
"Lalu apa urusanmu memikirkan dia? Jangan-jangan kamu masih mencintai mantan suamimu itu?"
Setelah mengatakan hal demikian, Mas Aren pergi meninggalkanku sendirian. Tanganku masih memegang kartu kredit yang ingin membayar makanan yang tadinya kami lahap.
Mas Aren seperti sengaja memesan makanan mahal untuk mengerjai Bang Alan. Memang sih, dia terlihat sangat aneh, tiba-tiba meminta aku dan Lingga makan di cafe ini. Akan tetapi, seharusnya Mas Aren tidak memilih makanan yang paling mahal.
Mas Aren bukan lah orang yang diundang, karena itu aku merasa sangat tidak enak membuat orang lain terbebani karena ulah suamiku.
"Mbak, bayar semua yang kami makan pakai ini saja!" ucapku menyerahkan kartu kredit kepada kasir. Bang Alan terlihat masih merogoh-rogoh kantongnya. Sepertinya dia benar-benar kehabisan uang.
"Jangan!" Lingga mencegahku melakukannya.
"Bang Alan punya uang kok, benar kan Sayang?" tanya Lingga.
Bang Alan terlihat tersenyum dengan wajah kikuknya. Bagaimana pun aku sudah tahu bagaimana bahasa tubuhnya. Aku sudah menjalani biduk rumah tangga bersama Bang Alan, meski tak lama. Namun, aku bisa memahaminya lebih dari siapa pun.
Aku tetap menyerahkan kartu kreditku kepada kasir, dan secepatnya melakukan pembayaran.
"Kamu jangan begitu, Dek. Jika kamu begitu, kamu tidak menghargaiku sebagai orang yang mengundangmu."
Setelah kuterima kembali kartu kredit itu, dengan gerakan cepat aku beranjak. "Sudah lah, Bang. Traktirnya lain kali aja. Aku mau menyusul suamiku."
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku segera menyusul Mas Aren. Mas Aren memang menungguku di mobilnya. Aku naik dan melihat kembali wajah tanpa ekspresi itu. Sudah lama sekali tidak melihat yang seperti itu. Mari kita lihat, sampai kapan dia bertahan dingin seperti itu.
*
__ADS_1
*
*
Saat malam di meja makan, suasana saat makan terasa begitu canggung. Mak dan Bapak beberapa kali bertanya dengan kode-kode yang bisa aku pahami.
Aku pun memberi kode dengan mengangkat kedua bahu, kembali menyuapi Elena. Setelah usai, saat semua berada dalam kamar masing-masing, aku memilih untuk langsung masuk ke dalam selimut. Memperlakukan dia seperti dia memperlakukanku, bagai manusia yang tidak terlihat. Yaaa, ini adalah persaingan siapa menang siapa kalah melawan ego pasangan.
Aku ingin sekali menjelaskan kepadanya, tetapi dia kan tidak bertanya. Jadi, aku rasa dia tidak membutuhkan itu. Baik lah, kita perang dingin dulu malam ini.
*
*
*
Sedang kan aku mendapat kabar dari Lingga, dia bertengkar dengan Bang Alan usai acara makan-makan gak jelas itu.
Aaah, jika hasilnya malah begini, lebih baik aku dengarkan perkataan suamiku yang awalnya tidak memberi izin. Tiba-tiba aku kangen masuk dalam pelukannya lagi.
Nanti malam harus membuat drama seperti apa ya, agar suamiku mau berbicara denganku lagi? Apa harus meminta maaf? Namun, aku kan tidak bersalah? Aku hanya merasa wajib saja membayar itu semua, karena ulah suamiku juga.
Saat di rumah, aku memandikan Elena, seseorang tiba-tiba ikut masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata Mas Aren tiba-tiba menarikku yang sedang memasangkan handuk untuk Elena.
Mas Aren memelukku dengan erat. "Oke, aku kalah! Aku kangen banget meluk-meluk kamu kayak gini. Tapi, aku kesel kamu selalu saja berbuat baik kepada mantanmu itu. Harusnya kamu bantu aku biar dia malu dan tidak ajak-ajak kamu lagi."
__ADS_1
Aku lirik Elena menutup matanya melihat aksi yang tampil secara live di hadapannya ini. Aku dorong tubuh suamiku sejenak, lalu aku buka pintu mengajak Elena keluar.
"Minta tolong sama Nenek buat bantu memakai baju ya?" ucapku kepada gadis kecil yang sebentar lagi akan menjadi siswa TK.
"Lalu Ibuk?" tanyanya.
"Ibuk mau mandi dulu."
Elena melirikku bergantian melirik ayah sambungnya. "Ibuk mau mandiin Papa atau Papa yang mandiin Ibu?"
Aku menepuk kening mendengar pertanyaan gadis kecil ini. Ini semua ulah Mas Aren yang tidak bisa menjaga sikap. Aaaah ... Aku harus menjawab apa?
"Papa doong yang mandikan Ibuk. Kan yang mandikan itu orang yang lebih besar. Elena dimandikan Ibuk. Ibuk dimandikan Papa. Gituuuuu."
Refleks tangan ini kembali mencubit pinggangnya. Sedangkan Elena membulatkan mata dan mulutnya yang mungkin membayangkan hal yang baru saja diucapkan Mas Aren. Setelah itu Elena menganggukan kepala melangkahkan kaki keluar.
"Neeek, tolong pakaikan baju Elena ya? Ibu lagi gak bisa pakaikan baju buat Elena. Soalnya Ibuk lagi dimandikan oleh Papa."
Ucapan Elena masih terdengar jelas hingga ke kamar mandi. Ini sungguh sangat memalukan. Kedua pipi suamiku jadi korban amukan cubitan karena kesal.
"Sudah! Sudah! Saaakit!" ringis Mas Aren.
"Habis, ngajarin anak kecil yang tidak-tidak?"
Mas Aren tidak mengubris raut kesal yang aku pasang dengan nyata. Dia kembali memelukku. "Pokoknya setelah ini kamu jangan bertemu lagi dengannya. Rasanya sangat menyakitkan jika kamu terus saja belain dia!"
__ADS_1
"Aku tidak belain dia. Aku hanya—"
Dengan tak terduga dia langsung membekap mulutku dengan bibirnya. Aaah ... sebenarnya aku suka dengan ini semua, setiap belaian dan yaaa sudah lah. Proses memandikan Ibuk benar-benar terjadi.