Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
96. Mempermainkan atau dipermainkan


__ADS_3

*Jangan lupa ya kakak semua, bagi vote buat karya ini ... 😇😇😇 Jangan lupa like juga ya kak ... Ini Bab yang panjaaaaang*


"Nesya! Apa benar yang dia katakan? Kamu mempermainkanku?" alur suara Pak Arendra terdengar sedikit ditekan.


Apa? Mempermainkan? Terlintas untuk bermain pun aku tak sempat. Ini Bang Alan ngomong apaan sih? Dari mana dia tahu isi di dalam hatiku? Sepertinya dia lagi melawak ....


Seingatku semasa bersamanya, dia tak pernah memikirkan apa pun tentang diriku. Namun, kenapa baru sekarang dia tertarik akan perasaanku? Kenapa di saat aku ingin melangkah benar-benar pergi, dia menuntut rasa yang ingin kubuang.


"Kenapa diam saja?" Pak Arendra kali ini terlihat mulai tertawa tetapi dengan raut yang aneh. Dia tampak sedikit shock menyugar rambut yang tadinya yang cukup berantakan.


"Cepat katakan!" bentaknya dengan suara keras.


Bang Alan berdiri. "Jangan berteriak padanya!"


"Apa kau? Saya tak menyangka kalian bisa mempermainkanku seperti ini!" Pak Arendra balik kanan dan meninggalkan kami berdua.


Jangan! Jangan pergi! Aku mohon jangan!


Teriakan itu hanya bisa bergema di dalam hati. Aku tak sanggup mengeluarkannya. Kenapa? Kenapa percaya begitu saja? Apakah cuma segitu rasa yang dia punya? Seharusnya dia menanyakan padaku langsung. Bukan sekedar percaya begini saja.


Polisi datang dan menyapu siapa pun yang tepar di sana dan dibawa naik ke atas mobil patroli yang mereka bawa.


Sedikit memberi tanda hormat, lalu mengajakku berbicara. "Apakah Anda yang melapor kepada kami?" tanya salah satu dari pasukan polisi tersebut.


"Benar, Pak. Saya lah yang tadi menelepon melaporkan kejadian ini."


Polisi tersebut melihat sesuatu di bagian leherku. "Bagaimana keadaan Anda?" tanya polisi itu kembali.


"Tidak apa, Pak. Saya bisa mengatasi ini."


"Apa perlu dirawat ke rumah sakit?" tanya Bang Alan yang entah kenapa kurasa terlalu berlebihan.


"Abang sendiri bagaimana? Seharusnya kamu yang perlu mendapat perawatan."


"Aku baik-baik saja. Segini mah biasa bagi laki-laki. Namun, pada perempuan tentu saja ini beda lagi."


Aku gelengkan kepala. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja."


"Ada lain yang diperlukan, Pak?" tanyaku pada Pak Polisi.


"Untuk sementara cukup dulu. Nanti akan ada informasi dari kami. Tidak hanya itu, kami akan menghubungi bila membutuhkan informasi dari Anda." Polisi tersebut memberi hormat tanda pamit.


Kendaraan mereka pergi meninggalkan kami berdua. Pak Arendra benar-benar pergi. Hatiku merasakan kejanggalan, kecewa, dan sedih menjadi satu. Mengapa dia pergi begitu saja tanpa meminta keterangan dariku?


"Kamu masih shock?" tanya Bang Alan.


Aku menggeleng, tentu, ini bukan hal yang menakutkan lagi bagiku. Saat situasi seperti ini, selalu ada dia ... Yang menjadi pahlawan bagiku. Aku tatap beberapa saat kendaraan yang tadinya terparkir di sana, kenapa hatiku merasa ada yang berbeda? Padahal setiap berpisah dengannya, tak merasa sedih seperti ini.


"Dek, Dek?"


"A-apa, Bang?"


"Kamu melamun?" Aku gelengkan kepala. "Ayo aku antar sampai ke toko." ucapnya.


