannya kepadaku."
"Apa kamu mau mengikuti apa yang aku pinta?" ucapku.
Lingga memutar kepalanya menatap aku yang berada di sampingnya. "Mengikuti apa?"
"Akhiri hubunganmu dengannya!"
__ADS_1