Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
15. Elena direbut


__ADS_3

Sebuah suara dari arah luar memecah keheningan negeri yang sunyi ini.


"NESYA ... NESYA ...???" Itu seperti suara Mak Bang Alan. Aku segera memasang jaket yang sengaja kusiapkan. Tergopoh sedikit berlari mengejar mantan mertuaku itu.


Mak Bang Alan terlihat berkacak pinggang sengaja menungguku di depan pintu yang sepertinya dibuka paksa. Mak dan Bapakku menghadang wanita yang tak lebih dari empat puluh tahun itu.


"I-iya, Mak?"


Tangan kanan Mak Bang Alan memegang pinggang, dan tangan kiri menunjukku dengan wajahnya yang merah padam. "Ini pasti gara-gara kau yang tidak becus menjadi istri bagi Alan! Hingga dia terjebak pada wanita kurang ajar itu!"


Maksud Mak Bang Alan ini apa? Kenapa aku masih jadi yang bersalah? Padahal aku lah yang jadi korban kebohongan putra kesayangannya itu. "Kenapa dengan Bang Alan? Bukan kah dia bahagia dengan istrinya yang kaya raya?"


Mantan mertuaku ini berjalan dengan raut amarah di wajahna menuju tempat aku berdiri.


--plaaaak--


Telapak tangannya mendarat tepat di pipi kananku. Rasanya sungguh sangat perih. Aku tahan air mata agar dia tidak jatuh dengan seenaknya.


"Ini semua karena kamu! Jika kamu tidak memaksanya bekerja, dia tidak akan terjebak dengan wanita gila itu. Seharusnya aku tidak merestui kalian semenjak awal!"


Ada apa dengan Bang Alan saat ini? Bukan kah istrinya itu wanita yang kaya raya? Kenapa ibu kandungnya ini malah marah dan menyalahkanku.


"Mak, apa lagi salahku? Apa aku sebagai istri bersalah memintanya mencarikan nafkah untukku?"


--plaaaak--


Kali ini pipi telapak tangannya mendarat di pipi yang satu lagi. Kali ini air mataku benar-benar tidak bisa terbendung. Rasa sakitnya tidak hanya melekat di wajahku. Namun, kali ini sudah membekas hingga ke dalam jiwa.


"Alan itu aku besarkan dengan sepenuh hati agar bisa menjadi anak yang berguna. Namun, kau mengajaknya menikah di saat usianya masih sangat muda. Jika dia tidak menikah denganmu dulu, mungkin hasil kebun kopi kami sudah melimpah ruah!"


Orang tuaku menarik Mak Bang Alan yang sudah menyakitiku. "Hingga hari ini kami berusaha menghormatimu sebagai besan. Namun, kami tidak akan diam jika kamu terus menyakiti anak kami!"


Mak menarik pakaian Mak Bang Alan kasar. Hingga pakaian Mak Bang Alan robek dengan ukuran yang besar di lengan.


Mak Bang Alan semakin naik pitam, menarik Mak-ku sampai terjengkang. Aku tak rela melihat Mak ku diperlakukan seperti itu, hingga aku berusaha menarik Mak Bang Alan melepaskannya tetapi dia terjungkang dekat Elena.


Aku segera menolong Mak bangkit. Sementara Mak Bang Alan mengangkat Elena. Elena langsung menangis karena digendong orang yang tidak ada di dalam memorinya.

__ADS_1


"Ibuuuk ... Ibuuk ...."


Elena menangis dengan pekikan yang membahani. Aku segera mencoba menangkupkan kedua tanganku kepada Mak Bang Alan.


"Mak ... Mak ... turun kan Elena Mak. Mak mau pada Elena?"


"Kalian sudah berceraikan? Kalau begitu biar kami yang mengasuh Elena!" Mata Mak Bang Alan menajam dan nafasnya memburu. Elena sungguh ketakutan berada di dalam dekapan Mak Bang Alam.


"Mak ... jangan, Mak. Aku mohon, Mak. Biar kan aku yang merawat Elena, Mak. Bang Alan sudah memiliki anak dengan istrinya itu. Jadi biar kan Elena bersamaku, Mak?"


Mak Bang Alab tidak mengubris permohonanku. Dia mulai bergerak keluar dari rumah ini. Namun, dicegat oleh Bapak.


