Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
89. (PoV Arendra) Malu


__ADS_3

bugh


bugh


bugh


"Dasar dosen ke pa rat! Lu udah selingkuh dengan bini gue, hah?"


Bogem mentah dari Gani duluan mendarat pada wajahku. Aku berhasil menangkap dan menahan tinjunya. Dia tiba-tiba menye rang mendahului langkahku. Sekarang adalah giliranku membalas dengan memelintir tangan yang baru saja merusak wajahku yang berharga.


"Sekarang udah jagoan kau. Berani sekali membolak-balikan fakta." Kubuat dia bertekuk lutut memijak bagian belakang lututnya.


"Lu bener-bener gak ada otak ya? Kemana aja selama ini sampai tak tahu dia hamil?"


"Tak mungkin! Gue udah tiga bulan tak berhubungan lagi dengannya. Lu pasti orang yang menghamili dia!"


"Enak aja lu nuduh-nuduh gue! Kenyataannya lu yang selingkuh dengan Lingga!" Beberapa waktu dalam posisi yang sama, perlahan tubuhnya yang tadi tegang penuh tenaga, terasa mulai kendor.


Kulepaskan kuncian tangan yang tadinya kutahan di belakang tubuhnya. Semakin lama tubuhnya terasa semakin layu menopang dirinya berpegang pada lantai.


"Anak siapa yang dikandung Reina?" gumamnya.


"Masih nanya!?" Aku berusaha menahan amarah. Aku kira cuma suami Nesya yang menjadi laki-laki tidak tahu diri di dunia ini. Ternyata, Gani—dia yang dulu menjadi sahabatku—melakukan hal yang sama pada wanita yang pernah kucinta.


"Minta maaf lah padanya! Jika dia masih memaafkan, berarti kau masih beruntung!" Akhirnya aku pergi meninggalkan rumah sakit ini. Aku harus bersiap untuk ke kampus.


*


*


*


Di dalam kelas, aku merasa cukup mengantuk. Sehingga, aku hanya bisa memberi tugas mahasiswa untuk berdiskusi mengenai masalah-masalah akuntansi yang pada umumnya terjadi.


"Saya ada urusan sejenak. Laporan diskusi kelompok bisa langsung diantarkan kepada saya. Tugas ini bisa dikumpulkan kepada ketua kelas ini."


"Baik, Pak."


Setelah itu, aku segera menuju ruang kerja. Saat berada di koridor, ada Nesya yang menatap panjang ke arahku. Dia berjalan memeluk modul perkuliahan yang terlihat cukup tebal.


Ku beri kode agar dia ikut ke ruang kerja. Dia melihat ke segala arah lalu mengangguk. Aku berjalan duluan, supaya tidak terlalu menjadi pusat perhatian.


Sampai di ruangan, Nesya belum juga muncul. Kepala kutopangkan pada kedua telapak tangan bersandar pada kursi putar di ruang kerja. Kupejamkan mata, dan ternyata aku benar-benar ketiduran.


tok


tok


tok


Ketukan pintu membangunkanku dari tidur. Wajah segera kuusap, masih terasa perih karena pukulan yang dibeberikan Gani tadi. Mataku menangkap sesuatu yang tadinya tidak ada. Di atas meja ada kopi kalengan dan sebuah kotak seperti salep di atas selembar kertas.


tok

__ADS_1


tok


Kembali terdengar ketukan pintu membuatku semakin tersadar. "Masuk!"


Pintu terbuka dan ketua kelas yang aku tinggal tadi masuk untuk menyerahkan tugas yang aku beri. "Sudah lengkap?"


"Sudah, Pak." Setelah kuucapkan terima kasih, dia langsung keluar. Jadi, aku benar-benar tertidur selama empat SKS.


Kopi kalengan tersebut kuambil, dan ternyata di bawahnya ada selembar surat, dari Nesya.


Wajah Bapak kenapa? Nanti jangan lupa pakai salep lidah buaya ini ya. Bapak terlihat sangat lelah. Apakah yang terjadi tadi malam? Jangan lupa kopinya diminum biar semangat makin bertambah.


^_^


Membaca pesannya ini membuatku menyayangkan telah melewati pertemuan dengan kekasih hati. Dengan segera kubuka ponsel melakukan panggilan. Namun, panggilanku ditolaknya. Tak lama, sebuah pesan chat masuk.


[Udah bangun, Pak? Aku ada kuliah.]


Pesan dari dia segera kubalas. Sebentar lagi waktunya istirahat siang.


^^^[Makan siang bareng yuk?!]^^^


Dia pun membalas pesanku.


[Gak usah, aku malu. Nanti ketahuan sama yang lain.]


