
"Jangan lupa bawa anakmu! Nanti dia menangis, aku tidak bisa menenangkannya."
Air matanya kembali terjatuh. Namun, tanpa berkata sepatah kata pun, Nesya mengikat anaknya di dalam jarit yang terbuat dari kain batik panjang. Setelah itu dia mengambil caping dan melangkah secara perlahan menuju ke sawah.
Begitulah setiap hari, dan tanpa terasa anak kami sudah mulai tumbuh besar berusia satu tahun. Aku sungguh merasa jenuh hidup monoton di dusun ini. Aku pun sudah muak dengan permainan di ponsel yang itu-itu melulu.
"Kita pindah tinggal di luar yuk?"
Nesya hanya melihatku dalam diamnya. "Abang bosan di sini, tak ada yang bisa dikerjakan." Hanya itu alasan alakadar yang bisa aku berikan untuknya.
"Itu ada beberapa petak sawah yang bisa dikerjakan," selanya.
"Jadi kamu tidak mau jika aku ajak pindah ke kota?"
"Biaya tinggal di kota itu besar, Bang. Kita tidak punya pengalaman kerja di sana. Aku hanya tahu cara ke sawah dan ke kebun aja. Kalau kerja di kota, pasti membutuhkan ijazah. Emangnya ada yang mau mempekerjakan aku yang hanya tamatan SMP?"
"Jika kita berada di kota, kamu tidak perlu khawatir lagi. Segala kebutuhan di kota, biar aku saja yang memenuhinya."
Nesya tersenyum mendengar ucapanku yang penuh dengan pengharapan. Semoga saja benar adanya. Ada perusahaan yang mau menerimaku bekerja, dan aku bisa memiliki uang sendiri dan mengganti ponsel yang sudah butut ini.
Setelah meminta izin kepada orang tua, kami segera menuju kota dan mencari kontrakan murah. Karena uang sisa panen kemarin hanya tinggal sejuta. Kami harus berhemat menjelang aku mendapat pekerjaan.
Aku baru menyadari bahwa aku tidak bisa menulis surat lamaran pekerjaan. "Dek, apa kamu bisa membuat surat lamaran pekerjaan?"
__ADS_1
Matanya terbuka cukup lebar. "Apa ada contohnya?"
Karena tempat baru kami sudah penuh oleh signal, aku pun meminta teman untuk top up kuota. Setelah itu, segera mencari contoh surat lamaran pekerjaan lewat internet. Ada beberapa perusahaan yang menjadi targetku.
Setelah selesai, aku periksa hasil surat lamaran yang ditulis oleh Nesya. Kenapa aku baru tahu, tulisan dia ternyata sangat rapi dan bagus. Kemana saja aku selama ini?
"Semoga ada rezeki untuk keluarga kita." ucapku. Khususnya untuk diriku, sambungku di dalam hati.
Sembari menunggu panggilan dari perusahaan yang telah aku lamar, Nesya terus bekerja menawarkan jasa mencuci pakaian sedikit demi sedikit kepada tetangga. Dengan itu lah kami makan, meski pun seadanya.
Waktu pun terus berganti dari hari ke hari, dan bulan terus berganti. Persediaan uang yang aku sembunyikan pun telah habis untuk beli rokok dan kuota. Usaha Nesya meski kecil-kecilan, masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga kami. Aku tengadahkan tangan di hadapannya.
"Minta uang!"
"Buat beli rokok."
"Tidak ada!" ucapnya pergi berlalu meninggalkan aku.
Aku kejar dan kutarik tangannya. "Cepat berikan! Aku mau merokok dulu."
"Cari uang sendiri sanah! Sudah tiga bulan kamu begini terus. Harusnya Abang sadar, saat ini kita tinggal di kota! Bukan di dusun yang bisa saja makan dengan gratis tanpa menguarkan biaya!"
braaakk
__ADS_1
Refleks tangan ini memukul meja yang kebetulan ada di dekatku. Netranya kali ini berbeda. Dia sama sekali tak terlihat takut. Bahkan berani melipat kedua tangannya seakan melawanku.
"Kamu sudah berani menantangku ya?"
"Bang, sampai kapan harus begini? Pliiss, sadar lah! Kehidupan kita ini tidak bisa dikatakan pas-pasan lagi ... Jadi, jika kamu tidak bisa mencari uang sendiri, lebih baik kamu berhenti merokok!"
Ini sungguh tak bisa dibiarkan. Aku harus menggunakan senjata seperti biasanya. "Kamu mau aku ce---"
Aku menunggu dia mencegatku seperti biasanya. Namun, kali ini dia masih berani menantangku tanpa menyelaku sedikit pun. Apakah kali ini dia sudah merasa berada di atas awan? Ini sungguh membuatku kesal.
"Haaah ...."
braaaak
Aku buka pintu dengan kasar dan aku keluar dari rumah. Awalnya aku masih berharap dia menahanku. Namun, dia sama sekali tak memanggil dan mencegahku untuk pergi.
Aahhh ... siiiaaall! Drama yang selalu kubuat di dusun, tidak berguna di kota ini. Dia menjadi lebih kuat dibanding biasanya.
Aku segera membuka ponsel mencari kontak teman masa SMA ku dulu. Kontak tersebut langsung kuhubungi. "Brooo ... lu punya pekerjaan buat gue gak?"
"Ada nih, udah dari kemarin gue ajak, lu kagak mau."
"Habisnya lu ngajakin gue jg gii go lo. Apa gak ada kerjaan yang lain?"
__ADS_1
"Hei, Bro ... inget! Lu cuma tamatan SMA dengan nilai didongkrak sama guru. Wajar aja kagak ada yang lolosin lamaran kerja lu. Lagian lu gak punya orang dalam yang kerja di sana juga."