"Awas, kau! Jika berani menyentuhku! Aku akan memberitahukan seluruh warga dusun bahwa kalian sudah berani mengeroyokku yang sendirian!" Suara Mak Bang Alan benar-benar terdengar lantang menggelegar memecah sunyinya suasana di desa yang berada di lembah rangkaian bukit ini.


"Aku tidak mau punya cucu cacat!" tambah Mak Alan. "Gara-gara Nesya, Alan terjebak oleh wanita sia lan itu. Memberikan anak ca cat yang entah anak siapa. Pokoknya aku akan membawa Elena!" Mak Bang Alan terus melangkah masuk pekarangan.


"Huwaaa ... Ibuk ... Ibuk ...." Tangis Elena terus membuat hatiku pilu.


"Mak, aku mohon jangan bawa Elena, Mak ... Biar kan aku yang mengasuh dan mendidiknya, Mak ...." Aku terus mengejar mereka. Namun, Mak Bang Alan mendorongku.


"Aku akan membawa Elena ke rumah kita!"


Bapak Bang Alan melirik ke arahku yang menangis ketakutan. "Biar kan dia bersaka Nesya. Nesya ibunya, dia terlalu kecil untuk dipisahkan dengan ibunya."


Mak Bang Alan terdengar geram. "Kau jangan ikut campur urusanku. Gara-gara dia tak becus jadi istri, Alan terjebak bersama Dian, wanita mura han itu. Dia jadikan anak kita sebagai pengasuh anaknya yang cacat!"


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Bang Alan? Kenapa ibu kandungnya selalu menyalahkanku? Lalu apa hubungannya dengan Elena? Kenapa Elenaku, mereka ambil? Aku terus mendekat meraih anakku dengan uraian air mata.


"Sudah lah Jani! Itu salah dia sendiri! Kenapa dia lebih memilih wanita itu dari pada Nesya?" Bapak Bang Alan mencoba merebut Elena dari dekapan Mak Bang Alan.


Mak Bang Alan tidak mau, dan terus beranjak dari tempat ini. "Pokoknya aku yang akan merawat Elena. Aku tak ingin memiliki cucu cacat seperti itu!"


"Mak ... Mak?" Aku terus mengikuti langkah Mak Bang Alan. Namun, adik-adik Bang Alan menahanku. Mak Bang Alan semakin menjauh diiringi tangisan Elena yang semakin tinggi.


"Kamu tidak boleh ke rumah kami!" ucap adik-adik Bang Alan mendorongku mundur ke rumah. Setelah itu mereka berlari mengejar ibu mereka yang terus membawa Elena.


Bapak dan Mak mengejar mereka. Aku pun segera bergerak menuju rumah Mak Bang Alan yang berjarak satu kilo dari rumah ini. Aku terus berlari mengejar mereka dalam gelapnya malam. Tempat ini tidak memiliki lampu jalan.

__ADS_1


Aku terus menuju ke arah rumah keluarga Bang Alan yang berada di ilir. Namun, dari kegelapan itu Mak dan Bapak muncul dan menahanku. Mereka menggelengkan kepala.


"Sepertinya malam ini kita tidak bisa je sana. Lebih baik kita tunggu pagi saja. Kita minta kades menyelesaikan masalah ini."


Aku tidak setuju! Jangankan menunggu hingga pagi, kehilangan Elena sejenak saja aku tidak sanggup. Elena sudah terbiasa ke mana-mana ikut denganku.


Aku mengelak dari Mak dan Bapak berlari menuju rumah keluarga Bang Alan. Bapak menahanku. "Nesya! Jalan di sana itu sangat gelap! Dengarkan Bapak!" Suara Bapak sangat tegas kenahan kedua bahuku agar tidak terus bergerak.


"Tapi, Pak? Aku tidak sanggup kehilangan Elena, Pak?"


Bapak mengeratkan genggaman di bahuku. "Dengar kan Bapak! Sekarang kita pulang! Bahaya jika malam ini kita paksakan pergi ke sana!"


Tubuhku langsung terasa lemah. Aku terkulai tak berdaya, terduduk di jalan yang hanya terbuat dari kerikil ini. "Kenapa, Pak? Biarkan aku menjemput Elena ...."


đź’–


đź’–


đź’–


Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.


Napen Author: Mphoon


Judul karya: Ketulusan Hati Sang Istri


BLURB :


Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.


Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.


Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?


Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?


__ADS_1


__ADS_2