Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-40. (Author ngantuk)


__ADS_3

"Kenapa kamu menanyakan itu?" Mas Aren meletakkan kembali sendok di atas piring.


Kedua tangannya ditangkupkan pada kedua pipi Nesya. "Aku tahu, kamu marah padaku. Aku pun pantas mendapatkannya. Hanya saja, kamu membuatku sedih karena kamu tidak memercayaiku sebagai suami yang tidak mudah berpaling."


"Aku tahu, hormon kehamilan membuatmu yang terlalu berlebihan lah yang membuatmu gampang marah-marah seperti ini. Akan berusaha untuk memahami."


"Aku hanya ingin mengingatkanmu, bahwa aku ini bukan lah pria yang mudah berpaling. Jika seperti itu, mungkin semenjak dulu aku tidak memilihmu sebagai istri."


"Kamu harusnya bangga dong, bisa menakhlukkan aku. Jika tidak, hingga saat ini mungkin aku akan tetap membujang sampai lapuk."


Mas Aren berusaha tersenyum selebar mungkin. Namun, yang ada membuat perasaan kesalku semakin menjadi.


"Siapa—"


Belum usai aku berbicara, Mas Aren menjepit bibirku dengan dua jarinya. "Kamu dilarang bicara! Kamu hanya boleh membuka mulut untuk menerima suapanku."


"Aaak!" Mas Aren mempraktikkan cara membuka mulut seperti saat mengajar kan Elena makan dulu.

__ADS_1


Dengan aneh, aku menurut saja membuka mulut mengikuti caranya. Satu suapan kembali masuk ke dalam mulutku.


"Elena juga mau disuapin Papa!"


Sebuah suara kecil berasal dari arah tangga, langsung berlari kecil mengejar suamiku. "Duh, si cantik ke mana aja? Ngilang seharian, main terus? Papa kangen banget sama putri kecil nan cantik ini."


Mas Aren menaikkan Elena ke atas pangkuannya. "Elena mau disuapin Papa?"


Gadis kecil itu mengangguk dan membuka mulutnya. Suapan pun masuk dengan berantakkan karena sang gadis kecil berada dalam pangkuan, membuat suamiku sedikit kesulitan dalam menyuapinya.


"Sini, duduk sama Ibuk. Biar Papa gampang nyuapin kamu."


"Sekarang giliran Ibuk." Suamiku melayangkan sendok tepat di hadapanku.


Sendok itu aku rebut. "Giliran Papa yang makan lagi ya?" Giliran aku menyuapkan Mas Aren.


Saat teringat kelakuannya yang menyebalkan, suapan demi suapan suapan tak henti masuk ke dalam mulutnya. Dia telah memberi kode agar aku menyuapi Elena. Namun, tangan ini tak bisa dihentikan untuk terus memenuhi ruang kosong di dalam mulutnya.

__ADS_1


"Huk ... Huk ... Huk ...." Ia telah menyerah dan menarik gelas memaksakan makanan-makanan itu terdorong melewati kerongkongan. Dia memukul-mukul dada sesak seakan semuanya akan keluar.


"Buk, Elena juga mau mamam," ucap gadis kecil yang ada di dalam pangkuannya.


"Oh iya, Sayang. Maaf ya?" Sementara untuk Elena kuberikan dengan sangat baik.


"Enak, Buk. Elena suka sekali makan soup."


Aku hanya membelai rambut Elena. Aku perhatikan kembali raut wajah Mas Aren. Dia terlihat begitu pasrah. Meminum air berkali-kali hingga benar-benar memenuhi lambung tidak sanggup lagi hendak berbuat apa.


"Sebenarnya kamu ini mau nyuapin aku apa mau balas dendam sih?" gumamnya.


"Coba pikirkan sendiri!"


Setelah itu, Aku memilih bangkit. Akan tetapi Elena menarik lenganku.


"Ibuk, kenapa marah-marah terus kepada Papa? Papa kan sudah capek nyari uang. Ibuk tidak boleh marah-marah lagi ya?"

__ADS_1


Kepala gadis kecil ini menengadah mengusap dada Mas Aren naik turun. "Cup ... Cup ... Cup ... Kasian Papa ... Ibuk itu masih kecil, tolong dimaafin ya?" Elena kembali menusapkan tangannya, khawatir masih akan tersedak lagi.


Elena merebut sendok yang ada pada tanganku. "Giliranku yang menyuapka


__ADS_2