
"Ooh, sekarang aku tahu! Ternyata kamu hanya mengandalkan kekerasan!" Wanita tadi memijat leher yang terlilit tangannya sendiri.
"Kalian mau coba? Silakan!" tantangku.
Lalu aku segera kembali ke motor dan meninggalkan mereka. Sebenarnya saat ini degup jantungku sudah tak karuan lagi. Aku takut menghadapi mereka sendirian, tetapi ... ternyata aku bisa.
*
*
*
Malam pun datang, tanpa memberitahukanku, Pak Arendra datang menjemputku.
"Ayo ikut aku!" Pak Arendra telah menggendong Elena.
"Kenapa tidak memberi kabar?"
"Kalau aku kabari dulu, nanti keburu larut menunggu kamu dandan." ucapnya. "Pakai jaket, dan jangan lupa siapkan untuk Elena juga!"
Tanpa pikir panjang, aku segera memakai jaket, dan memasangkan jaket untuk Elena. Setelah itu tanpa disuruh, Pak Arendra menggendong Elena turun dan menaikannya ke dalam mobil.
Sementara aku, setelah memastikan semua terkunci, segera masuk ke dalam kendaraan Pak Arendra. "Kita mau ke mana sih?"
"Kamu lihat saja. Aku ingin kamu mengetahui semua yang sedang terjadi padaku saat ini."
Ah, pasangan sebenarnya seperti ini? Dulu, semuanya aku lakukan sendiri. Apa yang dilakukan oleh Bang Alan di belakang pun aku tak tahu.
Kendaraan Pak Arendra berhenti di pelataran parkir sebuah rumah sakit. "Siapa yang sakit, Pak?"
"Kamu bisa melihatnya sendiri nanti."
Kami semua keluar, dan Pak Arendra kembali menggendong Elena. Namun, kami dicegat oleh security rumah sakit. Elena tidak boleh masuk ke dalam karena di bawah umur.
"Padahal, aku ingin mengenalkan kalian berdua kepada mereka." ucap Pak Arendra sedikit kecewa.
"Mereka siapa?"
"Reina dan suaminya."
"Jadi mereka sudah baikan?"
"Sepertinya masih dalam proses. Senenarnya, Gani—suaminya menuduhku menghamili Reina." Pak Arendra menunggu reaksiku.
"Kenapa kamu tidak terkejut?" Wajahnya terlihat heran.
"Itu sekedar tuduhan saja kan? Aku bahkan menemukan sesuatu yang nyata. Pasangan hidupku—" ups ... Hampir saja keceplosan. Beruntung masih bisa kutahan.
__ADS_1
Pak Arendra menarik tanganku dan menautkannya kembali seperti waktu itu. "Kalau begitu, ayo kita ke rumahku saja. Buat menemui kedua orang tuaku."
"Lalu Mbak Reina bagaimana?"
"Biar lah ... Biarkan mereka menyelesaikan urusannya sendiri." Lalu Pak Arendra menarik tanganku dan mencium punggung tangan yang berada dalam genggamannya.
"Sudah ya, Pak. Jangan keterusan! Belum halal!"
Dengan seketika dia melepaskan tangan mengusap wajahnya yang tersinyum kikuk. "Kamu bisa romantis dikit gak sih?"
*
*
*
"Waaah, jadi benar kalian sudah serius? Jadi kuliah Nesya bagaimana?" sambut Bu Jenie.
"Tetep lanjut, Mbak."
"Mama! Masa menantu panggil Mbak sama mertuanya?" ucap Pak Arendra kembali mengingatkan.
"Oh iya, Mama maksudku."
"Terus tadi malam kamu ngapain ke rumah Reina?" tanya calon ayah mertuaku.
"Jadi kapan nih Mama dan Papa bisa ke dusun buat lamaran langsung kepada orang tuamu." tanya Bu Jenie, ekhemm ... Maksudku calon ibu mertuaku.
"Kapan pun itu, yang penting sebelum musim hujan, Mm—"
"Mama! Mama! Kenapa susah banget lidah kamu memanggil mamaku dengan 'Mama'?" Sepertinya Pak Arendra sudah mulai gregetan karena lidahku yang sulit dibelokan.
"Lagi berproses, Pak." ucapku. Oh ya ... Aku lupa ... Hatiku masih panas teringat dia tidak menceritakan apa pun tentang dia dan mantannya itu.
"Lho? Masa manggil, Pak? Coba belajar panggil 'Sayang', 'Beb', atau apa gitu biar terdengar romantis gitu?" ucap sang ibu.
"Buk ... Buk ...." Pak Arendra memanggilku. Akan tetapi, aku merasa enggan untuk melihat ke arahnya.
