Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
27. Lebih bodoh


__ADS_3

Tuhan ternyata tahu, bahwa Nesya adalah jodoh terbaik untukku. Tuhan mengirimkan wanita yang rajin dan ulet untukku. Dia berhasil membuat hasil panen sawah milik orang tuaku menghasilkan uang berkali lipat dari sebelumnya. Tak peduli dengan orang tuanya yang ikut membantu, yang penting itu adalah sawah orang tuaku, maka uang hasil panen adalah milikku.


"Mana uangnya?" Tanganku menengadah melihat Nesya pulang membawa segepok uang.


"Ta-tapi ....?" Uang itu disembunyikan di balik punggungnya.


Aku tarik uang tersebut dari tangannya dan aku berikan lima lembar uang merah untuknya. "Ini buat kebutuhan sehari-hari!"


"Tapi, Bang uang itu--"


"Apa lagi? Tinggal di desa ini tidak perlu mengeluarkan banyak uang! Itu cukup hingga satu bulan ke depan!"


Dengan tertunduk dia membawa uang itu. Sementara aku mulai memghitung uang yang ada di tanganku. "Lumayan buat beli rokok selama dua bulan."


Uang tersebut aku simpan dan ternyata, Inke pulang ke dusun. Dia libur sekolah. Godain dulu, aaahh ... kasih duit buat rayu dia.


"Abang kenapa mendekatiku tetapi menikahi Nesya?"

__ADS_1


Inke marah padaku. "Ooh, dia terus menggoda Abang. Dari pada menjadi fitnah, nanti malah digrebek warga desa. Ya udah, Abang nikahi aja."


Aku perhatikan wajah Inke yang terlihat jauh lebih cantik semenjak tinggal di kota. Rambutnya yang dulunya hitam lurus, kali ini semakin lurus setelah di-rebonding. Langka sekali warga dusun rambutnya di-rebonding.


Berbeda dengan Nesya, entah kenapa dia terlihat semakin jelek saja. Kulitnya yang dulu putih bersih, sekarang terlihat menjadi gelap dan wajahnya pun sangat kusam. Kenapa dia tidak bisa merawat diri sendiri? Udah tahu suaminya tampan seperti ini, masih saja jadi wanita bodoh nan kampungan.


"Dek, ini ambil ... sebagai permohonan maaf Abang sudah menikahi orang lain." Aku berikan beberapa lembar uang kepadanya.


Inke hanya membuang muka. "Kau pikir aku bisa dibeli dengan uangmu itu?"


Aku ambil beberapa lembar lagi. Aku serahkan kembali kepadanya. "Ini bisa buat jajan di luar, atau buat rebonding rambut kamu lagi?"


"Tenang saja! Dia tidak akan pernah tahu! Dia hanya wanita bodoh yang enak untuk dimanfaatkan."


Beberapa hari kemudian, Nesya mulai merajuk mendekat kepadaku. "Bang, mana uang hasil panen sawah kita kemarin?"


"Buat apa?"

__ADS_1


"Buat tabungan lahiranku nanti," ucapnya dengan sedikit rengekan.


"Lahiran murah dan gampang kok. Nanti ke bidan Sri aja. Biayanya murah. Kalau dia tidak ada, masih banyak dukun beranak yang akan bantu proses lahiran kamu!"


Air matanya terlihat jatuh satu per satu. Aaah, gitu aja cengeng. Aku belakangi dia sembari merokok dan melanjutkan permainan. Ngapain juga ke kota untuk sekedar melahirkan. Toh di sini ada orang-orang yang bisa diandalkan.


Beberapa waktu kemudian secara diam-diam, aku ajak Inke pacaran di atas kebun duren. Di sana tak ada orang. Inke pun mulai aku sentuh. Ternyata dia rela aku cium dengan panas dengan meraba-raba benda yang ada di balik pakaiannya. Dia tak peduli sama sekali bahwa aku ini adalah laki-laki yang sudah menikah.


Namun, di saat aku mulai membuka pakaian, dia mulai menolak. "Aku tak bodoh seperti Nesya. Ceraikan dia, kita menikah setelah aku lulus SMA."


Ceraikan Nesya ... hmmm ... sepertinya aku belum bisa. Jika aku ceraikan Nesya, siapa yang akan mencarikan uang untukku?


Inke melihat ekspresiku yang tidak tertarik menceraikan Nesya. Dia merapikan kembali pakaian dan rambutnya yang telah berhasil kubuat berantakan. Dia bangkit dan melirikku di ujung matanya.


"Kalau begitu, jangan pernah temui aku lagi!" Dia beranjak dan aku lihat kepergiannya sampai menghilang.


Ga i rah ku yang masih belum terlepaskan, membuatku segera ingin pulang. Kebetulan sekali dia sedang memasak dan aku tarik begitu saja untuk melampiaskan yang tak bisa kulepaskan kepada Inke tadi.

__ADS_1


Aaaah, Nesya ... sebenarnya kamu lebih cantik ... hanya saja kamu lebih bodoh.


__ADS_2