
Tubuhku terhempas masuk ke ke dalam baskom. Pak Arendra pun ikut ketarik dan dia berada di atas ku. Beberapa waktu kami tak melepaskan pandangan. Aku bagai terhanyut oleh tatapan matanya yang membuatku terhipnotis. Ikatan kimono mandi yang dikenakan terlepas dan bagian atas tubuhnya terpampang nyata mera cu ni mataku. Ini sungguh terlalu dekat.
Aahh, kenapa aku jadi malas bergerak? Apakah aku rindu pada masa itu kembali? Aaah ... Nesya! Kamu bangun! Ayo sadar! Kamu sedang dihipnotis oleh pria ini!
"Apa yang kalian lakukan?"
Sebuah suara bariton membuyarakan aksi saling tatap kami yang sedang menyatu di sebuah baskom. Pak Arendra langsung bangkit memperbaiki posisi kimono nya yang sudah basah dan acak-acakan.
Untung saja bukan celana renangnya yang aku tarik, jika tidak ... aduh ... aku takut bakalan nyari Bang Alan lagi.
Pria paruh baya itu berjalan mendekat ke arah kami. "Aren, kenapa kamu melakukan sesuatu di luar norma di rumah ini? Kalian harus bertanggung jawab!"
Aku mencoba bangkit dari rendaman air yang sudah membasahi tubuhku. Aku masih mengenakan kemeja saat berangkat kuliah tadi. Sehingga seluruh bagian membayang dan menampilkan bentuk yang ada di balik pakaian ini.
Seseorang yang kemungkinan adalah suami Bu Jenie itu membuang muka dan berdehem. "Aren, lepaskan handukmu dan berikan pada gadis itu!"
Pak Arendra melihatku yang sudah salah tingkah dalam menutupi semua bagian yang membayang. Pria tinggi itu membelakangiku dan melepaskan kimono yang sedang dipakainya. Aku pun menerima dan langsung menyorongkan dalam posisi belakang ke arah depan. Sementara Pak Arendra berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.
Pria tersebut terus memperhatikan setiap jengkal bagian dari diriku. "Kamu siapa?"
"Aaa, ekhemm ... ini tidak seperti yang Bapak kira. Tadi hanya sebuah kecelakaan. Jadi kami tidak melakukan hal-hal yang tidak seno .noh kok, Pak." Mulutku dengan lancar menjelaskan semua yang terjadi. Aku tidak ingin beliau berpikir yang bukan-bukan tentang diriku.
"Kamu menjawab di luar pertanyaan saya! Saya hanya menanyakan kamu itu siapa?"
"Sa-saya ... hanya orang dari laundry yang hendak menjemput pakaian kotor keluarga Bapak. Bu Jenie sudah meminta saya untuk segera menjemput pakaian ini." Wajah pria dewasa ini benar-benar membuatku takut. Hingga aku hanya bisa menggaruk bagian kaki yang gatal dengan kaki yang sebelahnya.
"Sekarang, kamu katakan kepada orang tuamu agar keluargamu harus bersiap akan kehadiran kami." ucap bapak-bapak berkumis tebal itu.
"Ke-kenapa dengan keluargaku, Pak? Aku bersumpah, kami benar-benar tidak melakukan apa pun." Aku berusaha mencari wajah yang tadi kabur ke dalam rumahnya. Dia belum juga muncul.
"Siapa yang kamu cari? Aren? Pacarmu?"
"Bu-bukan, Pak. Kami sungguh tidak terikat dalam hubungan apa pun. Bagaimana caranya agar aku bisa membuat Bapak percaya bahwa kami tidak melakukan apa-apa?"
__ADS_1
Pria dewasa itu tampak tengah memikirkan sesuatu. Saat kami masih sibuk dengan pikiran masing-masing, Pak Arendra muncul dengan rambut basah yang sudah disisir rapi mengenakan pakaian casual. Dia terlihat sedikit salah tingkah melihat aku bergantian dengan papanya ini.
"Ren, katakan sejujurnya pada Papa! Apa hubungan kamu dengannya? Jika dia memang kekasihmu, kenapa tidak kamu kenalkan pada kami, orangtuamu? Ini malah main basah-basahan di saat rumah sepi."
Pak Arendra bersidekap dada, memalingkan wajah dan masih salah tingkah. Dia melirikku yang sudah mati kutu oleh pertanyaan ayahnya ini.
"Aren! Jawab pertanyaan Papa! Kamu malah lirik-lirikan sama dia---"
"Bukan, Pak ... kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami pun tidak ada curi-curi pandang." Tentu saja aku tidak bisa menerima tuduhan itu.
