Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
22. Ganti rugi


__ADS_3

"Maksudnya?"


Kedua tangannya mencubit kedua lengan pakaian yang sedang dikenakan. "Kamu harus mencucikan pakaian saya di laundry tempatmu bekerja itu secara gratis!"


"Selain itu, tolong parfumnya ganti dengan benar! Itu kan upah untuk saya yang mau menjatuhkan diri menjadi kekasihmu di hadapan mantanmu. Jadi, saya tidak mau tahu! Saya mau dua botol yang baru!"


Walaaah, dosen yang terhormat ini sungguh memanfaatkan prinsip ekonomi di dalam hidupnya. Menggunakan modal sekecil-kecilnya, meraup keuntungan sebesar-besarnya.


Satu botol seharga --- dikali dua jadi --- ditambah jasa cuci strika gratis selama dua tahun. Berapa kerugian yang harus aku alami karena dia?


"Bagaimana? Mau menerima penawaran saya? Atau kamu akan saya beri nilai gagal untuk semester ini?"


"Jangan!" ucapku refleks, padahal otak ini sedang memperhitungkan kerugiannya yang tidak sebanding dengan kerugian yang akan aku alami hingga dua tahun ke depan.


Aaah, aku coba lakukan penawaran dulu. Aku mencari dompet dan mengeluarkan selembar uang Soekarno - Hatta. "Segini cukup, Pak?" Dia menggelengkan kepala.


"Pakaian yang saya kenakan waktu itu adalah pakaian yang saya beli di London. Harga pakaian tersebut cukup mahal. Jika diperhitungkan ditambah ongkos pesawat terbang, jadi harganyanya tentu luar biasa mahal."


"Hah? Bapak beli pakaian di London? Londong itu di Inggris kan? Kenapa belinya jauh sekali?" Aku keluarkan empat lembar lagi uang yang bewarna sama.


Pak Arendra terlihat memijit keningnya. "Uangmu banyak? Tapi belum bisa menuntaskan kerugian yang saya alami!" ucapnya melirik tajam.


Aku keluarkam lima lembar lagi. "Sepertinya segini sudah lebih dari cukup!"


Pak Arendra melirik ke arah uang yang terletak di atas meja yang ada di hadapannya. Uang itu di dorong kembali ke arahku. "Sudah saya bilang, saya tidak butuh ini! Saya mau laudry gratis selama dua tahun!"


"Maaf ya Pak. Kerugian yang Bapak alami tidak sebanding dengan kerugian yang akan saya terima. Enak aja gratisan dua tahun? Saya ini mencari uang, Pak. Bukan seorang sukarelawan!"


plaaak


Orang itu memukul meja yang sama-sama berada di hadapan kami. "Jadi kamu perhitungan begitu?"


plaaak


Aku tidak mau kalah, ikut memukul meja itu. "Bapak yang perhitungan duluan. Sampai mengatakan asal usul baju yang dibeli di London lah, yang harga ongkos pesawat lah? Ya mana saya tahu? Seumur-umur saya belum pernah keluar dari provinsi ini. Saya tidak tahu harga ongkos pesawat terbang. Saya kan belum pernah naik pesawat terbang."


Entah kenapa semua ucapan tersebut begitu lancar keluar dari mulutku. Aku lihat Pak Arendra menyilangkan kaki memutar kursi tersebut ke kiri dan ke kanan. Jemarinya mengelus dagu dengan bibir tersenyum sinis.


"Ya udah, kamu bersiap lah! Kamu boleh keluar!"


Dia mengusirku, dan ku segera bangkit membuka pintu hendak keluar dari ruangan ini. Aku lirik sejenak ke arah pria itu. Wajahnya datar tak memedulikan kepergianku.


"Saya permisi, Pak."


Aku lihat Lingga masih setia menungguku di depan ruangan ini. Dia langsung bangkit dari posisi duduk mengintip dosen aneh itu sebelum aku menutup pintu ruang kerja milik Pak Arendra.

__ADS_1


Lingga melambaikan tangan. "Sampai bertemu lagi," ucapnya. Aku tutup pintu dan segera bergerak menjauh dari ruangan ini.


"Apa yang kalian bicarakan? Beberapa kali aku mendengar suara gebrakan yang cukup keras."


Aku tidak tertarik menceritakan apa yang terjadi tadi. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Kami bergerak menuju ruang kuliah untuk kelas berikutnya.


*


*


*


Sore hari, aku sudah berada di laundryan yang masih terbuka. Seperti biasa, Kak Vina menyambut dengan senyum ramah. Sudah satu minggu Bang Jojo bekerja mengawasi laundry ini.


Untuk sementara, belum ada kendala yang begitu berarti setelah Bang Jojo ditugaskan mengawasi para karyawan. Elena terlihat masih menempel di pangkuan Kak Vina dan enggan bergerak dari sana.


"Bagaimana hari ini, Kak? Lancar? Apa ada kendala selama aku tinggal?"


Kak Vina melirik Bang Jojo sejenak. Namun, dia menggelengkan kepalanya. "Tidak." Dia memberikan spidol warna warni kepada Elena.


Sepertinya mulai bulan ini, gaji untuk Kak Vina akan aku tambahkan. Dia bekerja sekaligus menemani Elena. Sementara Bapak dan Mak sudah kembali ke dusun setelah Bang Jojo sampai di sini.


