Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
12. Kekasih baru


__ADS_3

"Bukan kah kamu yang melempar kotak bedak waktu di pantai dulu?"


Hah? Bedak? Di pantai? Aku berusaha mencoba mengingat kejadian di pantai. Sudah banyak sekali sesi pantai yang aku lewati setelah resmi bercerai dengan Bang Alan.


"Waaah, adikmu sudah besar ya?"


Adik? Tiba-tiba aku teringat Om-om yang berambut klimis di pantai dulu. Ooh, iya ... dia Om-om yang waktu itu. Model rambutnya lagi ditukar apa emang lagi tidak makai wax?


"Om yang di pantai dulu?"


Keningnya berkerut, lalu membuka ponsel. Dia bercermin lewat kamera, dan gilanya malah memasang kamera tok tok.


"Semuda ini dipanggil, Om?" ketusnya. Lalu dia melirik kiri kanan muka belakang.


"Mencari siapa Pak?"


Dia semakin tertegun saat aku panggil tersebut. "Sejak kapan saya jadi Dosen kamu?"


Aku mencerna ucapan demi ucapan yang dilontarkan pria aneh ini. Apa hubungannya dengan dosen? Lalu Kak Vina menyerahkan satu bungkus pakaian bersih kepada pria itu. Setelah selesai, pria tersebut hendak cabut membawa hasil cucian yang sudah bersih.


Aku segera mengejarnya, memberikan satu botol parfum laundry kepadanya. "Ini sebagai ucapan terima kasih sudah membantuku tadi."


Dia melirik benda yang ada di tanganku. Tanpa sungkan, dia langsung mengambil parfum tersebut dan disatukan ke dalam pakaian bersih tadi. "Terima kasih."


Lalu dia masuk masuk ke dalam mobil dan cabut. Sedikit kesimpulan yang bisa kuambil bahwa dia orang yang tidak banyak bicara. Kak Vina mendekat padaku.


"Kamu kenal dia?" selidiknya.


"Enggak, hanya saja waktu dulu tak sengaja bertemu di pantai, saat masih bersama ayah Elena."


"Kamu kenal Tante Jeni?"


"Ya, kan dia sering ke sini mengantarkan cucian ke sini." ucapku. Serta satu hal kejadian yang tidak bisa kulupakan seumur hidup.


"Dia itu anak Tante Jeni."


Wah, ternyata itu anak Bu Jeni yang tidak pernah aku lihat. Dunia memang sempit ternyata. "Kalau begitu aku masuk dulu ya Kak? Hmmm ... sepertinya aku ingin mencoba persaingan masuk perguruan tinggi negeri, Kak."


"Ya, bagus lah ... Kamu mau masuk jurusan apa?"


"Aku tertarik menjadi guru, Kak. Siapa tahu nanti aku bisa membangun sekolah di dusun. Aku ingin dusun kami memiliki sekolah tingkat SMA. Siapa tahu ada rezeki bisa membangun sekolah di sana kan?"


Mata Kak Vina terlihat membesar. "Waaah, cita-citamu keren dan sangat mulia. Semoga saja harapanmu bisa direalisasikan."


"Aaamiiin."


Setelah usai pendaftaran kami melanjutkan pekerjaan yang tidak habis-habis ini. Seperti yang Kak Vina katakan, sekarang aku sudah mampu mempekerjakan sepuluh orang menjadi karyawan laundryku, termasuk Kak Vina.

__ADS_1


Aku juga sudah memiliki beberapa mesin cuci laundry yang bisa mengeringkan pakaian sekaligus. Alhamdulillah, semuanya berjalan begitu mulus dan sangat lancar. Semua ini juga berkat bantuan pasukan ibu-ibu gibah yang kece badai.


Karena mereka, laundryku cepat dikenal oleh masyarakat sekitar. Hingga usahaku ini berkembang dengan cepat. Jadi kusus ibu-ibu penolongku itu, aku memberi promo tanpa batas.


Sebulan kemudian, aku pun melaksanakan tes masuk perguruan tinggi negeri. Aku memilih jurusan bidang sosial, yakni Akuntansi dan Pendidikan Ekonomi.


Kata teman-teman yang sama-sama mengambil paket C denganku, jurusan pilihanku levelnya tinggi semua. Namun, aku tentu tidak hanya mengandalkan keneruntungan saja. Aku belajar sambil mengisi waktu menunggu cucian, atau saat lengang. Aku membeli modul SBM PTN serta ikut les online bernama Ruang Cik.Gu.


Kali ini aku akan berjuang. Bismillah ... Kun faya kun. Antara yakin dan tak yakin ku kerjakan soal yang dilaksanakan secara online ini. Ya, zaman modern ini semuanya dilakukan secara online.


Sepertinya nanti aku akan membuka layanan jemput antar laundry yang bisa dipesan secara online juga. Hmm ... spertinya aku harus mencari orang yang cerdas membuatkan aplikasi market place untuk laundryku. Agar usahaku ini bisa semakin berkembang.


Usai melaksanakan ujian, aku segera kembali ke toko. Elena sudah menantiku di sana. Kasihan sekali dia, akhir-akhir ini sering aku tinggal. Hmmm, nanti saat kuliah pasti akan semakin sering kutinggal ya? Aaah, apa aku tidak usah kuliah saja?


Toko sudah terlihat, netraku langsung menangkap sosok pria yang menggendong Elena. Kenapa dia berada di sini? Aku putar gas sekencangnya dan langsung turun setelah motor kuparkirkan.


