
"Awas saja dia nanti kalau ketemu di bawah! Mak sudah menahan diri atas kelakuan ibunya di dusun. Namun, saat mengetahui dia mengkhianati kamu, Mak merasa tidak rela."
Mak menggerutu gara-gara aku salah bicara tadi. Padahal aku tidak bermaksud untuk membuat Mak marah begini. Hanya saja, kata-kata Mak membuatku meragu. Aku tidak ingin untuk kedua kali mengalami pengkhianatan lagi.
Aku pun mengikuti anjuran Mak. Aku segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas ranjang. Aku sengaja ambil posisi di ujung jauh dari suamiku yang menyebalkan itu.
Beberapa waktu terakhir, aku memang kelelahan dan kurang tidur, membuatku jatuh ke dalam mimpi yang entah itu apa. Tubuhku terasa sesak entah kenapa.
Aku terbangun, ternyata Mas Aren tidur memelukku dengan sangat erat. Posisiku yang tadi di pinggir, saat ini berpindah ke tengah dalam pelukannya.
Mas Aren dengan wajah terpejam tampak tersenyum menempelkan pipinya kepadaku. Aku pandangi jam pada dinding yang telah menunjukkan waktu pukul satu siang.
Aroma tubuh suamiku yang awalnya membuatku merasa nyaman, semakin lama membuat perutku semakin bergejolak. Aku mencoba melepaskan diri, tetapi pelukannya malah semakin menjadi.
"Lepaaas ... hmmmpp ...," ucapku melepaskan dekapannya yang begitu erat.
Perutku sudah tidak bisa diajam kompromi, dan tangan itu kulepas paksa. Aku segera menuju kamar mandi, tetapi ... "Huweeeekk, huweeeekk, huweeeekkk!"
Muntah keluar begitu saja sebelum aku sampai di kamar mandi. Suamiku langsung terduduk dan turun dari ranjang.
"Jangan dekat-dekat! Kamu bauk! Huweeekkk."
Mas Aren langsung mengendus pakaian yang ia kenakan. "Iya sih, mandi terakhir kali kemarin pagi." Dia menatap jam dinding. "Berarti sekarang sudah sekitar tiga puluh jam."
Mas Aren segera menuju keluar, dan aku tertinggal dalam keadaan lemas. Melihat tebaran muntah yang bercecer itu membuatku lemes duluan membayangkan proses membersihkannya.
Tubuhku sudah bergetar hebat karena perut yang telah kosong, menjadi semakin kosong. Bahkan, yang keluar hanya cairan berwarna kuning, yang menyisakan rasa pahit di lidahku.
Tubuhku terasa begitu ringan, saking ringannya aku menjadi sedikit sempoyongan. Bagaimana pun juga, aku harus membersihkannya. Taku Elena menginjak dan terjatuh di atasnya.
Tak lama kemudian, suamiku muncul dengan paket peralatan pel. Dia terhenti melihatku yang terus lunglai ke kiri dan ke kanan.
"Kamu mau ke mana?" Dia meletakkan alat pel tersebut langsung menangkapku naik ke dalam gendongannya.
"Kamu istirahat saja." Dia menggendongku hingga kembali naik ke atas ranjang. Setelah itu menyerahkan sekotak tisu agar aku membersihkan mulut dan pakaian yang terkena.
Setelah itu, ia sibuk membersihkan muntahanku barusan. Dia mengerjakannya dengan sangat telaten. Oh iya, dia sudah terbiasa mengerjakan segalanya sendirian. Mas Aren begitu teliti membersihkan semua hingga tak ada lagi sisa muntah dan semuanya menjadi kering.
__ADS_1
Setelah dianggao selesai, Mas Aren membersihkan pel lan di dalam kamar mandi. Tak lama kemudian, ia keluar dan tersenyum padaku.
"Apa senyum-senyum?"
Dia berjalan mendekat. "Menyenangkan sekali mengurus istri yang sakit karena mengandung anakku."
"Istrinya hamil tapi dibikin kesel mulu?"
Mas Aren terdengar menghela napas panjang. Dia mencubit daguku dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. "Iya, maaf. Tadi itu aku bener-bener gak tahan ngantuk berat. Dua belas jam bawain kendaraan dengan tingkat kewaspadaan tiggi."
"Ya udah, pergi aja ke sana lagi? Biar aku sendirian di sini."
Kruuucuuukk
Perutku sudah meronta minta diisi. Mas Aren berdiri dan menengadahkan tangannya. "Ayo, kita makan dulu!"
