
Yaaah, uang yang sudah aku tabung beberapa waktu ini habis tak bersisa begitu saja karena membeli sebuah handphone.
Baru jadi pacar saja, Lingga udah minta ini itu kepadaku. Ah, ternyata memang Nesya lah wanita terbaik yang aku miliki, tetapi aku sia-siakan. Seandainya saja aku sadar lebih cepat, mungkin Nesya tidak akan lepas dariku.
Namun, apa boleh dikata, nasi sudah jadi bubur. Saat ini dia terlihat bahagia dengan pria itu. Aaah, ini sungguh memuakkan. Aku tak rela kamu bahagia dengannya. Seharusnya kamu itu bahagianya sama aku.
Aku pandangi foto pada dompetku. Di sana ada sebuh foto ketika aku dan Nesya masih pacaran. Di saat Nesya menggebu-gebu mengejar-ngejarku.
Ya, aku yang bodoh ini, karena usia terlalu muda, tidak bisa menjadi suami yang baik bagi wanita terbaik yang pernah aku miliki. Hanya bisa selingkuh, memanfaatkan, dan menyakitinya.
"Dek, apakah aku masih bisa memilikimu kembali? Tak ada yang lebih memahamiku selain kamu."
Aku harap, Nesya mendengar apa yang aku doakan setiap waktu. Tak henti aku berharap kamu kembali kepadaku. Mengenang masa di saat kita masih bersama. Apa kamu masih mengingatnya?
Ponsel di atas nakas bergetar menandakan adanya panggilan dari seseorang. Ah, Lingga lagi. Kenapa pagi-pagi gini dia sudah menelepon? Bukan kah seharusnya dia berkuliah. Atau jangan-jangan, dia mau minta uang saku kepadaku?
"Haloo, Sayaaang." sapanya di seberang. Sepertinya dia berada di kampus.
"Hmmm, kuliahnya yang rajin. Hati-hati juga sama ponselnya, jangan sampai jatuh, jangan sampai masuk ke dalam air, jangan sampai hilang. Harganya mahal tuh."
Raut wajah Lingga yang tadinya terlihat cerah, seketika berubah. Kenapa berubah? Apa dia marah? Hmm, terserah. Aku sudah tidak berminat lagi dengannya.
"Iya." jawabnya singkat.
__ADS_1
Lalu perhatiannya teralih. Sepertinya ada yang baru saja datang. Sebuah wajah tiba-tiba muncul di layar ponselku sekejap. Wajah itu, wajah Nesya? Aaah, aku rindu.
Namun, kenapa hanya sejenak saja? "Shoot wajah Nesya lagi dong?" pintaku.
Kembali raut wajah Lingga berubah cemberut dan menutup panggilanku. Huh, ini anak kenapa sih? Aku kan meminta dia lewat ponsel yang aku belikan. Masa gitu aja dia nggak mau?
Akhirnya aku putuskan untuk mengunjungi Laundry milik jandaku itu. Aku ingin bertemu Elena. Kencantikannya persis meniru wajah ibunya. Setidaknya, saat melihat putriku itu, aku bisa membayangkan melihat ibunya di masa kecil.
Namun, harapan untuk menemui Elena pupus. Elena sedang dikasuh oleh datuk dan neneknya dari dusun. Bagaimana ini? Bapak Nesya sudah memperingatiku untuk tidak terlalu sering menemui Nesya lagi karena Nesya adalah milik orang lain.
Untuk menghindari fitnah, aku dilarang berkunjung jika suaminya tidak ada.
Aah, aku kan hanya ingin bertemu anakku. Mungkin tidak masalah jika menemui anakku saja. Namun, langkah kaki kuhentikan kembali.
Tiba-tiba hatiku menjadi ciut tidak siap berbicara secara langsung dengan orang tua Nesya, mantan mertuaku. Sepertinya aku akan menunggu waktu orang tuanya kembali saja. Mungkin dua atau tiga hari lagi mereka sudah kembali ke dusun.
Aaah, aku memiliki ide. Bagaimana aku meminta Lingga untuk mengajak Nesya jalan-jalan? Nanti saat mereka jalan, aku akan mampir.
Lalu aku utarakan keinginanku kepada Lingga. Dengan iming-iming akan mentraktir mereka, akhirnya Lingga memenuhi permintaanku.
Akhirnya aku berangkat ke lokasi yang telah kami sepakati. Meski Lingga tadi mengatakan Nesya sulit mendapat izin keluar dari suaminya, akhirnya Nesya mendapat izin juga.
Aku keluarkan sisa-sisa uang yang aku miliki untuk mempersiapkan ini semua. Lagi pula, sebentar lagi aku akan menerima gaji dari Vina sebagai pengasuh anaknya.
__ADS_1
Sebenarnya Vina sudah sering meminta rujuk denganku, tetapi atas masa lalu yang sudah kami lewati berdua, aku merasa tidak bisa lagi menjalani hidup menjadi kacung berstatus suami untuknya. Ini sungguh menjatuhkan harga diriku yang sudah aku bangun setinggi langit.
Dengan menggunakan pakaian terbaik yang aku miliki, bermodalkan mengubah gaya rambut yang membuat pesonaku semakin keluar, parfum mewah pemberian Vina saat jadi suaminya dulu, aku siap untuk membuat Nesya berpaling kembali padaku.
Saat sampai di lokasi, aku endus kembali pakaian dan memastikan wanginya sungguh membuat hati semua wanita berbunga, dengan penuh percaya diri aku melangkah masuk mencari wajah itu, wajah mantan istriku.
Setelah berkeliling-keliling, akhirnya aku melihat Lingga dan Nesya berdua sedang membicarakan sesuatu yang terdengar sangat seru. Aku pun melangkah menuju meja mereka.
"Haaai, lama menunggu ya?"
"Hai, Sayang. Enggak kok, kami asik kok ngobrolnya tanpa tahu waktu." ucap Lingga membalas sapaanku.
Akan tetapi, mataku tak berpindah sedikitpun melihat wajah itu. Dia sungguh terlihat sangat cantik. Sungguh sangat berbeda dari waktu terakhir melihatnya. Tiba-tiba, rasa perih kurasakan pada lenganku.
Lingga mencubitku memasang wajah cemberut. Aku pun membelai rambut Lingga agar dia bisa jinak lagi.
Nesya sama sekali tidak memperhatikanku. Dia melambaikan tangan pada seseorang yang baru saja datang.
Cuuuup
Orang yang baru datang itu mengecup mesra bibir Nesya.
"Sudah lama menunggu, Sayang?"
__ADS_1
Pria itu langsung duduk di samping Nesya, merangkul mantan istriku seakan memasang pengumuman dia dilarang untuk didekati. Sedang dijaga oleh pawang yang garang. Sebelas dua belas dengan adiknya, yang katanya kuliah di ibu kota.
"Ada apa ngajak-ngajak istriku bertemu denganmu?" tanya laki-laki sialan itu.