
Saat aku baru sampai di kampus, semua orang memandang jijik terhadapku. Lalu yang lewat pun melihat selebaran yang ada di tangan dan berbisik dengan anggota lainnya.
Apa yang terjadi? Mereka membicarakan apa?
Saat melewati papan informasi, deretan selebaran yang berisikan fotoku dan Elena terpasang memenuhi papan informasi tersebut.
prak
prak
prak
Suara sobekan kertas-kertas itu membuat semua orang yang telah membacanya memandangku dengan wajah remeh.
"Hahah, ternyata kau hanya bekas pakai orang lain. Lalu mengejar-ngejar dosen kami yang masih single." ucap seorang senior wanita sembari melempar selebaran yang telah digulungnya.
"Jangan bilang kau sengaja menjerat Pak Rendra kami yang polos itu dengan alasan kau hamil anaknya!" Lagi, bola yang terbuat dari lembaran berita itu mendarat di wajah di kepalaku.
Hal yang aku lakukan adalah, diam ... Ya ... Aku lanjutkan menyobek semua lembaran yang tertempel itu. Siapa yang melakukan ini semua? Tunggu saja pembalasanku!
*
*
*
Aku menunggu agak jauh dari ruang sidang yang ku dengar bahwa Pak Arendra sedang disidang oleh para dosen yang ada di jurusan ini. Aku selalu dan selalu saja memberikan beban padanya.
Belum menikah saja, sudah mendapat ujian yang seperti ini. Bagaimana setelah ini? Padahal, masalah dengan pertemuan dengan mantannya Reina, masih belum sempat dibicarakan. Ini sudah ada masalah yang baru lagi.
Aku sengaja menutup wajah dengan masker, supaya tidak dikenali oleh orang-orang. Saat ini, wajahku tengah menjadi pembicaraan di mana-mana. Aah ... Bagaimana keadaan Pak Arendra di dalam sana? Apa aku harus ikut serta juga?
Beberapa waktu menunggu, akhirnya pintu tersebut dibuka juga. Aku sengaja menunggu Pak Arendra di tempat ini. Berharap jika melihatnya, aku akan langsung mengajaknya berbicara. Mungkin lebih baik dibatalkan saja.
Pintu ruang itu telah ditutup, tetapi batang hidung Pak Arendra tak terlihat juga. Aku bangkit dari posisi yang menunggunya sedari tadi. Aku ingin mengecek, apakah dia masih berada di dalam?
Aku buka pintu perlahan, mencoba mengintip dan ternyata memang ada dia yang tengah duduk sendirian tampak merenung. Kubuka masker dan melangkah maju mendekatinya.
Saat menyadari kehadiranku, dia seperti berusaha untuk tegar. Wajahnya yang tadi terlihat lesu, diubahnya dalam senyuman. Aku tahu, dia hanya berpura-pura.
"Kamu jangan khawatir. Semua baik-baik saja." ucapnya.
Dia terlihat cukup pucat dan mengeluarkan air mineral yang tadi sengaja kubeli. "Ini semua pasti sangat berat untuk Bapak. Maafkan aku ya? Telah membuat Bapak mendapat banyak masalah. Aku rasa, aku tak pan—"
Namun, ucapanku disela olehnya. Telunjuknya berada di bibirku. "Aku mencintaimu, kamu adalah yang paling pantas berada di sisiku. Semua baik-baik saja kok. Kamu jangan mengkhawatirkanku."
Aku harus bereaksi bagaimana lagi. "Sekarang Bapak minum dulu."
Sambil meminum beberapa teguk air, dia berusaha merebut selebaran yang tadi kelupaan aku buang. Selebaran itu kumasukan secara paksa ke dalan tas ransel. Namun, dia berhasil merebut dan membacanya.
"Siapa yang menyebarkan ini?"
__ADS_1
Aku rebut kembali benda itu dan segera kuremuk menjadi bola. "Tak usah dipikirkan! Aku sudah terbiasa dengan ini semua. Hanya saja, aku tak biasa jika membuatmu terkena masalah karenaku juga."
"Sudah berapa kali ku katakan, kamu jangan bicara seperti itu."
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?"
Pak Arendra melihat segala sisi dan membisikan jawabannya di telingaku. "Cintaku level seribu padamu."
"Jangan berlebihan! Aku ini hanya—"
"Sudah! Cukup! Kamu ini gimana sih? Yang bisa meningkatkan nilai dirimu ya kamu sendiri. Yang bisa membentuk kepercayaan diri, ya kamu sendiri. Sampai kapan kamu terus rendah diri seperti itu?"
"Aku hanya ingin Bapak memikirkan kembali rencana ke depan di antara kita."
Wajahnya mengernyit. "Apa maksudmu berkata seperti itu?"
