
Huuufft, ada-ada saja yang terjadi. Dompet pakai dijambret lagi? Aku kan jadi bingung kalau dompet Pak Arendra benar-benar diambil maling. Untung saja si ikan membuat dompet itu berhasil lepas dari si maling.
Jika dompet itu benar-benar hilang, aku pasti akan merasa sangat bersalah.
Elena telah kuletakan di atas ranjang. Pak Arendra sudah kuusir untuk langsung pulang, sekarang adalah giliranku untuk menyelesaikan tugas kuliah yang tadinya sempat aku lupakan.
*
*
*
"Ibuk ... Ibuk ...." Suara Elena membangunkan ku.
"Ibuk, kok bobok di cini? Eyena bobok cendilian boboknya."
Aku tegapkan kepala, ternyata aku ketiduran saat mengerjakan tugas di depan laptop. Aku cek kembali laptop, ternyata tidak ditemukan lagi.
"Waduh, PR kuliah Ibuk hilang ...." aduku kepada gadis tiga tahun ini.
"Hilang di mana, Buk? Cini Eyena bantu cali." Elena membungkukan badannya seperti sedang mencari sesuatu di bawah meja.
"Di mana pe el Ibuk ilangnya?"
Aku tak punya waktu, aku harus bersiap dan sholat dulu. "Nanti kita cari lagi, Nak."
Aku laksanakan sholat yang sedikit terlambat, dan langsung mengajak mandi. Setelah semua beres hingga memberi makan selesai, laptop langsung kamasukan ke dalam ransel.
tep
tep
tep
Nah, persiapan pun selesai dan setengah berlari ku angkat Elena menuju ke bawah. Seperti biasa, Kak Vina sudah datang dan Elena langsung aku serahkan kepadanya.
"Tolong ya, Kak. Aku buru-buru karena harus copas kerjaan milik temen dulu."
Kening Kak Vina terlihat sedikit mengerut. "Copas?"
"Iya, copas alias copy paste, aliasnya lagi sama dengan nyontek."
"Udah punya anak gini bikin tugas masih nyontek? ckckck ...." Kak Vina berdecak dan menggelengkan kepala.
"Tugas yang semalam aku buat, sepertinya hilang kak, gara-gara aku ketiduran di atas laptop. Apes banget rasanya pagi ini."
Kak Vina hanya manggut-manggut antara paham dan tidak. "Ya udah, kalau bisa dicari dulu file nya. Jika benar-benar tidak ditemukan, apa boleh buat, silakan nyontek."
Jempol ku arahkan kepada Kak Vina, dan segera memanasi motor. Oh iya, helm ... aku kembali masuk dan langsung memasang helm, dari pada kelupaan lagi.
Saat sampai di luar, ternyata ada tamu tak diundang sudah nongol pagi-pagi begini. Aku pun naik kendaraan dan kunci motor dicabut oleh adik dosenku ini.
__ADS_1
"Sini kuncinya!" Apakah dia sejenis penambah kesialanku di pagi ini? Padahal aku berharap untuk segera sampai di kampus dan masih banyak ritual lain yang harus aku lakukan.
Aku coba mengambil kunci yang digenggamnya dengan erat. Dia benar-benar membuatku geram. Seharusnya aku sudah setengah jalan kalau tidak ada drama penarikan kunci ini.
"Ayo balikin!" Aksi rebutan belum juga usai.
"Kamu tak usah naik motor ke kampus." ucapnya.
Apa maksud dengan ucapannya itu? "Kenapa begitu?"
"Biar aku yang mengantarmu ke kampus." ucapnya kembali.
"Jangaaan!" Aku sungguh membutuhkan motor ini.
"Kenapa? Apa ada yang marah?"
"Bukan! Hanya saja nanti aku susah kalau tidak ada motor. Barang lima meter ke toko di depan kampus aja aku naik motor. Jadi, aku tidak bisa meninggalkan motor ini."
Aku harus bolak-balik ngeprint tugas. Tentu sebelumnya mencari teman yang sudah menyelesaikan tugas.
Akhirnya kunciku diserahkan juga. Tanpa pikir panjang, aku segera melaju hingga batas kecepatan yang mampu aku tolerir. Tak peduli dengan Bang Alven yang rela jemput pagi-pagi begini. Aku tak meminta dia untuk menjemputku.
Yang penting aku bisa sampai secepatnya. Planning pagi ini begitu padat dan mendesak. Beberapa waktu saja, aku telah sampai di gerbang kampus. Bang Alven berhasil menyusulku. Hebat juga dia bisa mengejarku.
Kecepatan motor ini sengaja kuturunkan. Karena ada peraturan tidak boleh lebih dari 25 kilometer per jam. Bang Alven pun menyejajarkan motornya di sisiku hingga jalan kampus yang tidak terlalu luas ini menjadi sempit.
