Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-54. Ngidam


__ADS_3

"Bu ... Ibu sudah tau belum hukum bila Ibu melakukan black campaign kayak gini pada perdagangan seseorang?" tanya suamiku dengan tegas.


Wanita itu terlihat tersentak. "Hmmm, black campaign? Ada yang seperti itu?"


"Ibu marah-marah tidak jelas dengan cucian ini? Emangnya ini laundryan kapan?" tanya suamiku kembali.


Setelah dipikir-pikir, bener juga kata suamiku. Aku baru sadar bahwa wanita ini bukan orang yang menjemput pakaian hari ini.


"Eh, ehmm ... Hari ini kok. Saya juga udah sering pakai jasa di sini kok," ucapnya sambil gelagapan.


"Saya memang kurang yakin, Ibu apa ada hari ini atau tidak karena cukup ramai. Namun, saya akan cek CCTV dulu."


"Ini dijemput oleh anak saya tadi." Dia terus memberi alasan.


"Sayang, coba kamu cek kembali aroma pakaiannya. Apa memang seperti itu parfum laundry di sini? Entah kenapa tidak sama dengan yang biasa." ucap suamiku dengan yakinnya.


Aku pun mulai menarik kantong yang berisi pakaian itu. Namun, wanita tersebut menarik kantong dan merebutnya kembali.


"Kalian ini sungguh terlalu pada pelanggan ya?" ucapnya geram.


"Ya, selama ini tidak ada yang protes, kenapa hari ini tiba-tiba ada yang protes. Tadi memang ada sih, karena terlambat dalam proses menyetrika. Tapi, semua baik-baik saja. Jika Ibuk mau mencoba menfiiittnnah usaha saya ini, saya memiliki CCTV yang akan mengungkapkan kebohongan Ibu."


Wanita tersebut mendengkus dan pergi. "Buk? Mau ke mana? Saya belum selesai memberikan penjelasan jika memmmfiiitttnah bisnis orang lain weeeii?" Suamiku semangatnya sangat berkobar dalam menakuut-nakutii wanita itu.


"Emang beneran ada ya Mas?" tanyaku melanjutkan menutup pintu roling toko.


"Ada sih, tapi sebenarnya prosesnya ribet. Baiasanya orang sukanya sabar aja berdoa orang yang fitnah dapat karma. Tapi beneran ada kok pasal dan hukumnya."


"Jika merepotkan mah, males atuh, Mas? Pasti keluarin biaya lagi buat biaya ini dan itu, apalagi pengacara." Aku langsung merangkul tangannya manja.


"Iya, tadi hanya nakuut-nakuutin doang, biar dia gak berani macam-macam aja."


"Aduuu, gemesinnya suamiku gara-gara saking pinternya." Pipinya kutarik dan dia terlihat sumringah.


*


*

__ADS_1


*


Tengah malam, aku merasa sangat lapar. Entah kenapa aku pengen banget makan cakwe. Jam pada dinding telah menunjukkan pukul dua dini hari. Ke mana aku harus mencari cakwe ya?


Membayangkannya dicocol sama saos asam manis udah bikin ngiler memenuhi mulutku. Aku lihat suamiku sudah begitu lelap dalam tidurnya. Aku tak bisa membangunkannya, karena tidak memungkinkan sekali memintanya malam-malam berkelana mencari makanan itu.


Aku coba membuka aplikasi makanan online pada ponsel, berharap ada yang masih ada jam segini. Namun, saat membuka aplikasi, aku kecewa dengan seketika. Aku baru menyadari hanya tinggal di kota kecil, ketika jam sebelas malam sudah tidak ada yang buka.


Aku pun mencoba tidur menenangkan pikiran dan memejamkan mata. Semoga aku bisa tertidur tanpa memimikirkan makanan mirip roti goreng yang panjang itu. Namun, aku sudah bolak balik kiri kanan tetap saja tidak mau tidur.


"Sayang? Kamu kenapa nggak tidur?" Ternyata Mas Aren terbangun karena kegelisahanku.


"Oh, enggak, Mas."


Kruuuucuuuuuuuuk


Perutku malah melayangkan gambaran yang lebih nyata bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Mas Aren langsung duduk mengusap wajahnya.


"Kamu lapar? Mau apa? Aku ambilkan." Ia menyibak selimut yang tadi menutup tubuhnya.


"Oh, enggak. Aku nggak lapar kok. Mana mungkin makan malam-malam gini," elakku menarik dia untuk naik kembali ke atas ranjang.


