Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
61. Pengawal yang kecolongan


__ADS_3

"Sudah berkali-kali saya bilang, Bapak itu dosen saya. Tak mungkin dong, saya tidak sopan?"


Dia masih bersikukuh tetap memanggilku dengan Bapak. Aah, kapan harus diganti jadi Mas? Bang juga boleh? Kakak juga boleh, atau Dang? Panggilang khas warga dusun, boleh banget ....


Dia menatapku sejenak. Lalu dia mendekat dan membungkukan tubuhnya melihat ke arahku dengan lekat.


"Sakit ya, Pak?"


"Apanya?" Wajahnya terlalu dekat. Aduh ... dia mau apa?


"Lukanya sudah diobati belum?" Dia beranjak menuju satu tempat di pojok rumah.


"Ini hanya luka kecil. Tak seberapa kok."


Dia mendekat membawa kotak P3K dan mengeluarkan cairan pembersih lalu ditempelkan pada luka, setelah itu dia mengolesi obat berbentuk jel bewarna bening.


"Ini adem kok, Pak. Bikin luka cepat sembuh juga."


Aku mengangguk memperhatikan ekspresinya yang tengah serius membersihkan luka dan lebam yang aku dapat. Karena ini lah, Pak Suhandi marah besar padaku.


Seharian ini aku diceramahi habis-habisan oleh beliau. Bahkan, aku mendapat SP gara-gara kejadian tersebut membooming karena menyangkut mengenai tenaga pendidik sepertiku. Belum lagi jika aku pulang, mama pasti akan menatarku. Hmm ... pulang ke mana ya malam ini?


Setelah menyelesaikan pemberian obat, dia kembali ke dapur. Dia terlihat sangat cekatan, tidak bisa duduk diam barang semenit pun.


Hah, akhirnya perutku terisi oleh nasi goreng buatan Nesya. Masalah hari ini benar-benar membuat perutku kelaparan luar biasa. Nasi goreng sederhana buatan Nesya terasa begitu nikmat di lidah. Atau ini yang dinamakan makanan rumahan yang lezat?


Lidah ini sudah terlalu kebal dengan segala cita rasa, karena selalu dan selalu makan menu catering yang dipesan Mama. Sepertinya aku juga ingin, saat menikah nanti istriku memasak makanan untukku.


Aku lihat Nesya sudah sibuk membereskan dan membersihkan peralatan dapurnya. Di rumahku, semua dilakukan sendiri-sendiri. Cuci peralatan makan pun kami lakukan sendiri. Pokoknya semua harus kami urus sendiri segalanya. Tak ada yang namanya menyewa ART secara khusus. Semua yang ada di rumah itu adalah ART.


Setelah dilayani seperti ini, ada perasaan nyaman muncul dalam diriku. Aku pun harus bisa membuatnya nyaman. Seperti tips yang aku baca, janda akan klepek-klepek bila bisa membuatnya merasa nyaman.


Aku pun bergerak menuju dapur. Dia pasti memiliki alasan, kenapa hanya memasak nasi goreng untuk makan malam. Aku buka kulkas, ternyata kosong.


bruuk


Kulkas ditutup paksa oleh si penghuni rumah ini. "Waah, tidak sopan yaa, memeriksa peralatan orang lain?"


"Hmmm, kenapa tidak belanja?"


"Aku hanya bisa belanja tiap hari Minggu. Bapak lihat sendiri jam tayangku padat banget. Jadi gak sempet belanja."


Hmmm ... benar juga sih. Dia pasti tidak memiliki banyak waktu walau sekedar untuk membeli bahan kebutuhan. "Yuk, belanja sekarang?!"


"Sekarang?" Wajahnya terlihat heran. Dia pasti tidak pernah pergi ke pasar saat malam hari. Aku juga belum pernah sih, tetapi kasihan juga kalau Elena cuma diberi makanan kurang gizi tiap hari.

__ADS_1


"Malam-malam gini rame juga lho." Entah lah, aku hanya ngarang.


"Tapi Elena?"


"Saat kamu belanja, biar aku yang bawa dia."


"Yakin? Nanti dia tidur malah bikin Bapak repot lho."


"Kamu tak usah kawatir. Serahkan saja padaku!" Aku harus bisa membuatnya yakin.


"Yuk, ke pasar!" Lalu aku gendong Elena. "Elena mau jalan-jalan naik mobil Papa ga?"


"Iya ... Eyena mau ... Eyena mau alan-alan cama Papa." Elena memelukku. Sudah kayak ayah sungguhan mungkin.


"Baik lah, ayo kita beli semua bahan." Akhirnya dia setuju dan membawa perlengkapan dan keranjang belanja.