Bang Jojo tinggal di rumah kos yang tidak jauh dari lokasi ini. Ya, terpaksa aku bayarkan uang sewa untuk bulan pertama ini. Dari pada dia harus tinggal bersamaku. Meskipun dia sepupuku, aku harus tetap berhati-hati menjaga jarak dan menjaga diri dari lawan jenis bukan?


Sebuah mobil yang sudah sangat aku hafal berhenti di depan laundry ini. Saat melihatku, dia langsung tersenyum kepadaku. Aku yang tak merasa nyaman dengan senyuman itu, hanya membuang muka dan berpura-pura sibuk membaca data pakaian pelanggan yang masuk hari ini.


"Hah? Aku tidak tahu. Soalnya seminggu lalu pengenalan kampus pulang udah sore banget."


"Tiap hari dia datang ke sini. Mau apa lagi mantan suamimu itu?"


Aku mengedikan bahu. Sementara Bang Jojo terlihat menyambutnya dengan hangat. Apa Bang Jojo tahu, Bang Alan adalah mantan suamiku? Yang udah menyianyiakan dan menghianatiku, saudara sepupunya?


"Nesya, ke sini sebentar!" Bang Jojo memanggilku agar segera mendekat kepada mereka.


"Sejak kapan mereka seakrab itu?" tanyaku kepada Kak Vina.


Kak Vina mengedikan bahu. "Entah lah ... aku juga tidak mengerti. Mungkin karena kalian masih satu dusun, jadi masih saling mengenal."


Setahuku Bang Jojo jarang ke dusun. Dia dan keluarganya menetap di Kabupaten K, yang berada cukup jauh dari dusun kami. Bang Jojo lahir dan besar di sana.


"Nesya, ayo sini!" Kali ini suara Bang Jojo terdengar sedikit lebih keras.


"Kenapa?"


"Apa kamu tidak kangen sama Alan?"

__ADS_1


Berarti Bang Jojo sudah tahu tentang kisah kami. Lalu kenapa dia masih memanggilku untuk mendekat pada pria itu? Aku sungguh tidak ingin melihat wajahnya lebih dekat dari ini.


"Tidak." ucapku.


Bang Alan dan Bang Jojo terlihat bergerak mendekat ke arahku. Bang Alan pun segera berdiri di etalase tepat di hadapanku.


"Hai." ucapnya menyapaku.


"Hmmm ...."


"Aku dengar sekarang ini kamu kuliah ya?"


"Hmmm ...."


"Aku tidak menyangka kamu akan berkuliah. Namun, aku tahu kamu adalah gadis hebat."


Apa maksud ucapannya barusan? Kenapa dia harus sok dekat seperti ini? "Lalu?"


"Jika seandainya dari dulu kamu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan, mungkin tak akan ada kesempatan untukku mengenalmu. Kamu pasti tak ingin mengenalku yang hanya pria dusun yang tidak terlalu pintar ini."


"Sudah, kamu jangan mengungkit masa lalu lagi! Aku bersyukur dengan masa lalu yang sempat kita lewati bersama. Karena dengan itu aku bisa menyadari tentang kebodohan yang sudah pernah aku perbuat. Aku tidak akan seperti itu lagi." balasku.


Bang Alan mengerutkan keningnya menatapku heran. "Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu menyesal telah menjalani hidup denganku?"


Menyesal? Ahh ... jika saat ini dia bertanya, jawabannya tentu aku sangat menyesal. Namun apa boleh buat. Semua sudah terjadi, aku sudah memiliki Elena sebelum berusia tujuh belas tahun. Bagaimana pun, aku harus tetap mensyukurinya. Memiliki gadis cantik, yang saat ini sudah berusia tiga tahun.


Elena bergerak mendekati Bang Alan. "Ayaaah." Dia langsung memeluk kaki Bang Alan.


Bang Alan mengangkat dan menggendongnya. "Duuuh, anak ayah sudah semakin besar ya?"


Kaki dan tubuhku refleks berjalan ke arahnya. Aku segera menarik Elena dari gendongan Bang Alan.


"Kenapa kamu tarik? Bagaimana pun, dia adalah ayah kandung Elena." ucap Bang Jojo mencegahku melakukan hal demikian.


Bang Alan mengangguk memperkuat ucapan Bang Jojo. "Elena adalah anakku." Bang Alan menahan Elena dalam dekapannya.


"Ooh, sekarang baru mengakui anakmu? Bukan kah dulu kamu tak pernah memedulikannya? Di mana saat dia sangat membutuhkan pelukan dan kasih sayangmu?" Aku masih berusaha mengambil Elena dari pelukannya.


"Dek, apakah kamu membenciku?"


"Entah! Lepaskan Elena! Jangan pernah berpikir untuk merebut Elena dariku!"


Mata Bang Alan melihat seseorang yang berjalan dari arah belakangku. Aku belum sempat menoleh ke arah belakang. Namun sebuah tangan sudah mendarat merangkul dan mendekap pundakku.


"Sayang, kenapa orang ini datang lagi? Siapa dia? Apa kamu bisa menjelaskannya kepadaku?"

__ADS_1


Aku lirik di tangannya yang lain sedang memegang kantong besar yang terlihat sangat penuh dan berat. Pria di sampingku mengedipkan mata dan tersenyum pura-pura tulus.


__ADS_2