Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
56. Pertaarungan sengit


__ADS_3

"Oh--- hmmm ... boleh ... tapi gimana caranya?"


Matanya mengawang seakan ikut berpikir dengan keras. "Hmmm ... seharusnya langsung dipecat saja sih, soalnya udah ketahuan dengan jelas dia mencuri uang milikmu."


"Masalahnya, dia adalah keponakan bapakku, aku merasa tak enak pada Bapak, jika memecatnya."


"Yaa ... kamu tinggal berikan bukti ini kepada bapakmu. Tentunya beliau akan lebih membela anaknya ketiban seorang ponakan yang jelas melakukan kesalahan."


Benar juga apa yang dikatakan oleh Bang Alven. "Apa aku harus beraksi hari ini juga?"


"Assalamualaikum ..."


Sebuah salam membuat kami terhening sejenak. "Walaikumsalam," jawab kami serempak.


Aku lihat dua orang yang baru saja muncul di lantai atas, satu Bang Alan dan satu lagi Bang Jojo.


"Aku dengar dari Jojo, kamu hanya berduaan dengan pria asing. Agar tidak menimbulkan fitnah, aku ikut nimbrung di sini." Bang Alan duduk dengan seenaknya di sampingku sembari merangkul pundakku, seolah kami memiliki hubungan yang akrab.


Aku bagai de javu pada masa lalu, saat awal-awal kami kenal, dia semanis ini. Aku tersadar bahwa itu hanya lah masa lalu, tangan ini menepis tangan Bang Alan yang membuat seluruh romaku berdiri karena perasaan jijik.


Dia yang sekarang, bukan lah dia yang dulu. Bang Alan benar-benar membuat hatiku menjadi bingung. Aku harus kuat!


"Jangan sentuh aku!"


Aku segera berpindah posisi duduk di samping Bang Alven. Pria yang mengawasi laptopnya, mengamati Bang Alan dan Bang Jojo secara bergantian.


Bang Alan menatap dingin pada pria yang ada di sampingku. "Siapa lagi, kau?"


"Bang, aku memiliki urusan dengannya. Jika kamu ingin membuat keributan, lebih baik kamu keluar dari tempat ini!"


Bang Alan beralih menatap dingin padaku. "Ooh, begitu. Jadi, saat ini kamu memiliki banyak kekasih?"


"Bukan urusanmu! Silakan turun ke bawah bersama Bang Jojo!"


"Kamu ini gimana sih? Lebih memilih pria asing dari pada mantan suamimu? Bagaimana pun, dia adalah ayah dari Elena." Aku rasa Bang Jojo terlalu lancang ikut urusanku seperti ini. Dia membuatku semakin geram.


Aku bangkit menuju ke kamar dan mengambil sejumlah uang. Kesabaranku seakan sudah habis dan debaran di jantungku terasa semakin tinggi hingga membuat nafasku sesak.


Dengan membawa uang yang cukup banyak aku pun menyerahkan selembar kepadanya. "Ini buat ongkos pulang ke rumahmu yang di kota sebelah!" Keningnya berkerut dan wajahnya terlihat heran.


"Ini upah untuk bekerja di sini." Dia terlihat senang karena gepokannya cukup banyak.


Namun, uang tersebut aku tarik kembali dengan jumlah yang cukup banyak. Hanya meninggalkan beberapa lembar membuat ekspresi di wajahnya berubah marah.

__ADS_1


"Kenapa diambil lagi?"


"Sebenarnya gaji Abang udah habis karena jumlah uang yang Abang curi lebih banyak dari pada ini. Namun, mengingat kamu adalah anak dari Bak Dang (kakak dari bapak), makanya aku berikan sedikit tanda salam perpisahan."


"Setelah ini, aku harap Bang Jojo gak lagi melakukan kecurangan di mana pun Abang bekerja."


Muka Bang Jojo terlihat merah padam karena marah. "Lancang sekali kau pada kakakmu!" Tangannya melayang hendak memukulku.


Namun, seseorang di belakangnya menahan kepalan tangan Bang Jojo. "Jangan sekali pun mencoba memukul Nesya!"


"Lan? Lu mau mencoba hianati gue?"


Bang Alan lah yang menahan tangan Bang Jojo hingga tidak jadi mendarat padaku.


