Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-6. Kamu di mana?


__ADS_3

"Sudah lah, Mas. Aku sudah tidak bisa mengikuti sandiwara mu. Cukup lah, Mas. Aku merasa tidak sanggup lagi jika harus tersakiti kembali."


Begitu lah kata yang dikeluarkan oleh mulut istriku. Sepertinya dia tidak memercayai ketulusan cintaku yang hanya untuk dirinya. Hasrat untuk menjelaskan kesalahpahaman ini seketika buyar.


Aku pun berhenti, tidak lagi mendorong pintu yang ingin dikuncinya. Sampai kapan dia begini? Apakah satu kali kesalahan itu membuatnya tidak akan membuatnya tidak memercayaiku?


Aku masuk kembali ke kamar kami merapikan segala kekusutan yang dibuat oleh Elena. Padahal aku ingin menceritakannya usai mandi pada Nesya, tetapi sudah keduluan karena Elena membongkar semua isi tas ku.


Namun, aku merasa sangat kecewa dengan reaksinya yang seperti itu. Apakah hanya sebatas itu dia memikirkan ketulusanku yang sangat mencintainya?


"Papa, kenapa ibuk kunci pintu lagi? Kita kan belom makan, Pa?"


Gadis kecil yang sudah kuanggap sebagai putri kandungku ini naik ke pangkuanku. Hal ini menyadarkanku bahwa aku tak bisa lagi seperti dulu. Aku bukan lagi laki-laki bujang yang bisa berlaku sesuka hati.


Aku belai rambut panjang Elena. "Mungkin Ibuk sedang menyiapkan kejutan buat Papa."


"Kejutan?" Wajahnya terlihat cukup bingung. "Kejutan itu apa, Pa?"


"Kejutan itu seperti sesuatu yang menyenangkan, tetapi dirahasiakan dulu oleh Ibuk." terangku asal. Apa dia paham dengan ucapanku?


Mata Elena terlihat mengawang, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Apa Papa berulang tahun hari ini?"


"Wah, Elena hebat? Ternyata Elena tahu hari ini Papa berulang tahun." ucapku bohong. Aku tidak ingin mengecewakan gadis kecil ini yang tengah asik dengan imajinasinya.


"Horeeee, nanti Elena ikut tiup lilinnya ya, Pa." Lalu mata Elena berbinar mencari sesuatu yang lain.


"Mana kue ulang tahunnya?"

__ADS_1


Aaah, ya ... dia masih asik berimajinasi sampai aku pun melupakan hal yang penting itu untuk sebuah acara ulang tahun.


"Nanti kalau Ibuk sudah keluar dari persembunyian, kita akan beli kue nya. Kita makan di luar sekalian aja."


Elena terlihat girang, dia beringsut turun dan segera berlari kecil keluar dari kamar kami. Aku pun mendengar suara Elena mengetuk kembali pintu di mana Nesya mengurung diri. Suara Elena terdengar begitu bersemangat meminta ibunya membukakan pintu.


Aku merebahkan diri di atas kasur. Aku pikir, meskipun Nesya masih berusia cukup muda, dia akan jadi lebih dewasa karena sudah memiliki pengalaman menikah sebelumnya.


Aah, sepertinya aku harus memberikan dia waktu ..., aku tidak boleh memikirkan hal yang buruk. Bagaimana pun aku sangat mencintainya.


*


*


*


Keesokan paginya, Nesya memilih berangkat ke kampus secara terpisah. Awalnya tentu membuatku marah, dia seperti ingin terus menghindariku semenjak semalam.


Baik lah ... kali ini aku biarkan dia berangkat sendirian. Namun, kenapa aku tidak melihat Nesya sama sekali di kampus? Ke mana dia?


Saat pulang pun aku tidak melihatnya sama sekali. Apakah dia batal ke kampus? Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali?


Dengan perasaan gusar aku melajukan kendaraan pulang menuju ke ruko. Namun, sebuah kenyataan mengejutkan yang aku dapatkan dari Vina. Dia mengatakan bahwa Nesya belum kembali semenjak berangkat dari kampus tadi.


"Kenapa tidak barengan? Apa kalian berantem?" tanya Vina kepadaku.


Aku rasa ini bukan makanan bagi Vina atau pun karyawan lain laundry ini. Tanpa berpikir panjang, aku segera menekan kontak istriku. Namun, ponselnya tidak aktif.

__ADS_1


"Papaaaa, Ibuk mana? Kenapa tidak pulang bareng Ibuk?"


Elena langsung kunaikkan ke dalam gendongang. "Oh, Ibuk lagi belikan kue yang kemarin."


Elena bertepuk tangan senang dengan bualan yang aku buat. Aku sudah mulai ragu ini salah atau benar. Yang jelas aku merasa khawatir, dan tidak ingin membuat gadis kecil ini khawatir.


Sayang, kamu berada di mana?


Hingga malam datang, Nesya belum juga datang. Aku mulai panik memikirkan ke mana dia menghilang? Apa yang terjadi padanya?


Malam itu juga aku putuskan untuk mencari kekasih hatiku, Nesya. Elena sudah tertidur saat aku membawa dan ingin menitipkannya kepada kedua orang tuaku.


"Ma, aku titip Elena dulu ya. Nanti aku jemput kembali setelah menjemput istriku."


"Lhoh? Emang Nesya ke mana malam-malam begini?" tanya Mamaku ikut panik.


"Ooh, tadi dia pergi mencari sesuatu. Akan tetapi dia tidak mau kutemani. Aku ingin menyusulnya saja." Aku sengaja berbohong agar tidak membuat keluarga lainnya panik dan kepikiran.


"Ooh, seharusnya kamu temenin istrimu ke mana pun dong? Jangan dibiarkan ke mana-mana sendiri! Istrimu jadi tanggung jawabmu lho?"


Ucapan Mama benar-benar menohok perasaanku. Ini memang salahku, harusnya aku tidak mendiamkannya seperti itu. Padahal aku ingin menunggu waktu yang tepat. Akan tetapi, ternyata aku salah langkah.


Seharusnya aku langsung mengomunikasikan semuan kepada Nesya ... istriku, maafkan aku. Kamu di mana?


Setelah selesai diintrogasi oleh Mama, aku pun segera mendatangi pihak kepolisian. Suatu berita mengejutkan yang aku dapatkan dan membuatku tidak percaya.


Seorang polisi mengantarkanku ke sebuah rumah sakit, memperlihatkan sosok perempuan diperban karena mengalami pembegalan.

__ADS_1


"Motor, ponsel, dompet beserta tas yang dibawanya raib dibawa oleh pembegal. Jadi kami benar-benar bingung harus mencari keluarga Mbak ini ke mana." terang polisi.


"Tidak mungkin, Pak. Istri saya jago bela diri."


__ADS_2