
*Haloo kakak semua ... Terima kasih atas dukungan semuanya. Akhirnya ... karya ini berhasil dikontrak juga. Yeee ... udah gak galon lagi Authornya bisa up dengan lancar. 😇😇😇*
Untuk itu, Author pengen spill foto Elena dulu ya ... yang kurang suka boleh skip aja ... cekidot... visual karya ini bebas dari bule ... soalnya ga cocok aja orang dusun pakai wajah bule 😂😂😂
"Kamu? Kenapa diam saja? Kamu tidak menghargai saya ya?"
Kalau tidak salah nama beliau adalah Bu Gendis. "Maaf, Bu. Bukan saya tidak sopan. Hanya saja saya bingung ibu sedang berbicara dengan siapa?"
"Alaaah, kamu ini lancang ya? Berani juga kamu terhadap saya? Apa karena mentang-mentang saya bukan dosen kamu?" Nada bicaranya semakin lama terdengar semakin tinggi.
Aku bingung harus berkata apa. Namun, aku membenarkan apa yang diucapkannya. Untung saja dia bukan dosen yang mengajar di fakultas dan jurusanku. Jadi, aku rasa tidak perlu khawatir dengan dia.
Wanita itu mendorongku untuk menjauhi kendaraan putih, bersih, dan mengkilap ini. Dia masuk ke dalam kendaraan tersebut melakukan sesuatu lalu menutup pintunya.
"Kali ini, kamu tidak akan bisa mencuri sesuatu dari dalam kendaraan Rendra." Wanita ini melirik dengan ujung matanya bersidekap dada bersandar di pintu kendaraan ini.
Aku pun memilih menjaga jarak, agar tidak kena semprot lagi. Ini bukan karena aku khawatir kendaraan roda empat milik dosenku hilang, tetapi aku lebih memikirkan bagaimana kabar motorku yang dibawa oleh Pak Arendra?
Setelah setengah jam posisi yang terus berganti antara berjongkok dan berdiri, karena lelah, baru lah pria yang ditunggu oleh dosen yang lumayan muda ini datang. Wajahnya terlihat heran, sebagaimana aku juga merasa heran melihat Bu Gendis yang datang langsung saja mengatakan sesuatu yang cukup pedas kepadaku.
"Bu Gendis ada di sini?" Pak Arendra turun dari motorku dan berjalan mendekati dosen perempuan yang jutek itu.
"Tadi saya melihat ada mobil kamu yang terparkir di pinggir jalan. Ternyata, dia malah bermain-main di mobil kamu. Yaa, aku marahi saja." Bu Gendis menunjuk ke arahku dengan beringas.
Ya Allah, hari ini hari apa ya? Kenapa rasanya apes sekali ya? Aku hanya memberi kode dengan kedua tangan bergerak ke kiri dan ke kanan membantah tuduhan tersebut.
"Padahal saya yang meminta dia untuk menjaga mobil ini. Jika Anda yang datang, saya jadi merasa tidak enak." Pak Arendra mencoba membuka pintu kendaraannya.
Sekali menarik knop pintu mobil tersebut, dia gagal membukanya. Lalu dicoba sekali lagi, dia sedikit menggeleng dengan wajah heran. Pak Arendra berjalan mendekat kepadaku menyerahkan kunci motor.
"Kamu yang mengunci mobilku?" bisiknya menundukan kepalanya tepat ke telingaku sambil menengadahkan tangan.
"Bukan saya, Pak. Ibu itu yang menguncinya. Aku mah, mana mengerti dunia per mobilan." Punya motor saja berasa beruntung banget, tambahku di dalam hati.
Pak Arendra mengangguk. "Kamu boleh kembali," ucapnya.
"Terima kasih ya, Pak. Sepertinya list hutang saya semakin panjang saja."
Dia terlihat terkekeh mengangkat satu tangan dan beberapa detik tangan itu mengambang lalu dia menurunkan tangan dan balik kanan mendekati Bu Gendis. Pria itu langsung menengadahkan telapak tangannya meminta sesuatu kepada Bu Gendis. Aku pun segera menuju kendaraanku.
__ADS_1
"Mana kunci mobilnya?" Masih terdengar obrolan mereka dan aku mulai menyalakan motor.
"Lho? Bukannya sama kamu?" jawab Bu Gendis, aku tunda dulu rencana melajukan kendaraan ingin memastikan semua baik-baik saja.
"Lho? Jadi gimana cara Bu Gendis mengunci mobil ini?" Air muka Pak Dosen terlihat mulai panik.