Aku rebut Elena dari pria itu. Di dekatnya sedang terparkir mobil mewah bewarna maroon, persis seperti yang aku lihat beberapa waktu lalu. Ada yang berbeda dengannya saat ini, dia terlihat sangat berkelas.


"Bagaimana kabarmu, Dek?"


Dulu, panggilan itu terdengar sangat manis di telingaku. Entah kenapa, saat ini jadi aku malu dan jijik mendengarnya. Dia terus memperhatikanku dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.


"Sekarang kamu terlihat berbeda ya, Dek? Kamu terlihat semakin cantik saja."


Perutku terasa bergejolak mendengar ucapannya itu. Aku ingin membawa Elena masuk ke toko. Rasanya ingin muntah sepuasnya di dalam kamar mandi.


Sontak aku bergerak kembali ke hadapan Bang Alan. "Menyesal? Hal yang paling kusesalkan dalam hidupku adalah mengenalmu."


"Namun, aku juga berterima kasih padamu karena telah membawaku keluar dari dusun. Hingga membuat pikiranku terbuka, bahwa dunia ini bukan terkungkung di sekitar dusun saja."


Bang Alan terus mencoba membaca apa yang ada dalam pikiranku. "Bagaimana aku saat ini? Apakah aku terlihat semakin tampan?"


Aku pun mulai menilainya dari atas hingga ke bawah. "Ya, kamu selalu tampan."


Bang Alan melirik Elena. "Semakin hari, Elena semakin tumbuh dengan baik dan cantik. Aku sadar, ternyata dia menyalin dirimu. Nesya ... apakah kamu masih mencintaiku?"


"Apa urusanmu dengan perasaanku. Aku rasa aku tak perlu menjawabnya."


"Jujur saja! Jika kamu masih mencintaiku, aku akan sangat bersedia kembali lagi padamu."


Ucapannya barusan membuat perutku semakin mual. Sungguh tinggi sekali kepercayaan dirinya?


"Aku tahu kamu masih sangat mencintaiku. Jika kamu masih mau menerimaku, aku akan berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan meninggalkan Dian, untukmu."


Kenapa dia bicara seperti itu? Apakah pernikahannya tidak bahagia? Wajahnya terlihat sangat sendu. Aduh, hatiku ... jangan mudah luluh begini.


Bagaimana pun aku sudah pernah hidup dengannya. Kala itu, hanya aku yang mencintai dia. Namun, dia tidak menghargai apa yang aku rasa.

__ADS_1


Jika melihatnya seperti ini, membuatku seperti luluh ... kenapa ini? Aku tidak tega melihat wajah sendu dari pria yang pernah aku cinta ini. Dalam beberapa waktu kulewati tanpanya, tak kupungkiri ada sedikit rasa yang masih tersisa.


Aku beralih pada Elena. Aku kembali sadar. Tidak ... aku tidak boleh kembali padanya. Aku tidak mau lagi kejadian yang sama terulang. Ingat ... dia itu penjual cinta. Sadar lah!


"Kenapa diam saja, Nesya? Kamu masih mencintaiku bukan?"


"Tidak! Aku sama sekali tidak mencintaimu lagi!"


"Kamu jangan membohongi hatimu! Aku masih bisa merasakannya."


"Tidak! Aku sudah mencintai orang lain. Kamu saja bisa, kenapa aku tidak?"


"Kamu jangan bohong! Jika memang sudah ada pria lain, tunjukan! Aku baru bisa mempercayai jika dia benar-benar kulihat oleh mata kepalaku sendiri."


Mataku liat melihat ke segala sisi. Kebetulan ada mobil yang menepi hendak ke sini. Itu pasti mobil milik pelanggan. Aku segera bergerak menuju pintu pengemudi dan membukanya begitu saja.


"Sayang, kebetulan sekali kamu datang?"


Wajah pria itu, pria yang terlempar kotak bedakku di pantai, terlihat heran dan menunjuk dirinya. Aku kedip kan mata, dia malah membuang muka jengah. Aku tangkupkan kedua tangan memohon pengertiannya.


Pria yang tidak dikenal namanya ini langsung aku tarik turun dari kursi pengendara. Dia tergopoh turun dengan wajah bingung.


"Bang, kenalkan ... dia lah kekasih baruku. Aku sangat mencintainya. Kami akan segera menikah."





Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.


Napen Author: Selvi_19


Judul karya: Cahaya dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)


Blurb


Sebuah kebahagiaan hilang dalam sekejap karena terjebak dalam lingkaran yang tak pernah dia inginkan, semua orang yang melihat kehidupannya berada dalam kebahagiaan tetapi kenyataannya tidak seperti yang mereka lihat.


"Aku tidak pernah menginginkan kehidupan seorang ini dan apa aku masih bisa merasakan kehidupan seperti dulu lagi". Sintia


"andai dulu aku mencari kebenaran lebih dulu pasti jalan tak seperti ini". Ilham


bertemu kembali dengan orang di masa lalu sangatlah menyakitkan saat dirinya tak seperti dulu lagi, itulah yang Sintia alami saat bertemu kembali dengan ustadz Ilham. Pertemuan itu membuat ustadz Ilham selalu memimpikan Sintia sedangkan Sintia selalu bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang tidak dia kenal yang memintanya untuk menikah dengan suaminya dan menjaga anaknya


__ADS_1


__ADS_2