
(Othornya masih capek ... nulis ini aja udah setengah ketiduran. Maaf kalau singkat yaaa 🙏đź¤)
"Ooh ... namanya minispy?"
Dia mengangguk dan melirik kembali pada setiap bagian ruang kerja yang dipenuhi oleh karyawan-karyawan yang sibuk dengan aktifitasnya.
"Kamu mau apa ikuti aku ke sini?"
Matanya masih sibuk memperhatikan segala hal yang ada di laundry ini. Sepertinya dia ingin mencari-cari satu informasi di sini. Aku lihat waktu pada jam tangan.
"Aaah ... sial!"
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Sepertinya aku terlambat?"
Dia mengerutkan kening. "Apa lagi?"
Aku tak sempat menjelaskan padanya. Lalu seorang gadis kecil yang tadi menghilang berlari kecil menuju ke arahku.
"Ibuuuk udah pulang?" Bibirnya terulas cengiran khas balita yang menggemaskan.
"Iya, Ibuk udah pulang." Kuusap rambutnya yang tengah memeluk kakiku.
"Nanti Ibu balik ke cekola lagi?"
__ADS_1
"Enggak, hari ini Ibuk selesai."
"Horeeeeee ..." Elena memalingkan wajahnya melihat seseorang.
"Papaaa?" Dengan lincah dia bergerak dan langsung menarik jemari Bang Alven. Sepertinya Elena sudah salah duga.
Akan tetapi, pria yang satu ini hanya sekedar melirik tanpa merespon. Sehingga membuat Elena semakin menariknya.
"Kok Papa diam saja?"
"Papaaaa ...."
Pria itu masih tidak merespon diam dalam wajah datar. Elena terlihat kecewa pada pria yang disangkanya Pak Arendra ini.
"Pak Alendla ciapa, Buk?"
"Itu tu, yang tadi pagi Elena peluk---"
"Siapa yang dipeluk Elena? Mas Aren?" Bang Alven menyela percakapan kami.
"Itu kan Papa, Buk? Ayo panggil Papa ..." Elena mulai bergelayut di kakiku karena ada maunya.
Aku lihat kembali seseorang itu. Dia yang diam-diam mencuri isi kotak keuanganku. Namun, dia seperti tengah sibuk dengan pekerjaan mengawasi para karyawan.
Apa yang harus aku lakukan ya? Aaaarggg ... aku acak kepala karena pusing sendiri memikirkannya. Apa langsung saja aku tendang agar dia tidak terus menjadi duri dalam daging pada bisnis yang aku buka ini.
__ADS_1
"Buuuk ... Buukkk ... boyeh Eyena main lagi cama teman-teman?" Elena mengejutkan diri yang berada dalam lamunan.
"Boleh, Sayang. Tapi Elena gak boleh main di jalan dan gak boleh nyebrang ya? Mainnya anteng di rumah Cecil aja ya?"
Elena menganggukan kepala dan berlari keluar menuju arah rumah pemilik ruko ini yang berada tepat di belakang bangunan ini.
Sementara aku menuju ke bagian atas tempat yang aku jadikan rumah. Namun, seorang tadi diam-diam terus mengikuti.
"Kamu mau ke mana?" tanyaku padanya.
"Sepertinya kamu ada masalah ya? Hingga menggunakan miniispy itu?"
"Yaaa ... masalah kecil yang lama-lama bisa menjadi masalah besar ini. Aku bingung harus bagaimana."
Pria itu tanpa permisi duduk begitu saja di sofa yang ada. Dia mengeluarkan laptop dari dalam tas. Setelah itu dia meminta agar perangkat androidku bisa dihubungkan dengan laptop miliknya.
Aku yang gaptek tak tahu apa-apa ini hanya bisa mnyerahkan ponsel kepadanya. Aku tak tahu bagaimana cara menghubungkan dua benda itu. Yaa, aku biarkan dia yang mengurusnya sendiri.
Beberapa waktu ponselku diotak-atik oleh Bang Alven, dan layar CCTV itu telah beralih pada LCD laptopnya. Aku pura-pura tenang saat melihat aksi itu kembali.
"Kenapa tidak langsung kamu labrak?" tanyanya.
"Aku sebenarnya bingung, Bang. Labrak nggak ya? Aku tak tahu bagaimana bersikap."
"Apa perlu aku yang membantumu untuk menyelesaikannya?"
__ADS_1