Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-56.


__ADS_3

"Aku sudah sangat lama tidak berjumpa dengannya. Akhir-akhir ini dia lebih sibuk dibanding biasanya." Wajahnya tampak layu dengan seketika.


"Sesibuk apakah? Apakah boss nya itu masih sibuk meminta dia menjadi pengasuh Dilan?" tanyaku penasaran.


Lingga mengedikkan bahu. "Sepertinya kesibukannya melebihi para CEO yang ada di muka bumi ini. Ia bekerja dari pagi hingga pagi lagi."


Entah kenapa aku teringat akan masa lalu yang ditipu mentah-mentah karena kebodohanku yang tidak pernah berani menanyakan pekerjaan Bang Alan yang sebenarnya. "Emangnya bos nya itu memberi pekerjaan apa padanya?"


Lingga membulatkan bibir, memasang wajah murung, dan mengangkat bahunya. "Aku pernah menanyakannya, tetapi dia terus berdalih menceritakan hal lain hingga aku pun lupa dengan pertanyaan itu."


"Apa kamu bener-bener cinta pada Bang Alan?" tanyaku kembali.


"Entah lah. Bahkan aku lupa bagaimana membedakan rasa cinta itu saat ini," gumamnya sembari menyeruput minuman yang telah aku siapkan.


Aku mengusap punggung tangannya yang layu di atas meja. "Kamu yang sabar ya! Selagi masih belum terlalu terikat, lebih baik kamu akhiri hubunganmu dengannya."


Lingga melirikku sejenak, lalu mengangkat kedua tangannya menutupi wajah seakan menyesali sesuatu. "Aaagghhh!"


"Kamu kenapa?"


Lingga bangkit dan menarik tali tas dan menggantungkannya pada salah satu sisi pundak. "Aku balik dulu." Lingga membelakangiku dan punggungnya terlihat bergetar, persis sama seperti hari-hariku bersama Bang Alan dulu. Lingga melangkah cepat dan mulai menjauh.


"Kenapa buru-buru?" ucapku mengejarnya.


Buugh


Tiba-tiba Lingga berhenti secara mendadak membuatku tak sengaja menabraknya dari belakang. Wajah Lingga menatap lurus melihat seseorang yang hadir di depan pintu tokoku.


"Bang Alan?" desisnya.


Aku segera beralih pandang pada wajah pria yang ditatap oleh Lingga. Kali ini dia terlihat sangat rapi, menggunakan kemeja yang masuk ke dalam celana jins dengan rambut yang tersisir rapi juga.


"Kenapa ke sini? Bukan kah kamu bilang kamu sedang sibuk?" sambung Lingga lagi.


Namun, pria yang ada di hadapan temanku itu memasang wajah kaget, karena terpergok telah membohongi sang kekasih. Netra coklatnya bergantian menatapku dan Lingga yang memandang wajahnya tanpa berkedip sedikit pun.


"A-aku hanya kebetulan sedang kosong," ucapnya gelagapan melirikku.


Mata Lingga akhirnya beralih melirikku. Dengan cepat Lingga menarik pergelangan tanganku mendekati Bang Alan yang masih mematung melihat tindak tanduk Lingga yang tidak terbaca. Tangannya yang lain kini menarik Bang Alan menjauh dari beranda toko.

__ADS_1


"Katakan padaku! Apa kalian memang sering bertemu tanpa sepengetahuan aku?" bentaknya setelah membanting kedua tangan kami dengan kasar.


"Dia memang sering ke sini. Kamu sendiri tahu kan, Elena adalah anaknya juga," ucapku apa adanya.


Aku lirik Bang Alan, dia hanya membisu. Entah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini. Namun, akhirnya dia hanya mengeluarkan sekotak rokok yang ada di dalam celananya, lalu membakarnya di hadapan kami.


"Aku rasa, selama kita belum terikat satu sama lain, aku bebas menemui siapa saja di dalam hidupku," ucapnya di sela menghisap rokok dan menghembuskan asapnya kembali.


Lingga melirikku dengan nanar. "Jadi begini selama ini? Kamu sering menemuinya diam-diam?"


"Apa maksudmu? Kenapa aku menemuinya diam-diam? Bukan kah kamu sudah tahu semenjak awal bahwa dia adalah ayah kandung Elena, anakku?"


Wajah Lingga berubah sinis menatapku bergantian dengan Bang Alan. "Alaaah! Sekarang aku tahu alasanmu menyuruhku mengakhiri hubungan dengannya. Katakan saja bahwa sebenarnya kamu lagi main dengannya karena saat ini suamimu itu ca—"


Plaaak


"Apa maksudmu?" tanganku refleks memberikan sentuhan halus pada pipi Lingga. "Kamu pikir aku sepicik itu?"


Lalu aku mendekati Bang Alan menarik rokok yang masih panjang terjepit di antara jemarinya, lalu ku lempar ke bawah dan menginjaknya karena kesal.


"Aku pikir kamu benar-benar sudah berubah! Namun, sekarang aku mengerti. Mengubah watak manusia itu tidak semudah membalikkan telapak tangan."


"Ha ha ha! Apa? Bekas orang lain? Kau pikir aku sudi kembali padamu?" Telunjukku lurus mengacung pada wajahnya.