Tangan itu aku tepis dan beringsut turun dari ranjang. Aku keluar disusul oleh suamiku di belakang. Tangannya sudah berada di kepalaku dan mengacak-acaknya.
"Ternyata apa yang dikatakan dokter tadi memang benar. Kehamilan membuatmu menjadi singa betina yang lagi hamil."
Mas Aren melirik ke arah belakangku. Ternyata di sana ada Mak dan Bapak memandang kami dengan wajah khawatir. Refleks membuatku memeluk suamiku, dan aromanya kembali membuat perutku bergejolak hebat.
Aku menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Aku sudah kehilangan tenaga dan tidak tahu harus mengeluarkan apa lagi. Mas Aren terlihat ragu mendekatiku dan hanya melihatku dengan jarak yang sedikit jauh.
"Sepertinya, aku harus mandi dulu," ucapnya setelah melihat keadaanku.
Mak dan Bapak membantuku duduk di meja makan. "Kamu itu sedang hamil, harusnya kamu mengisi perutmu dengan makanan. Jangan dibiarkan kosong. Kalau kosong, rasa mualnya menjadi semakin menjadi." Mak mengambilkan makanan untukku.
Namun, suamiku belum muncul. Aku merasa tidak enak makan duluan darinya. Aku akan menunggunya
"Ayo makan, selagi hangat. Kalo kelamaan jadi dingin malah jadi kurang nikmat."
"Nunggu suamiku dulu, Mak. Dia usai perjalanan jauh dan belum makan apa pun juga."
"Nanti suamimu mengerti kok. Kondisi kamu ini berbeda dengan yang tidak hamil. Kalau nutrisi yang masuk tersendat-sendat, bisa membuat perkembangan janin menjadi lambat, bagaimana?"
"Benar, kata Mak." Suamiku telah muncul, dan dia terlihat lebih segar.
__ADS_1
"Mak dan Bapak makan juga yuk?" tawar Mas Aren.
"Kami berdua tadi udah, sambil nyuapin Elena," ucap Bapak.
Aku melirik ke kiri dan seluruh ruang di lantai ini. Gadis kecilku tak terlihat sama sekali. "Lalu, saat ini dia ada di mana?"
"Dia kembali main ke rumah Cita, yang orang belakang."
"Yang penting dia sudah makan, tidak apa Mak. Ini bagus juga untuk daya bersosial dengan orang-orang sekitarnya." ucap Mas Aren mengambil piring yang disiapkan Mak untukku.
"Sini, biar aku yang suapin. Buka mulutnya!"
Aku lirik Mak dan Bapak masih berdiri di sekitar sana sembari memperhatikanku. Sendok yang ada di tangan Mas Aren langsung aku rebut. Namun, tangannya refleks menghindar membuatku sedikit membentaknya.
"Aku bisa makannya sendiri!"
Namun, dia semakin semangat mengelak dan tertawa. "Ayo, makan dulu."
"Maluuuu."
"Makan aja? Jarang-jarang suami mau nyuapin istri lho? Bapakmu aja tidak pernah nyuapin Mak." Mak menyikut Bapak, dan hanya dibalas dengan senyuman oleh Bapak.
"Nah tuh kan? Ayo singa betinaku, makan dulu!"
"Nanti kamu ceritakan padaku bagaimana perjalananmu ya? Kalau nggak cerita, nanti aku ngambek."
Mas Aren kembali menarik daguku. "Baik, Sayang. Aku akan cerita semua. Tadi itu bukan karena aku tidak mau. Hanya aku ngantuk banget seperti yang telah kamu lihat. Aku tepar dan tidak bisa lagi nahan kantuk. Makanya aku buru-buru pulang saja."
Mas Aren menyuapkan nasi dengan lauk sup daging yang telah dimasak oleh Mak, tadi pagi. Disela ia menyuapkan makanan, Aren menceritakan semua pengalaman saat berada di kota provinsi sebelah.
"Nanti, pihak sana akan melakukan inovasi di kampus kita. Jadi, lumayan bagus hasil pekerjaan dari pihak sana."
"Terus dengan yang perempuan kemarin bagaimana?"
"Maksud kamu bu Rezi? Dia baik kok. Kamu jangan khawatir kan dia. Dia udah pulang dengan selamat." ucap Suamiku tak terputus terus menyuapkanku makanan-makanan itu.
"Aku tidak menanyakan itu, aku hanya memastikan kalian tidak ngapa-ngapain di sana yang berduaan doang kan?"
__ADS_1