Mas Aren ini bercanda ya? Nggak mungkin kan dia akan mencarikan makanan yang aku inginkan. Namun, tidak mungkin mulutku berkata dia tidak akan bisa membantuku karena buta?


"Aku nggak pengen apa-apa, Mas. Kalau pengennya nanti aja kalau udah siang." Aku dorong Mas Aren untuk merebahkan diri kembali.


"Kamu tahu, aku merasa kamu meremehkan aku?" Dia kembali bangkit dan melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Mau ke mana?" Aku mengejar langkahnya yang tiba-tiba begitu.


"Aku mau nyari jaket dulu," ucapnya yang seakan hafal dengan posisi jaketnya.


"Jangan! Udah malam!" ucapku menahannya kembali.


"Katakan mau apa?" Kali ini dia serius membuatku tidak bisa lagi mengelak dengan apa yang ada di dalam hati ini.


"Entah kenapa aku pengen banget ngunyah-ngunyah cakwe, Mas. Malam begini mana ada kan?" Akhirnya aku ceritakan juga.

__ADS_1


"Cakwe?" Dia terlihat tertawa.


"Iya, tapi nggak usah ke mana-mana, Mas. Udah malam begini, lebih baik tidur aja."


Suamiku langsung bergerak menuju dapur. "Coba kamu siapkan beberapa bahan yang aku sebutkan."


"Untuk?" Aku mengheran dengan tingkahnya malam-malam begini.


"Kamu nggak tau kan, suamimu ini pinter bikin cakwe? Karena lama di luar negeri, suamimu ini bisa mengurus hidupnya sendiri lho? Apalagi mengurus istri yang lagi ngidam. Semuanya pasti akan aku berikan," ucapnya lagi.


"Masa sih?"


"Iya! Bener!" Lalu ia menyebutkan bahan-bahan yang harus disiapkan. Beruntung semua bahan yang dia sebut, selalu aku stok di rumah. Ternyata, malam ini terasa manfaatnya menyetoknya cukup banyak.


Dia memintaku menolongnya dalam takaran yang ia tahu. Setelah itu dia mencampur semu bahan dan menguleninya. "Setelah ini kita tunggu satu jam dulu. Kamu masih kuat menahan satu jam sampai adonan siap kan?"


"Siap dooong." Lalu dia mengajakku menonton TV, kebetulan ada siaran piala dunia. Aku memperhatikan wajahnya yang datar menonton bola itu. Dia terlihat sangat serius, padahal ia tidak bisa melihat sama sekali permainan tersebut.


"Padahal waktu hamil Elena dulu aku ngga macem-macem lho, Mas? Soalnya aku dulunya tinggal di dusun. Menu makanan yang aku kenal hanya sedikit, tidak sebanyak saat ini."


Mas Aren pun mengabaikan televisi yang sama sekali tidak bisa ia tontong. Terkadang, aku tergelitik ingin bertanya padanya. Apa tujuan dia seperti ini? Dia pasti sangat kerepotan dan susah. Mas Aren merebahkan kepalanya tepat di pangkuanku.


Setelah itu mencium perutku. "Kalian berdua yang anteng ya? Jangan tiru Papa di saat berada di dalam perut Oma. Oma sering banget cerita kalau Papa itu sudah rewel semenjak dalam kandungan." Lalu, ia kembali mencium perutku.


Aku mencium pipinya dan memeluknya. "Terima kasih ya, Mas. Terima kasih sudah menjadi suami yang luar biasa untukku." Dia tersenyum mendorong kepalaku untuk mendekati wajahnya.


Dari arah pintu kamar Elena, terdengar gagang pintu sedang ditarim dari dalam. Elena terlihat mengucek matanya. "Apakah sekarang sudah pagi, Buk? Kok tivi udah hidup?"


Ia langsung berlari ikut serta menambah kemesraan suasana malam ini. Suamiku langsung duduk dan menyuruh Elena naik ke pangkuannya.


"Elena mau maem kue nggak, Sayang?"


"Mau, mau!" soraknya


"Ayo, bantuin Papa masak ya? Kita masak buat adek di dalam perut Ibuk." terang suamiku.


Ekspresi wajah Elena berubah dengan seketika. "Adek?" tanyanya dengan nada keberatan.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Di dalam perut Ibuk ada adek Elena. Ada dua lho."


Elena turun dari pangkuan suamiku. Dia menggelengkan kepala berjalan cepat kembali ke kamarnya. Aku memandangi Mas Aren yang tercengan dengan reaksi anakku itu.


__ADS_2