"Lho? Kamu malah memanggil Buk?" Ibu mertuaku semakin sewot.
"Ini adalah panggilan indah kami berdua, Ma. Mama jangan ribut terus, ah." Aku tidak melihat ekspresi pria itu. Yang jelas kepalaku terus membelakangi wajah Pak Arendra.
Kami membicarakan rencana masuk dusun. Aku sedikit khawatir jika mereka memaksa masuk ke dusun. Jadi aku lebih memilih meminta Bapak dan Mak untuk ke kota. Biar proses lamaran di ini menjadi lebih mudah.
"Tunggu ... Kita video call dulu dengan Alven." ucap Bu Jenie langsung memencet-mencet ponselnya. Tak lama, panggilan video diangkat oleh yang di seberang.
Kami semua melihat Bang Alven dan aku pun melambaikan tangan. Wajah Bang Alven terlihat heran.
__ADS_1
"Kenapa malam-malam begini ada Nesya di rumah?" tanyanya.
"Kejutaaan ... Mas Aren dan Nesya akan segera menikah. Kapan bisa pulang?" tanya Bu Jenie ceria.
"APA?" Dia tampak sangat terkejut.
"Ma, apa aku bisa bicara berdua saja dengan Mas Aren?" tanya Bang Alven. Raut wajahnya yang datar, terlihat semakin suram.
Pak Arendra langsung mengambil ponsel tersebut dan pergi entah ke mana di sudut rumah yang sudah bagai istana ini.
Beberapa waktu kemudian, Elena telah tertidur dalam pangkuanku. Aku sudah tidak tahu harus membicarakan apa lagi dengan kedua orang tua Pak Arendra ini. Namun, pria yang katanya calon suami belum juga menyelesaikan obrolan dengan sang adik.
"Mereka obrolin apa sih? Jangan bilang mereka lagi berantem." ucap Bu Jenie memecah keheningan yang semakin terasa.
"Hussh ... Mana mungkin mereka berantem. Mereka kakak dan adik yang akur."
"Akhir-akhir ini mereka berantem terus tauk, ah ... Papa gak perhatian." guman Bu Jenie.
"Kenapa mereka berantem, Ma?" kucoba mulut ini terlatih dalam memanggil Bu Jenie sebagai calon mertuaku.
"Ooh, engga ... Hanya masalah antara kakak dan adik." ucap Bu Jenie kembali
"Aaaiih, Mama udah gak sabar ingin memberitakan kepada Retno, Mia dan Widya atas rencana pernikahan kalian ini. Mereka pasti bakalan seneng banget."
Aaah, aku ... Aku tak tahu bagaimana saat bertemu dengan ibu-ibu penolong itu nantinya.
Saat muncul, Pak Arendra telah menyudahi pembicaraannya dengan sang adik. Wajahnya terlihat sumringah penuh dengan kemenangan. Mereka habis membicarakan apa ya kira-kira?
"Yuk ... Aku antar kamu pulang." Pak Arendra memamerkan kunci mobilnya lalu mengangkat Elena dan menggendong hingga naik ke mobil. Keheningan panjang menemani perjalanan kami, tetapi bibirnya tiada henti tersenyum.
Sebenarnya aku penasaran dengan pembicaraan mereka, tetapi rasa marah yang tak jelas, masih memenuhi hatiku. Saat sampai di toko, Pak Arendra menarik Elena naik kegendongannya kembali.
Aku pun membuka pintu toko membiarkannya masuk mengantarkan Elena ke atas. Tak beberapa lama Pak Arendra kembali turun, dan aku masih menunggu di pintu bersiap menutupnya saat dia keluar.
Namun, tanpa aba-aba Pak Arendra memelukku secara tiba-tiba dari belakang. "Kamu marah padaku?" bisiknya langsung di telinga.
Tanpa bicara apa-apa, aku mengelak dari bibirnya yang menyentuh daun telingaku. Kepalanya bergerak ke sisi satu lagi, hingga pipi kami saling bersentuhan.
"Katakan padaku, apa yang menyebabkan kamu menjadi marah?"
Aku coba melepaskan rangkulan dari belakangnya. Tetapi tangannya begitu erat memelukku hingga aku merasa cukup sesak.
"Lepaskan aku! Kamu bisa membuatku kehabisan nafas."
Pak Arendra melepaskan rangkulannya, memutar tubuhku seenaknya hingga kami saling bertatapan. "Jika kamu kehabisan nafas, aku akan memberikan nafas buatan untukmu."
Wajahnya bergerak semakin mendekat padaku. Ah, apa-apaan ini? Aku ini lagi marah, tetapi jantungku berdegup kencang saat melihat bibirnya begitu dekat dengan bibirku.
__ADS_1