*


*


*


Saat sampai di depan toko, ternyata ada mobil milik Pak Rendra sedang terparkir di sana. Seketika rasa lega menyelinap di dalam dada. Aku takut, dia benar-benar akan pergi tanpa melihatku lagi.


"Bang, lebih baik kamu kembali. Aku mau bicara dengan calon suamiku."


"Sudah kubilang, kamu tak mungkin bisa mencintainya. Kamu adalah orang yang ditakdirkan untukku! Tak mungkin akan berpaling begitu saja dengan mudah. Apalagi di antara kita ada Elena. Aku yakin, dia pasti menginginkan kebersamaan kita yang seperti dahulu. Dia lebih membutuhkan aku dibanding siapa pun."


"Sudah lah, Bang! Kamu jangan sok perhatian begini!"


"Dek, kamu telah banyak berubah?"


"Ya, selamat! Kamu berhasil mengubahku. Aku bukan gadis bodoh seperti dulu lagi saat jadi istrimu."


Dia tersenyum kecut. "Aku rasa karena itu aku semakin menyukaimu."


Hah ... Ucapannya membuatku semakin pusing. Kali ini aku memilih untuk tak peduli dengan apa yang dia katakan. Tingkat kepercayaan dirinya terlalu tinggi.


Lebih baik aku segera mengecek si pengemudi kendaraan itu. Namun, pada bagian kemudi, sudah tak ada lagi Pak Arendra. Apa dia berada di dalam?


Sebelum Kak Vina pulang, dia mengabari bahwa kedua orang tuaku telah berada di sini. Aku segera mencari ke atas dan di sana Pak Arendra tengah dipijit oleh Bapak. Pakaian atasnya telah terlepas. Omaigat, mataku kembali melihat nya.... Oh iya, dia calon suami. Aku harus terbiasa.

__ADS_1


Padahal Bang Alan yang bukan suami lagi, tanganku secara refleks memeriksa dan memyentuh bagian-bagian tubuhnya? Mungkin karena aku sudah terbiasa, dulu pernah menjadi istrinya.


Melihat pemandangan ini, ada sedikit kelegaan di dalam hati. Ternyata dia mau mendekat dengan sendirinya kepada kedua orang tuaku. Bapak dengan semangat memijit calon mantunya ini.


Sementara Elena ditemani bermain oleh Mak. Akan tetapi, langkahku masih diikuti oleh Bang Alan. Aku lirik, raut wajahnya tampak kaget melihat Pak Arendra dipijit oleh Bapak.


"Bang, kenapa belum pulang juga?"


"Aku juga ingin bertemu Bapak dan Mak, sudah lama sekali tidak melihat mereka." Bang Alan diam termangu melihat Pak Arendra yang terlihat dekat dengan Bapak.


"Alan?" Bapak menyadari kehadiran Bang Alan, sang mantan menantu.


Bang Alan segera mengejar Bapak dan Mak, mencium tangan mereka. "Bagaimana kabar Bapak dan Mak? Sudah lama kita tak berjumpa."


Aku pun duduk di bagian belakang Pak Arendra menatap punggungnya. "Bagian mana yang sakit?" Dia hanya diam dan melihat Bang Alan yang ngobrol dengan Bapak.


"Pak, kenapa diam aja?"


Dia segera memakai kemeja yang telah kusut gara-gara kejadian tadi. Lalu menyandarkan diri di bagian dinding memperhatikan suasana sekeliling dalam diamnya.


"Mikirin apa?"


Dia masih diam dan sepertinya sibuk dengan asumsi yang ada dalam pikirannya sendiri. Dari pada hening tak tentu seperti ini, sebaiknya aku membersihkan diri.


"Aku mandi dulu." Bangkit dan langsung menuju kamar.


Setelah selesai mandi saat keluar dari kamar, hanya terdengar suara gerakan Mak dan Bapak yang sedang berbenah. Mereka sedang membenahi peralatan yang dibawa dari dusun.


"Elena ke mana, Mak?"


"Dia ke bawah." Mak seperti menyadari sesuatu yang aneh pada leherku. "Lehermu kenapa merah begitu? Apa yang terjadi?"