"Mungkin ada yang lebih baik buat Bapak, dan orang itu bukan aku."
"Maksud kamu ingin membatalkan rencana pernikahan kita?"
"Ya. Ini terlalu berat untuk kita. Apa tidak lihat isi selebaran tadi? Ini kita belum memulai, bagaimana nantinya?"
Pak Arendra kembali menarik tanganku. "Sekarang kamu masuk kelas dulu! Biar masalah ini tidak semakin melebar. Nanti sore, motormu nginep aja dulu di sini. Biar aku titip sama security dan kita pulang bareng. Ada hal yang harus kita bicarakan."
*
*
*
"Insya Allah aman!"
"Jadi bagaimana keputusan Bapak? Kita batalkan saja? Aku merasa tak sanggup bila terus melanjutkannya."
"Kamu mulai lagi?" gumamnya menyeruput kelapa muda sembari menikmati deburan ombak yang saling berhempasan.
"Bagiku, tak ada yang namanya pembatalan! Jika ada rintangan untuk kita, bukan kah lebih mudah jika kita hadapi semuanya bersama?"
"Tapi—"
"Tak ada tapi-tapian lagi! Kalau perlu kita percepat saja pernikahan kita. Biar kamu yakin akan kesungguhanku."
🎵 la la la 🎵
Nada dering ponselku menandakan ada panggilan masuk. Ini adalah panggilan dari Lingga. Tumben sekali dia menghubungiku. Kenapa tiba-tiba begini?
"Kenapa tak diangkat?"
"Ini dari Lingga."
Pak Arendra mulai memasang wajah heran sepertiku. "Ada apa?"
__ADS_1
Aku hanya bisa mengedikan bahu. Aku juga tak mengerti apa yang terjadi.
"Coba kamu angkat, kita dengar apa yang diinginkannya!"
Panggilan itu kujawab dengan mode speaker. "Halo, ada apa?"
📳"Kamu yakin mau menikah dengan Pak Arendra?" ucapnya tanpa basa-basi.
"Emangnya kenapa?"
📳"Dia telah menghamili Reina!"
Degupan jantungku seketika melonjak drastis. Pak Arendra menggelengkan kepalanya. Menyuruhku mengikuti alur yang dimainkan oleh Lingga.
"Siapa yang mengatakan itu?"
📳"Bang Gani. Ini dia lagi bersamaku." ucapnya di seberang.
Aku lirik lagi Pak Arendra untuk terus mengikuti apa yang disampaikan Lingga.
📳"Aku tak menyangka, tampangnya baik-baik begitu ternyata bi ngal seperti. Kamu juga? Aku pikir kamu gadis polos nan belia ternyata sudah janda punya satu anak. Kamu selama ini menipu kami dengan wajahmu itu! Kamu tak ada bedanya denganlebih—" Pak Arendra merebut ponsel dan menutup panggilan Lingga.
"Apa yang terjadi dengan Lingga? Kenapa dia seperti itu kepadaku? Padahal dulu kami cukup dekat."
Pak Arendra menarik tanganku dan kembali menautkan jemariku di antara jemarinya. "Pak, apa benar yang dikatakan Lingga?"
Pak Arendra mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang. Kali ini dia yang memasang speaker phone dan aku turut mendengarkannya. Di layar ponsel ada nama Gani.
📳 "Halo, gimana Ren?"
"Oh, gue cuma pengen tahu kabar Reina. Sekarang keadaannya bagaimana?"
📳 "Ini dia semakin baik."
"Sekarang lu di mana?"
📳 "Di rumah sakit ni di samping Reina."
"Coba kasih ke Reina, gue mau bicara dengannya."
📳 "Halo, Ren ... Terima kasih ya buat yang beberapa waktu lalu. Jika tidak, mungkin aku dan anak kami tidak lagi berada di dunia ini."
"Ingat kata dokter! Kamu lagi hamil muda. Kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran. Jangan sia-siakan penantian yang kalian dambakan selama ini diambil kembali oleh Sang Pemilik."
📳 "Iya, Ren ... Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih juga telah memaafkan kami. Mungkin karena maaf darimu ini lah membuatku mendapat kesempatan untuk menjadi seorang ibu."
"Kalian berdua, baik-baik ya, dan Lu Gan, jangan sia-siakan Reina lagi!"
📳 "Ya, terima kasih."
Panggilan ditutup, kembali jemariku tertaut pada genggamannya. "Bagaimana, Sayang? Apa masih perlu kujelaskan?"
__ADS_1
"Sepertinya memanggilmu dengan sebutan Sayang lebih enak dibanding memanggilmu Ibuk."
Lalu lengannya merangkulku ke dalam pelukannya. "Kita nikah minggu depan aja, yuk? Gak usah lamar-lamaran. Langsung nikah aja. Lama amat pakai lamaran segala."