"Gua berterima kasih jika lu mau nolongin buat balik sama Nesya. Namun, gua gak suka jika kenyataannya lu mencuri uang milik dia! Apalagi jika lu main tangan begini!"


Bang Alan memang tidak pernah main tangan padaku. Tapi dia tak jauh berbeda dengan Bang Jojo yang selalu memukul perasaanku dengan sikapnya dulu.


"Kalian sama saja!" Aku pun mendorong dua orang itu untuk turun dari tempatku ini.


"PERGI! AKU MUAK! AKU MUAK PADA KEPURA-PURAAN KALIAN!"


Aku terus mendorong mereka berdua untuk turun dan keluar dari laundry ini. Ternyata, di parkiran telah berdiri seorang wanita mendengkus dengan muka masamnya.


Aku segera bangkit dan mendorong tubuhnya yang lebih berisi dibanding tubuhku yang kurus kecil. Namun, aku tak bisa menjatuhkannya.


"Apa kau bilang? Aku pelakor? Bukannya kau yang pelakor merebut suamiku! DASAR! PELAKOR TERIAK PELAKOR!"


"Kurang ajaaar!" Wanita itu hendak memukulku, tetapi seseorang menghentikan dan menahan wanita yang aku tahu bernama Dian.


"Lepaskan! Siapa lagi kau?"


"Aku? Aku adalah calon suami dari perempuan yang kamu panggil pelakor."


"Mas Aren?" ucap Bang Alven dari arah bagian dalam.


"Terima kasih Ven, udah jagain calon kakak iparmu." Dia menatapku secara bergantian denga Bang Alven.


"Apaan kau? Lepaskan tanganku!" teriak wanita itu.


"Tolong ya, Mantan dari kekasihku! Silakan kamu urus istrimu yang sudah membuat kegaduhan di tempat ini!"


Bang Jojo kembali mendekatiku. "Kau ini ya? Benar-benar jadi adik yang tak tau diri. Apa kamu tidak bisa melihat pria yang agak tampan sedikit saja? Siapa lagi calon suamimu itu?" Namun, mata Bang Jojo terfokus pada tanganku yang masih menggenggam uang.

__ADS_1


Dia mulai mencoba merebut uang-uang itu dari genggamanku. Namun, aku bersikukuh untuk mempertahankannya.


"Kembalikan hak-ku! Kamu sungguh semena-mena terhadap orang yang sudah bekerja dengan sungguh-sungguh!" Dia terus mencoba menarik uang-uang yang ada di dalam genggamanku.


Pria yang tadi mengaku sebagai calon suami menarik Bang Jojo. "Apa kamu tidak pernah belajar bagaimana cara menghargai wanita?"


"Diam kau!" Tangannya melayang hendak memukul Pak Arendra.


"Aaaggghh ..." Aku memejamkan mata ketakutan melihat itu semua.


dugh


dugh


dugh


Terdengar pukulan demi pukulan mendarat di tubuh seseorang. Sebuah tarikan di rambutku membuatku tersentak.


"Kau berurusan dengan ku wanita jaaa lang!" Wanita bernama Dian masih dengan gayanya yang tidak berubah menarik rambutku yang terasa mulai putus dari akarnya.


Aku tarik tangan yang sudah membuat kepalaku sangat kesakitan. Genggaman tangan Dian aku gigit sejadinya.


"Aaaagghhh," pekiknya menggema.


Sementara masyarakat sekitar mulai berkerumun menyaksikan kejadian ini. Baku hantam antara Bang Jojo dan Pak Arendra berlangsung dengan sengit.


dugh


dugh


dugh


dagh


dagh


Suara-suara itu membuat perasaanku menjadi pilu. Bang Alan menarik istrinya yang terus meronta-ronta setelah mendapat se ra ngan gigiku.


Sepertinya aku harus menguasai ilmu bela diri seperti Pak Arendra. Aku tak ingin lagi ada yang semena-mena pada diriku. Aku tidak boleh lemah.


Aku lihat semua warga telah mengelilingi kami. Aku pun meminta mereka semua bubar agar tidak semakin banyak yang datang ke tempat ini.


Duh, ini benar-benar memalukan.

__ADS_1


Mataku kembali pada perkelahian yang dilakukan oleh dua pria yang sama-sama aneh itu. Dari balik orang berkerumun, muncul dua orang pria berseragam polisi menahan kedua pria tadi.


__ADS_2