^^^[Jadi kamu malu jalan denganku?]^^^


tok


tok


Wah, apakah itu Nesya? Dengan semangat 45 aku bangkit ingin menyambutnya. Aku buka pintu. "Khusus buatmu, tak perlu mengetuk pin—" Ternyata, bukan Nesya. Tetapi Dewi—anak Pak Suhandi, ketua Prodi.


"Dewi? Tumben kamu datang ke sini?" Aku intip kiri kanan, untung lah tidak ada Nesya.


"Aku mau bicara denganmu, Mas."


"Oh, ya udah ... Mari masuk." Kupersilakan dia masuk ke ruangan, tetapi dia menggelengkan kepala.


"Aku ingin bicara sambil makan siang berdua denganmu. Masalah ... hmmm ... Lebih baik kita bicarakan di luar."


"Tapi, aku sudah memiliki janji makan siang." ucapku.


Wajahnya yang tadi tertunduk, mulai tegak. "Ooh, begitu?" Wajahnya kembali tertunduk.


"Sekarang aku mengerti, kenapa kamu tidak pernah menanggapi pesan dariku. Baik lah, aku pergi." Dia bergerak salah arah, dan dari arah yang salah terlihat Nesya yang tak tahu dia berdiri sejak kapan.


Dewi memutar arah kembali, dan pergi tanpa menoleh sedikit pun padaku. Nesya berjalan mendekat.


"Kenapa dia menangis? Apa yang Bapak lakukan?" wajahnya terlihat penuh dengan tanda tanya. "Siapa dia?"


"Bukan siapa-siapa. Tak usah kamu pikirkan! Jadi kamu mau makan siang bersamaku?"

__ADS_1


Dia mengangguk. "Tapi, jangan deket sini ya? Cari tempat yang agak jauh."


"Kenapa harus jauh-jauh? Kan waktu jadi terbuang kalau nyari tempat lagi."


"Ooh, ya udah ... Kita makan sendiri-sendiri saja."


"Dih, dah pinter ngancam-ngancam?"


Nesya melirik ke kiri dan ke kanan. "Kan aku tidak enak sama mahasiswa lain jalan sama dosen idola mereka."


"Kamu terlalu berlebihan. Ya udah, kita cari tempat lain. Tunggu sebentar!" Aku kembali masuk hendak mengambil kunci mobil.


"Pak, aku jalan duluan ke parkiran." Nesya sedikit mengintipku.


"Bareng aja ah!" Dia kukuh menggelengkan kepala dan melambaikan tangan.


Aku hanya bisa menyugar rambut dan tak tahu harus kesal pada siapa. Entah kenapa, status yang semakin jelas ini malah membuat dia semakin menjauh seperti ini.


Dia telah pergi, dan aku keluar tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu. Saat mengunci pintu, Pak Suhandi merangkul pundak putrinya yang menangis berjalan mendekatiku.


"Ekhem ...."


Aku bagai orang yang tertangkap basah oleh sang ayah telah menyakiti sang putri. Untung saja Nesya telah pergi lebih dahulu. Kalau tidak, mungkin akan— ah ... pusing.


"Saya dengar, kamu memiliki kekasih baru, Rendra?" ucap Pak Suhandi. Dewi, putrinya merangkul lengan sang ayah menggelengkan kepala.


Apa aku salah? Bukan kah selama ini aku tidak pernah menanggapi Dewi. Biasanya, jika perempuan tidak terlalu ditanggapi, dia akan menjauh dengan sendirinya. Kami juga tidak pernah saling berkirim pesan lagi. Kenapa tiba-tiba seperti ini?


"Saya tidak memiliki kekasih, Pak."


"Lalu kenapa kamu menolak ajakan Dewi?"


"Karena saya sudah ada janji makan siang bersama calon istri."


Pak Suhandi terdengar melengos memperbaiki kaca matanya. "Kamu, mau mempermainkan putri saya?"


"Maaf, Pak. Saya tak pernah berniat mempermainkan putri Bapak. Bahkan, kami tidak—" ucapan ku hentikan karena netra milik Dewi telah berkaca-kaca dan siap menumpahkan air mata.


Akhirnya, aku menunduk. Bukan karena rasa bersalah, tetapi tak kuat melihat sebuah tangisan dari seorang wanita. "Sekali lagi saya minta maaf. Mungkin kita tidak berjodoh. Ada pria yang lebih baik untukmu nantinya."


Aku menundukan badan, mohon diri kepada atasan dan putrinya untuk segera menyusul Nesya. Aku berjalan lurus, tanpa menoleh kembali ke belakang. Ternyata, ada Nesya yang berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca juga.


*


*


Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.


Napen: AdindaRa


Judul: Complicated Mission


__ADS_1


__ADS_2