"Meski suamiku cacat, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Asal kau tahu saja! Dia itu seribu kali jauh lebih baik dibanding denganmu! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mendapat gelar bekas dari suamiku sekarang. Cukup lah sekali gagal dalam bahtera bersamamu! Lelaki tak tahu diri dengan kepala besar yang belum sadar—"


Luapan amarahku terhenti karena Bang Alan menjepit pipiku menggunakan dua jarinya dengan kasar. "Kau tahu, aku sudah menahan banyak kesakitan dalam hati karena kelakuan dan semua ucapanmu yang bagai berada di atas angin! Namun, kali ini aku tak ak—"


Bugh


"Aaaaghhh!" teriak Bang Alan.


Kakiku mendarat tepat di ulu hati Bang Alan. Tangan yang tadi menjepit pipiku dengan kasar, kini terlepas beralih memegangi perutnya yang sakit mendapat tendangan kakiku yang sudah lama tidak terlatih.


"Ups, sorry ... anggota tubuhku tak rela dipegang oleh tangan kotor milikmu itu!"


Aku beralih bergerak mendekati Lingga. "Sepertinya aku tidak bisa lagi menyembunyikan alasan untuk berpisah dengannya."


"Katakan saja kalau kamu masih menyukainya!" teriak Lingga meluapkan amarahnya padaku.

__ADS_1


"Asal kamu tahu saja, Ga. Aku sangat bersyukur berpisah dengan parasit seperti dia. Oleh karena itu, aku selalu menyuruhmu untuk mengakhiri hubungan dengannya. Dia bukan lelaki baik seperti apa yang kamu pikirkan!"


Aku lirik Bang Alan yang masih mengaduh memegangi perutnya. "Lebih baik kamu lepaskan dia! Dia hanya seorang gi ... go ... lo!"


Wajah Lingga menegang dengan seketika. Matanya membulat, tersentak tak percaya. "Apa yang kamu katakan?"


"Aku memilih bercerai darinya karena dia hanyalah seorang gi gooo lo! Aku tak pernah menyesal sama sekali berakhir dengannya. Hidupku saat ini jauh lebih bahagia, setelah membuangnya dari kehidupanku!"


Bang Alan melirikku di sela kesakitan pada bagian ulu hatinya. "Ternyata begitu?" Bang Alan mencoba bangkit, dan aku lihat Lingga memasang wajah kasihan kepada Bang Alan.


"Jadi aku benar-benar tidak memiliki kesempatan sama sekali meski suamimu hanyalah pria buta tak bergu—"


"Diam kau! Satu-satunya pria tak berguna yang aku kenal adalah kau! Mas Aren selalu membuatku bahagia. Meskipun tak bisa melihat, dia selalu berusaha memberikan semua yang tak pernah kau berikan padaku!"


Raut Bang Alan yang tadinya kusut, perlahan menjadi lebih lunak, ia merenung dalam waktu yang panjang. Sementara itu, Lingga masih terlihat tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Segala hal yang aku simpan sendiri, akhirnya lepas dengan begitu saja.


"Akhirnya aku mendengar sendiri alasan itu dari mulutmu. Ternyata dia—"


Aku langsung mendekap Lingga. "Sudah lah Ga, dia tak pantas untuk diberi cinta sejatimu! Dia tidak mengerti arti cinta yang sebenarnya! Dia hanya akan terus memanfaatkanmu karena dia tahu berapa besar cintamu padanya."


"Sudah lah! Apa kau belum puas dalam menghinaku?" gumam Bang Alan.


"Pergi lah! Jangan pernah perlihatkan wajahmu lagi! Apa aku pernah mengatakan bahwa aku sudah muak melihat wajahmu itu?"


Sekali lagi wajah Bang Alan tertegun mendengar ucapan yang tak pernah keluar sebelumnya dari mulut ini. Beberapa waktu hening menyapa kami tanpa ada patah pun kata yang keluar.


"Baik lah ... sepertinya aku sudah terlalu buruk matamu. Aku akan pergi. Aku tak akan pernah menampakkan diri lagi di hadapanmu." Bang Alan menatap Lingga dengan dalam.


"Lingga, maafkan aku jika hubungan kita ini sungguh berat dan menyakitkan bagimu. Kamu boleh mengakhiri hubungan kita. Aku pun tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu." Bang Alan berjalan mundur masih memegangi perutnya lalu memutar tubuhnya.


"Lain kali, aku akan mengirimkan surat untuk Elena, aku harap kamu tidak membuangnya dan menyerahkannya kepada Elena. Namun, sepertinya dia tidak akan memgingatku sebagai ayahnya lagi karena posisiku benar-benar telah terganti olehnya."


Bang Alan mulai melangkahkan kakinya satu per satu menjauhi kami. Melihat langkahnya terseok menahan rasa sakit karena kakiku tadi, ada rasa bersalah muncul dalam hatiku. Bagaimana pun juga, dia adalah ayah kandung putri cantikku, Elena.


Aku mengajak Lingga kembali masuk ke dalam laundry. Namun, aku melihat suamiku tengah berdiri mematung di pintu toko.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2