Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-25. (pov Alven)


__ADS_3

"Nesya, Aren ... Kapan rencana nambah momongan? Jangan sampai keburu Alven nikah, kalian masih belum punya momongan juga." ucap mamaku karena melihat pertengkaran dua pria paruh baya yang berebut bermain dengan cucu.


"Waah, Alven udah mau nikah? Sama siapa?" Mas Aren refleks menanyakan ulang.


Boro-boro mau nikah, aku lirik kembali ke arah Nesya yang terlihat sangat cantik dengan kebaya yang dia gunakan. Hmmm, aku harus melupakan perasaan ini. Namun, aku harus bagaimana untuk menatanya?


Seharusnya aku tidak boleh pulang sebelum segala rasa yang aku punya benar-benar musnah. Namun, Profeser Surya malah memintaku untuk mengerjakan proyek bersama, dengan iming-iming nilai yang bagus untuk mata kuliah beliau.


Namun, kenapa harus begini? Aku yang sengaja untuk tidak datang pada saat pernikahan mereka malah harus mengalami kenyataan yang seperti ini. Orang yang aku hindari, malah terlihat sangat mesra dengan saudaraku satu-satunya.


Aah, cinta ... Bulshiiit!


"Apa kamu sudah memiliki kekasih baru Ven?" tanya Mas Aren. Bibirnya terulas sebuah senyum culas, apa perasaanku saja yang merasakan begitu? Aku merasa Mas Aren meledek ku karena dia lah yang berhasil memenangkan hati Nesya. Bukan aku yang masih susah untuk melupakan perasaan ini.


Memang, cinta tak dapat untuk dipaksa.


Aku berdiri di atas kata tak bahwa cinta tak harus memilki.

__ADS_1


Mengalah untuk kebahagiaan dia.


Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan, melihatnya dari jauh seperti orang bodoh. Aku tulus mengharapkan kebahagiaan untuk mereka. Meskipun aku menjadi semakin terluka kareka kebahagiaannya.


"Alven? Saat ini kamu dekat dengan siapa?"


Ah, pertanyaan itu hanya akan menjadi pertanyaan tanpa jawaban. Lebih baik aku masuk ke dalam kamar untuk bersembunyi dari kenyataan.


Setelah berada di dalam kamar, aku pastikan pintu kamar terkunci agar tak ada yang semena-mena masuk ke dalam kamarku. Akhirnya aku mengunci diri hingga malam.


Panggilan dari Profesor pun datang, untuk melanjutkan pembahasan proyek yang sedang dia kerjakan di perusahaan papa. Aku pun mendatangi hotel tempat beliau menginap.


Profesor mengecek server keamanan ciptaanku. Beliau mengangguk beberapa kali dan tersenyum. "Si jahil Zizi tak bisa berbuat apa-apa lagi setelah kamu upgrade system terbaru."


"Bapak kenal Zizi?"


"Ya, kenal dong. Siapa yang tidak mengenal orang yang pernah membuat server portal akademi kampus kita eror selama 24 jam penuh."

__ADS_1


Gila juga tu bocah. Enak juga kayaknya partneran dengan dia, apalagi kita berdua sama-sama memahami masalah IT. Namun, gadis tomboy yang galak itu sungguh sangat sulit untuk dilupakan.


Aaah, itu ... Sesuatu yang pernah mendarat dalam genggamanku. Hmmm, aaah ... Eeeh ... Otak? Jangan racuni aku terus deh. Masa aku mengingat dia karena kenyal doang? Aah, kenyal ... Hmmmm ...


"Alven? Apa yang kamu pikirkan sambil menggerak-gerakkan tangan mencurigakan begitu?"


Profesor Jordan mengejutkanku yang sedang berfantasi dengan bayangan masa lalu. "Aaah, Prof bisa aja? Masa dibilang gerakan yang mencurigakan?"


"Alaaah, saya ini juga lelaki. Kenapa kamu terlihat sangat mencurigakan saat kita menceritakan tentang Zizi? Apakah kamu dengannya udah ...." Beliau memberi tanda petik pada kedua tangannya.


"Bukan Prof, kami tidak sedekat itu untuk melakukan hubungam semacam itu."


Profesor Jordan tersenyum jahil. "Oooh, jadi harus dekat dulu?"


"Pokoknya saya bukan pria seperti itu, Prof."


"Justru karena kamu berkata begitu malah membuat saya semakin yakin. Mana ada maling teriak maling?"

__ADS_1


Lalu Profesor Jordan melanjutkan pekerjaannya, membiarkan aku menjadi tersangka di dalam otaknya.


__ADS_2