
*Halo Kakak Pembaca yang tercinta, maaf ya terlambat Updatenya. Lagi mengurus real life yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan.*
"Buk, kok Papa lama banget pulangnya?" Elena memasang wajah cemberut melihat ke arah tangga sambil memegang boneka kelinci.
"Iya, kalau Papa udah mulai bekerja, maka Papa pulangnya memang jam segini. Elena sabar yaaa?"
Elena membulatkan bibir menuju sofa menonton siaran si kembar tuyul dari negeri jiran. Kami sepakat tinggal di ruko agar tetap bisa mengawasi karyawan yang bekerja. Apalagi setelah masuk tingkat ketiga ini, kegiatan kampus sudah tidak terlalu padat.
Aku yang tidak bergabung dengan kegiatan mahasiswa lain tentu bisa kabur terlebih dahulu, untuk mengurus bisnis yang sudah membantu mengisi pundi-pundi keuanganku beberapa waktu terakhir.
Menjelang sore, aku kembali naik ke atas untuk menyiapkan kebutuhan bagi keluargaku. Ah, sudah lama semenjak berpisah dengan Bang Alan, aku tak pernah memasak bermacam hidangan kecuali menu kesukaan Elena.
Setelah Mas Aren menjadi bagian hidupku, aku kembali memulai browsing menu-menu baru yang tak kalah sedap. Apalagi Mas Aren selalu memuji masakanku, berbeda sekali dengan Bang Alan.
Aku merasa begitu diistimewakan, setiap hari dia mengatakan cinta, dan pujian bagai obral barang-barang di pasar. Dibandingkan bersama Bang Alan dulu, jangan kan pujian, mendengar dia mengajakku bicara pun begitu jarang. Dia mengingatku hanya di saat libidonya memuncak. Ya, aku rasa hanya sebatas itu.
"Assalamualaikum." sebuah salam muncul dari arah tangga.
__ADS_1
"Walaikumsalam, Papaaaaa ...." Elena langsung berlari ke arah ayah sambungnya itu. Mas Aren langsung menggendong mencium pipi kiri kanan gadis cilik itu.
"Duuh, udah wangi ni si cantik."
"Papa kok lama pulangnya? Elena kan kangeeeen." Rajuknya memeluk leher Mas Aren.
Aku pun meninggalkan pekerjaan di dapur sejenak menyambutnya dengan pelukan dan sedikit kecupan di bibir. Elena juga memberi kode ingin dicium di bibir, tetapi aku larang.
"Anak perempuan dapat ciumannya dari Ibuk. Kalau ciuman dari papa buat anak cowo."
"Waaah, Ibuk tahu aja nih Papa kepengen anak cowok. Elena mau adek cowok nggak?"
Kami berdua terhening saling berpandangan. "Dia kenapa?" bisiknya.
Aku hanya mengedikkan bahu, beberapa waktu tercium aroma gosong dari masakan yang aku tinggalkan tadi. "Aduuuh, aku ke dapur dulu." Aku berlari menengok dendeng yang sudah terlalu kering alias gosong.
Aku lihat Mas Aren masuk ke dalam kamar, mungkin dia membujuk Elena agar tidak ngambek lagi. Aku sendiri merasa heran, Elena lebih mudah dibujuk oleh papanya itu dibanding aku wanita yang melahirkannya.
__ADS_1
Setelah urusan dapur beres, meski ada kegagalan sedikit, tapi masih ada yang lain yang masih bisa dinikmati. Beres ini beres itu, akhirnya selesai juga. Meja makan sudah siap menerima tamu yang akan duduk di sana.
Aku intip sejenak, ke arah kamar. Elena sedang mengacak-acak isi tas papanya. Ini berarti Mas Aren sedang berada di kamar mandi.
"Aduuh, Sayaaaang? Isi tas Papa kok dikeluarin semua?"
Mataku menangkap banyak sekali amplop warna-warni yang berserakan di atas kasur, hasil kerja keras Elena membongkar isi tas Mas Aren.
Karena warna-warna amplop tersebut sangat cantik, hatiku tergerak untuk melihat dan mengeceknya. Kira-kira itu surat apa? Apakah suamiku mulai menulis surat cinta untukku secara diam-diam.
"Ibuk ... Elena ga mau punya adek." Elena kembali memasang muka bebek melipat kedua tangan dengan mulut yang membulat.
"Iya, nanti kita bilang sama Papa ya. Papa disuruh puasa dulu sampai Elena mau punya adek."
"Puasa, Buk? Apakah sudah masuk bulan puasa lagi? Elena mau ikut puasa ya, Buk."
"Beneran ya ikut puasa?" Rambut Elena aku acak dan aku kembali terfokus pada amplop warna warni tersebut.
__ADS_1
Aku mulai membuka amplop tersebut dan membacanya dengan seksama.