"Aku pasang kunci manual, dan kututup dari luar." Bu Gendis menatap tajam padaku, aku hanya bisa menunduk takut akan mata itu.
"Biar dia tidak seenaknya masuk ke dalam mobil kamu." tambahnya dengan bahasa santai.
Pak Arenda langsung menepuk keningnya. "Aduh, padahal kunci masih ada di dalam mobil. Makanya, saya minta mahasiswa saya untuk menjaga mobil ini hingga saya kembali lagi."
Pak Arendra menggaruk pelipis dengan telunjuk memikirkan sesuatu. Lalu bergerak menuju ke arahku dan duduk di motor belakangku.
"Lhoh, Pak? Mau ke mana?" Bu Gendis terlihat tidak terima melihat pria yang sepertinya sangat disukai duduk di boncengan kendaraanku.
"Saya mau pulang dengan dia saja."
Lhoh? Denganku? Ya ampuuun, cobaan macam apa lagi ini? Bu Gendis pasti akan sangat membenciku.
"Lebih baik, kamu pulang bareng aku aja Ren! Aku lagi santai dan pekerjaanku sudah kelar." Bu Gendis menggunakan bahasa non formal. Sepertinya, mereka memang cukup akrab saat berada di luar kampus.
"Terima kasih, Bu. Saya mau pulang bareng dia saja--"
"Aaah, sore-sore gini enak banget naik motor tau. Kamu mau boncengi aku, atau aku yang boncengi kamu?"
Waduh, kenapa Pak Arendra malah sengaja menggunakan bahasa sok akrab seperti itu? Wajah Bu Gendis terlihat cukup kesal. Jika aku menjadi dia mungkin juga akan merasa kesal.
"Baik lah Ren ... jika itu mau mu, aku pergi." Bu Gendis berjalan menuju sedan biru yang dibawanya tadi.
Kami berdua menatap kepergian kendaraan tersebut dengan membisu. Beberapa detik kami masih di posisi yang sama. Setelah semua hening, hanya terdengar suara kendaraan yang berlalu lalang, aku mulai tersadar. Pak Arendra masih menungguku mengendarakan motor ini.
"Pak."
"Ya?"
"Kenapa harus dengan saya?"
"Karena aku sudah menggantikan benan motor kamu."
"Lho, Bapak menukar benan dalamnya?"
"Iya. Sebenarnya lebih enak tubless, tapi aku takut kamu tidak suka."
__ADS_1
"Berapa totalan semuanya?"
"Seratus juta."
"Apaaaa?"
"Iyaaaaa."
*
*
*
Aku memandangi kilauan pantai sore ini sebagai penumpang. Motor melaju dikendarai oleh pria aneh yang kata adalah seorang doktor muda. Setelah melewati beberapa perdebatan, akhirnya aku terpaksa mengantarkannya pulang untuk menjemput kunci cadangan mobil ke rumahnya. Kami sengaja lewat jalur pantai agar bebas dari pemeriksaan polisi, karena kami hanya memiliki satu helm.
"Pak, sepertinya Bu Gendis suka sama Bapak!"
"Apaaa?" teriaknya sambil berkendara.
"Iyaaa, kenapa Bapak begitu sombong gitu? Nanti nyesel lho?"
"Sudah ku bilang, jangan sok formal kalau di luar kampus begini!" Dia masih melajukan motor ini yang aku rasa lama-lama semakin kencang.
"Bapak sendiri selalu sok formal saat bicara dengan Bu Gendis. Padahal tadi di luar kampus juga."
"Itu---" beberapa waktu dia hening, laju motor ini aku rasa semakin kencang. "Apa kamu bisa untuk tidak membalikkan semua yang saya ucapkan?" Kendaraan terus semakin cepat. Aku mulai merasa gamang.
"Paaaak, ini terlalu ceppaaaat!" teriakku.
"Makanya pegangan!" teriaknya melawan angin.
"Udah pegaaangan!" Tanganku berpegangan pada bagian belakang motor.
"Pegangannya ke depan laaah!" teriaknya lagi.
"Gak mau!"
Dia terus melaju dengan kecepatan angin. Tak sengaja kendaraan ini menginjak sesuatu sehingga terasa sedikit goyang, membuatku refleks memeluknya dari belakang karena ketakutan.
Setelah semua terkendali, aku lepaskan kedua tangan yang memeluk erat pada pinggangnya. Aku ... aku ... kenapa denganku? Tidak boleh! Tidak boleh seperti ini! Jantungku berubah tidak karuan.
"Kenapaa dilepas?" teriaknya. "Kita harus buru-buru biar tidak kemalaman kembali ke kampus." teriaknya.
__ADS_1