"Ayo kita ke supermarket aja, biar belanjanya nyaman dan aman!" ucapku hendak memarkirkan kendaraan di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.


"Jangan, Pak. Di sana mahal semua!" Ternyata dia menolak.


"Lalu?"


"Ke pasar minggu aja, coba kita tengok."


"Nanti aman nggak?" Aku merasa sedikit ragu. Seperti yang aku katakan tadi, belum pernah ke pasar malam-malam begini.


"Hah? Maksudnya ditinggal di mobil?"


"Aku tinggal kalian berdua di sini. Biar aku saja yang belanja."


Waahh, tidak bisa begitu. Sudah malam begini, aku harus menjadi pengawal bagi sang putri. "Aku ikut saja."


Aku pun mengikuti nyonya besar yang sibuk berbelanja demi kebutuhan keluarga kami, maksudnya kebutuhan untuknya dan Elena. Aku sebagai bodyguard mengikuti langkahnya di belakang.


Sebenarnya aku ingin membayarkan apa yang dibelinya, hanya saja aku tidak bisa mengeluarkan dompet karena kedua tanganku sudah sibuk menahan tubuh Elena yang tidur dengan lelap. Saat digendong, tidurnya malah semakin nyenyak.


bugghh


Seseorang menabrakku hingga Elena hampir terlepas. Lalu aku merasa geli dibagian kantong celana dan segera memeriksanya. Aku mendapati sebuah tangan sedang merogoh kantongku.


"Mau jambret?"


Ternyata dia pria kecil bertubuh kurus yang meabrakku tadi. Dia menarik tangannya yang sudah dalam genggamanku. Dia berlari tunggang langgang berhasil membawa dompet milikku.


"MALIIING"

__ADS_1


Aku pun mengejar maling itu hingga membuat Elena terbangun. Dia memeluk erat leherku karena merasa gamang. Sepertinya di belakangku, Nesya juga turut berlari mengejar maling itu.


Berlari sambil menggendong begini membuat gerakanku tidak leluasa. Sehingga, Nesya berhasil mendahuluiku berlari sambil tangan memegang keranjang belanja.


"Pak ... Pak ... tolong saya mengejar jambret itu!" pintaku kepada beberapa orang yang ada di sana.


"Mana jambretnya? Mana jambretnya?"


"Di sana, Pak! Ke arah sana!" Aku menunjuk arah bayangan Nesya berlari.


Namun tujuan lari mereka malah semakin ke tempat sepi. Nesya sudah terengah tertinggal jauh.


"Kamu tidak apa-apa?"


Dia masih belum bisa menjawab pertanyaannku. Nesya terus mengatur nafas sebaik mungkin.


"Kemana jambretnya?" tanya beberapa pria yang tadi ikut berlari tadi. Nesya menggelengkan kepala.


"Maaf ya, Pak. Gara-gara saya, Bapak malah kehilangan dompet. Apakah isinya sangat banyak?" ucapnya padaku.


"Isinya sih tidak saya ambil pusing. Namun, yang saya khawatirkan ialah surat-surat dan kartu penting yang ada di dalam sana."


"Waduuuh, gimana dooong?" rengeknya sedikit menyesal.


Lalu pria kecil tadi yang mencuri dompetku kembali dengan beraninya menantang kami semua.


"Kuat juga nyali lu, Bang mengejar sampai ke sini!"


"Hahahaha."


"Hahahaha."


Terdengar suara tawa dari arah belakang. Kami berdua berbalik melihat siapa yang tertawa. Ternyata yang tertawa adalah kawanan jambret tadi. Mereka adalah orang-orang yang ikut berlari bersama kami.


Mereka pura-pura ingin menolong, ternyata hanya untuk menjebak kami. Oh, Tuhan. Apa yang akan terjadi pada kami bertiga?


"Ibuuuuk ... Ibuuuk ..." Elena mulai minta turun beralih pada Nesya.


"Nah, serahkan segala harta yang kalian miliki sekarang juga!" hardik pria yang yang berusia sekitar empat puluhan di sana.


Mungkin sebenarnya dia lah ketua dari komplotan ini. Aku meminta Nesya membawa Elena ketempat yang aman, jauh dari mereka. Aku akan mencoba bernegosiasi dulu agar kami bisa dilepaskan.


"Bang, lepaskan kami bertiga! Abang boleh membawa semua uang yang saya miliki, tapi tolong ... surat dan kartu yang ada dikembalikan!"


"Saya janji tidak akan melaporkan Abang-Abang semua ke polisi."

__ADS_1


"Hahaha, lu pikir masih bisa bernegosiasi seperti ini dengan kami semua?"


__ADS_2