"Dia mahasiswaku di kampus, Pa. Dia juga bekerja sebagai tukang cuci di laundry langganan Mama."
"Lalu kenapa posisi kalian seperti tadi?" Sebuah bentakan yang cukup membuatku kaget menggema di seluruh penjuru kolam.
"Tadi hanya kecelakaan, Pa. Bener-bener tidak sengaja."
"Papa tidak mau tahu! Kalian harus mempertanggungjawabkan ini semua. Ayo kita tunggu mamamu pulang sebentar lagi!"
Menunggu? Sepertinya aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Aku harus segera kembali. "Pak, aku harus kembali. Anakku sudah lama menunggu di rumah."
Lalu menatap anaknya yang masih sibuk memikirkan sesuatu. "Ren, kamu ini bener-bener ya? Masa istri orang mau kamu ambil juga? Apa tidak ada wanita lain yang menggantikan Reina? Masa istri orang diembat juga?"
"Sepertinya aku sudah mengatakan bahwa Papa salah paham. Kesalahpahaman Papa pun semakin bertambah."
Pak Arendra membesarkan matanya padaku. "Katakan juga dong, kamu bukan istri siapa-siapa lagi!"
Pak Arendra melihat ke ayahnya lagi. "Hubungan kami hanya sebatas dosen dan mahasiswa saja. Terus dia penjual jasa, dan aku sebagai pelanggan."
Suami Bu Jenie menatap dengan intimidasi. "Apa benar yang dia katakan."
Aku segera mengangguk. "Benar, Pak. Hanya sebatas itu."
Aku segera menyiapkan kembali bungkusan yang akan aku bawa ini. Cukup banyak memang, dan sepertinya ayah dari Pak Arendra ini memberi kode agar anaknya membantuku mengangkat kantong pakaian kotor keluarga mereka.
__ADS_1
"Permisi, Pak." ucapku mohon diri.
"Tunggu!" Beliau mencegat langkahku. "Jadi kamu ini sudah janda?"
"Benar, Pak. Saya sudah janda dan memiliki satu anak berusia tiga tahun."
Bapak itu memperhatikanku kembali, melirikku dari atas hingga ke bawah beberapa kali. "Sepertinya kamu masih sangat muda. Berapa usiamu saat ini?"
"Aku, Pak? hmmm ... tak lama lagi aku berumur dua puluh tahun."
"Jadi, kamu menikah usia berapa?"
*
*
*
Huuuffftt, akhirnya aku lepas dari interogasi orang tua Pak Arendra itu. Masa iya aku disuruh nikah sama dosenku yang masih bujang? Mana dia mau sama aku yang sudah jendes? Aku belum kepikiran untuk mencari pengganti Bang Alan. Saat ini, aku ingin fokus dengan segala hal yang aku kerjakan. Cita-cita untuk mendirikan SMA di dusun pun belum sirna hingga saat ini, meskipun aku bukan calon guru.
Ada hal-hal yang masuk ke dalam skala prioritasku saat yakni anak, kuliah, dan pekerjaan. Hmmm ... sepertinya semua adalah skala prioritasku saat ini. Apa aku bisa menjalani semuanya sekaligus? Bismillah ... semoga Allah melancarkan segalanya.
"Ibuuuuk, kok lamaaa?" Elena berlari menyambutku yang memarkirkan kendaraan. "Ibuk bacah? Mandi di mana? Kenapa gak ajak Eyena? Eyena mau itut."
Aku berjongkok dan membelai rambut putri kecilku. "Maafkan Ibuk ya, Nak. Ayo kita mandi." Aku bangkit kembali, menggandeng tangan gadis kecil nan cantik ini.
Aku hampiri Kak Vina yang bersiap kembali setelah aku sampai. Sementara pegawai yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing, termasuk Bang Jojo.
"Maaf ya, Kak? Jadi terlambat pulang gara-gara menungguku."
"Iya, nggak apa. Ini catatan pelanggan yang masuk hari ini." Kak Vina menyerahkan buku tersebut.
"Oke, Kak. Terima kasih."
__ADS_1
Setelah tidak ada orang lagi, aku bawa masuk pakaian kotor yang tadi dijemput, dan pintu toko kututup.
Usai membersihkan diri, menyuapkan Elena makan, aku mengecek catatan pelanggan dan kesesuaian dana yang ada. Namun, masih seperti beberapa waktu yang lalu. Hari ini kembali ada dana yang hilang.