
(Haloo kak ... hari senin waktunya Author mode ngemisin VOTE ya ... yuuuk ... bagi vote kakak ni sama remahan dulu ... biar gak rapuh lagi kayak kerupuk 🤣🤣🤣)
"Cepat kembalikan anak kami!" ucapan itu dilontarkan oleh pria aneh di sebelah ku ini. Sifatnya yang berubah-ubah selalu membuatku bingung.
Namun, kali ini aku tidak bisa berheran diri terlalu lama. Aku harus bisa merebut anakku kembali. Aku sungguh menyesali teledor dalam menjaga Elena, sementara aku sibuk sendiri tanpa mengawasinya.
"Serahkan? Boleh saja! Asalkan kalian mau menebus gadis manis ini dengan uang satu miliar!"
"Sa-satu miliar?" Aku harus mencari ke mana? Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan sebanyak itu?
Pria yang tiba-tiba muncul ini pun berdecak dan terlihat sangat marah. "Kalian jangan main-main! Kalau tidak, kalian akan saya laporkan pada poli--"
"Jangan coba-coba melaporkan pada pihak polisi. Jika kalian berani melaporkan pada pihak kepolisian ...." Pen ja hat itu menyela ucapan Pak Arendra.
"Kalian bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi."
"JANGAN! Jangan sakiti anakku, aku mohon jangan sakiti anakku." Aku tangkupkan kedua tangan yang gentar melihat pria bertubuh tambun memainkan belati di wajah Elena.
Namun, aku ditarik oleh Pak Arendra. "Mau ke mana? Kamu di sini saja!"
Tangan itu kutepis. Aku ingin merebut gadis kecilku untuk kembali ke dalam pelukan ini. "Pak, aku mohoon ... jangan sakiti anakku ...."
"Hahaha ... tentu! Aku tak akan menyakiti anakmu karena dia akan jadi tambang emas bagi kami."
__ADS_1
Namun, dia masih memainkan belati itu, tetapi kali ini pada pipiku. Ujung tajam benda tersebut, terus ditorehkan pada pipiku.
Anakku telah jauh dari benda itu. Dengan cepat, tangan ini menarik dan membekuk tangan yang sudah lancang memainkan benda berbahaya kepada anakku.
Pergelangan tangannya kutekuk ke arah sebaliknya hingga membuat dia menjerit dalam rintihan pilu.
Selama beberapa bulan terakhir, aku telah belajar ilmu bela diri muaythay. Meskipun belum terlalu lihai seperti senior yang lain, setidaknya aku bisa melindungi diri sendiri dan anakku.
Elena langsung aku rebut dan setelah itu kulayangkan lutut pada bagian kelelakiannya.
"Aaargghh ... ku-kurang ajar!" Dia menggenggam benda yang tidak boleh digenggam itu. Lalu berguling karena menahan rasa sakit.
"Hei, wanita kurang ajar!" Temannya yang lain ingin menyerangku. Aku lindungi Elena dari pu ku lan yang hendak dilayangkan padaku.
bugh
Ada Pak Arendra memainkan alisnya beberapa kali, lalu kembali fokus pada pen ja hat lain. Jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi aku harus bisa membantu dosenku ini. Aku tak ingin terus berhutang budi kepadanya.
Aku lihat ada sepasang suami istri melintas dengan motor melihat kejadian ini. Aku minta mereka untuk berhenti dan memohon agar mereka segera melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian.
Lalu Elena aku tempatkan di tempat yang sekiranya aman, lalu meminta bantuan kepada sang istri.
"Bu, saya akan ke sana sebentar. Aku mohon jaga anak saya sejenak ya, Bu?"
__ADS_1
"Jangan! Bahaya!" Raut wajah Ibu itu terlihat khawatir. Sementara suaminya tengah menghubungi pihak kepolisian agar segera datang ke lokasi ini.
"Kasihan dia, Bu." Aku melihat Pak Arendra melawan sendirian di antara keempat pria yang masih ada. Tadinya mereka ada enam orang. Yang satu tengah tepar menunggu sumber kehidupannya kembali tegar. Yang satu lagi telah jatuh usai diha jar Pak Arendra.
"Tapi kamu ini perempuan. Kamu tunggu di sini sampai polisi datang saja!"
Batinku tidak tega melihat dia berjuang sendirian. Aku bagai kembali de javu pada masa saat kejadian dijambret waktu di pasar dulu. Terlalu banyak pengorbanannya, apa tujuan dia seperti ini padaku?
"Mohon jaga Elena sebentar ya, Bu?"
"Saya tahu kamu pasti mengkhawatirkan suamimu. Tapi, jika kamu ke sana, maka akan membuat dia semakin repot."
Ibu itu mengatakan Pak Arendra suamiku? Ah, aku teringat masa kelam dijauhi kawan kampus karena dia mengaku begitu.
"Saya mohon, jaga anak saya ya, Bu ...." Kali ini aku tidak menunggu jawaban dari nya. Anggap saja aku akan melakukan uji coba ilmu bela diri yang hampir satu tahun kutekuni dengan sungguh-sungguh. Hari ini adalah kesempatan pertama untuk melakukannya.
Semakin mendekat, suara puku lan demi puku lan terdengar semakin keras. Bagaimana cara untuk mencobanya ya? Muaythay itu terfokus pada kekuatan tulang kering, seperti tinju, siku, lutut, dan kaki. Jadi, memang menggunakan tubuh sebagai alat tanpa menggunakan sen jata lain.
Aaah, aku coba dulu sama yang itu, yang tubuhnya paling kurus. Aku mencoba menguatkan kepalan membentuk tinju super. Aaah, sepertinya tidak akan sekuat itu.
💖
💖
__ADS_1
Halo Kakak Readers yang baik ... ayooo ramekan juga karya temen Author ya ... biar makin semangat.