Oh iya, aku memiliki satu alasan lagi mengapa aku tak ingin diantar. "Satu lagi alasan aku tidak mau diantar, karena aku tak nyaman jadi penumpang di belakang. Mending aku jalan kali dari pada gregetan." suara sedikit kutinggikan. Aku tipikal jika sudah bersemangat, tak ingin menunda segalanya.
Diiih, pembalap. Sebuah sindiriran yang dirangkai dalam bentuk pujian.
tiiiinnn
Aduh ... kaget ... Siapa sih yang nglakson dengan tidak sopan begitu? Oh iya ... kami telah memakan jalan terlalu luas. Bang Alven segera berpindah ke pinggir.
Ternyata itu adalah mobil milik Pak Arendra. Setelah kami berikan jalan, dia terus melaju menuju fakultas yang telah tampak di depan mata. Kami sudah masuk ke dalam area fakultas ekonomi dan segera memarkirkan kendaraan.
Aku harus mencari Lingga. Saat masih di parkiran, aku pun mencoba melakukan panggilan kepada Lingga. Panggilan pertama tidak diangkat. Mungkin dia tidak mendengarnya. Kulakukan panggilan untuk kedua kali, ternyata masih tidak dijawab juga.
Tiba-tiba, aku teringat kejadian kemarin. Dia yang sengaja menghindariku. Namun, aku menepis rasa itu. Mungkin itu hanya perasaanku saja.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Bang Alven yang tanpa kusadari terus mengikutiku.
Aku menggelengkan kepala. "Kenapa tidak ke kampus?"
Dia melihat waktu pada jam tangan. "Paling dosennya pagi ini mengisi kelas dulu. Bakalan murka Beliau, pagi-pagi kutagih buat bimbingan."
"Terus ke sini buat apa?"
"Main aja." jawabnya.
"Kenapa tidak main sama kawan-kawan di kampusnya sendiri?"
__ADS_1
"Banyak amat tanyanya. Pokoknya aku mau di sini dulu. Di sini banyak cewek cakep, beda sama kampusku yang buteq semua." terangnya.
Yah, terserah lah. Aku pun berjalan masuk ke dalam gedung. Aku mengulang kembali panggilan dan berjanji ini adalah kali terakhir. Panggilan masuk, aku pun melihatnya tengah bersama kawan yang lain sedang bersenda gurau.
Dia menengok ponsel, kali ini dia menolak panggilanku. Duh, kok perih? Rasa sakit berbeda pun aku rasakan meski aku tak memiliki rasa cinta kepadanya.
Apakah aku terlalu berharap lebih, agar ada satu orang saja untuk menjadi lebih dekat denganku? Orang yang masuk ke dalam bola harapan itu adalah Lingga.
Kenapa? Apa yang dipikirkannya saat ini.
Aku berbalik arah seakan enggan jika Lingga menyadari aku melihat dia yang sengaja menolak panggilanku.
"Nesya, kamu kenapa?"
"Bukan apa-apa." Aku menuju gazebo membuka laptop dan berharap menemukan tugas yang hilang entah kemana.
Ooh Tuhan, bantu aku ... bantu aku yang dalam kebingungan ini. Huuufftt ... nafas kuhela sepelan mungkin. Barangkali saja, aku bisa berpikir lebih tenang.
"Apa yang kamu cari?" tanya Bang Alven yang sedikit tertarik dengan apa yang aku lakukan.
"Tugas yang aku buat tadi malam hilang begitu saja, Bang."
Bang Alven merebut laptop itu dariku. "Judulnya apa?"
"Tugas Bu Yenni."
Dia mengotak-atik tak jelas. Tak sampai beberapa menit, dia memperlihatkan satu file yang aku tulis tadi malam.
"Apakah ini tugasnya?"
"Bener banget, Bang. Waaahh, syukur laah ... aku tidak jadi kena setrap oleh Bu Yenni. Terima kasih ya, Bang. Kamu selalu hadir bagai Dewa Penyelamat untukku." Aku segera memindahkan data tersebut pada USB.
"Tunggu sebentar ya, Bang. Aku mau ke depan dulu buat nge-print." Aku hendak beranjak, tetapi tangan ini ditahan olehnya.
"Ngapain repot-repot? Print di tempat Mas Aren saja!"
...GIVE AWAY...
Haloo kakak readers semua ... Hari ini Author mau infokan bagi-bagi give away bagi readers yang memberikan Vote, menonton iklan, memberi bunga, kopi, koin bagi yang berhasil memiliki lencana minimal fans silver.
Nanti, akan buat fans silver Author akan berikan pulsa masing-masing Rp25.000,-
Jika mendapat lencana gold, Author akan mengirimkan masing-masing saldo shopee pay /go pay pada akun yang bersangkutan sebesar Rp50.000.
Masih kecil ya? Hihi, maklum ... masih Author receh yang masih berjuang šš
Give Away ini berlaku mulai hari ini hingga tanggal 15 September 2022.
__ADS_1
Buat 3 komentar tergokil pilihan Author juga akan mendapat pulsa masing-masing Rp20.000.