"Oh ... Aku habis kerikan, Mak. Jangan khawatir. Terus dia sama siapa ke bawahnya? Kak Vija tadi udah pamit, kan sepi banget di bawah."


Bapak dan Mak saling berpandangan. "Tadi digendong Alan ke bawah."


"Terus yang satunya lagi?" tanyaku.


"Ekhem ...?" Seseorang mengintip dari balkon. Ternyata dia tengah melihat pemandangan menjelang malam di luar sana.


"Mak Bawa gulai unji rebung, dari dusun. Apa kamu mau, Nesya?" *Unji \= kecombrang.


"Ini, Mak juga bawa ikan dusun kita ... terus menu seadanya yang biasa kita makan. Mak berasa sayang saja untuk meninggalkannya, jadi dibawa semua dari pada basi begitu saja. Soalnya Mak baru dapat kabar saat ada signal kan? Langsung saja kami beres-beres hendak keluar dusun."


Pak Arendra kembali bergabung, tetapi dia masih dalam mode diam membuatku heran. Dia terus memasang muka dinginnya tanpa banyak bicara.


Dari pada pusing, lebih baik aku menanak nasi dengan porsi yang banyak. Sepertinya malam ini akan ada jamuan besar tanpa undangan.


Aku pun memesan beberapa menu lain dari aplikasi. Rasanya tak mungkin sekedar menghidangkan menu dari dusun yang dipanaskan.


Saat azan magrib menggema, Pak Arendra memilih mencari mesjid terdekat. Kulihat Bang Alan melaksanakan sholat. Apakah dia sudah taubat? Aku tak pernah menceritakan pekerjaan yang dijalani oleh Bang Alan kepada orang tuaku. Cukup aku saja yang mengetahuinya.


Ponselku kembali berdering. Kulihat panggilan dari Pak Arendra.


📳 "Aku udah selesai."


Panggilan ditutup dan aku segera turun menjemputnya. Ah ... dia memang sangat berbeda dengan Bang Alan. Aku segera menjemputnya ke bawah dan melihat wajahnya yang tampak lebih cerah usai dibasuh dengan air wudhu.


"Kenapa senyum-senyum?" tanyanya dengan raut dingin persis sama seperti tadi.


"Kenapa sih, Pak? Marah kenapa?"


"Tadinya aku ingin bicara berdua saja, ternyata orang tuamu datang, ditambah lagi kamu membawa dia bersamamu ke sini. Apa benar kamu masih cinta sama dia?"


"Dek, kenapa la—" Bang Alan juga ikutan turun menjemputku. "Ayo naik! Bapak dan Mak jadi menunggu kelamaan," ucapnya. Bang Alan kembali naik ke atas.


"Apa dia sering keluar masuk seperti ini di rumahmu? Bahkan dia bagai tuan rumah di sini."


"Ooh, sekarang aku mengerti, Bapak cemburu?" Dia kembali hening dengan muka dinginnya. Aku segera menarik tangannya mengajak untuk segera naik ke lantai atas.


Di atas, Mak sudah menyiapkan segala sesuatunya di atas meja makan. Hanya menunggu makanan yang dipesan di aplikasi belum sampai sampai juga. Aku pun membantu dan menata segala yang perlu ditata.


Ponselku kembali berdering, kali ini dari driver kurir aplikasi yang aku pesan. Pak Arendra dan Bang Alan berebur menawarkan diri untuk memjemput. Aku pun mengambil langkah cepat untuk turun terlebih dahulu dan ternyata Pak Arendra menyusulku.


Setelah menerima makanan tersebut, aku langsung balik kanan. Ada Pak Arendra berdiri di belakang.


"Kenapa sih? Gak jelas banget sejak tadi." sungutku kesal karena tingkahnya yang tiba-tiba aneh.


"Aku tu, butuh kepastian dari kamu. Apa benar yang dikatakannya tadi? Kamu hanya sekedar bermain denganku? Kamu mempermainkanku, dan masih cinta sama dia?"

__ADS_1


"Lalu, kepastian yang seperti apa yang Bapak inginkan dariku?"


"Cukup katakan kamu cinta padaku. Itu sudah cukup bagiku."


"Apakah selama ini aku tak pernah mengatakannya?"


"Sudah lah, mungkin selama ini aku saja yang berharap padamu. Aku tahu kamu hanya terpaksa. Saat melihat perhatianmu padanya, aku sadar ... Aku bukan lah apa-apa bagi—" Kali ini telapak tanganku tertempel pada bibirnya.


"Jangan bicara seperti itu. Bapak sangat berarti bagiku. Bahkan, aku merasa sangat takut saat tadi Bapak pergi begitu saja tanpa kata."


"Kamu lebih perhatian padanya dibanding aku yang berjuang untukmu. Kamu tak menanyakan bagaimana keadaanku. Aku kan sakit juga."


Tiba-tiba aku merasa dia begitu imut. "Maaf ya, Pak?"


"Sayang! Coba panggil Sayang! Setidaknya kamu panggil aku 'Sayang' di depan dia. Biar dia tidak terus bersikap sok dekat begitu kepadamu."


Tanganku refleks mencubit kedua pipinya. "Ternyata, Bapak sangat menggemaskan."


"Coba panggil aku 'Sayang!"


"Sayang? Cukup?"


"Dih, kok gitu?"


"Udah, ah. Tiba-tiba Aku merasa ada dua Elena."


"Ayo katakan bagaimana perasaanmu!"


"Love you ...." Aku tarik sembari merangkul lengannya mengajak kembali naik ke atas dan langsung menyajikan makanan yang tadi.


Bang Alan yang tadinya bersemangat, terlihat lebih diam dibanding sebelum aku menjemput makanan tadi. Berbanding terbalik dengan Pak Arendra yang lebih ceria dibanding tadi. Apakah semua pria seperti ini? Tidak ah, Bapakku tak seperti itu, menurutku.


*


*


*


Setelah semua sepi, Elena, Bapak dan Mak pun beristirahat. Sementara aku sibuk membereskan semuanya. Pak Arendra tak hentinya terus mengirimi aku pesan dengan emot lebay membuatku merasa geli setelah dia sampai di rumah.


Setelah semua kembali bersih, aku pun bersiap untuk beristirahat. Ponselku kembali berdering dengan cepat ku angkat takut membangunkan semua.


Awalnya aku mengira Pak Arendra yang menelepon. Namun ternyata, yang menelepon adalah Bang Alven, wajahnya tergambar di layar datar ponsel ini. Aku kembali keluar kamar.


"Ada apa Bang? Tumben?"


Wajahnya terlihat kaku diam dalam beberapa waktu. Memang, semenjak pulang dari rumahnya, dia tak pernah lagi meneleponku.


📳 "Katakan padaku, aku ini bagaimana di matamu?"


"Kamu baik, banyak sekali menolongku."


📳 "Lalu?"


"Apalagi ya?" Dia membuatku semakin bingung.


📳 "Lalu bagaimana perasaanmu pada Mas Aren?"


Refleks, aku menutup mulut menahan senyuman. Aku belum sempat menjawab, dia sudah berbicara terlebih dahulu.


📳 "Apa kamu yakin dengan perasaanmu padanya?"


"Hmmm ... Emang kenapa, Bang? Apa kamu tak mau aku jadi kakak iparmu?"


📳 "Tidak!"


Jawabannya yang lantang itu sontak membuatku tertegun. Apakah dia tidak menyukai kehadiranku dalam keluarganya?


📳 "Kamu tak pantas untuknya!"


Jleb ...


Aku seketika tertohok oleh ucapan calon adik iparku ini.


"Ya, aku tahu. Aku hanya lah janda dan wanita bodoh yang tak pantas untuknya. Lalu, aku harus bagaimana?"


📳 "Bukan begitu! Dia itu hanya mempermainkanmu."


"Hah? Maksudnya?"

__ADS_1


📳 "Kamu hanya lah alatnya untuk membalas dendam! Kamu berhak mendapat pria lain yang lebih baik dibanding dia. Sekarang kamu pikirkan lah kembali kelanjutan hubunganmu dengannya."


__ADS_2