Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
18. Lepas


__ADS_3

~~Maaf ya Kak ... tidak update seharian kemarin ... doakan sehat selalu yaaa ... biar up nya lancar lebih 1 bab sehari 😃 ~~


Travel yang kami tumpangi pun sampai tepat di depan ruko yang aku sewa. Akan tetapi, kenapa toko laudry-ku tutup?


Aku segera membuka ponsel dan mengaktifkan kembali. Ponsel ku non-aktif selama berada di dusun karena tidak ada jaringan sama sekali. Beberapa saat setelah ponsel diaktifkan, banyak sekali notifikasi yang masuk pada ponsel ini.


Namun, tujuan utamaku ialah menghubungi Kak Vina. Aku ingin menanyakan apa yang sedang terjadi. Sebelum mengecek pesan yang masuk, aku langsung melakukan panggilan pada Kak Vina.


Beberapa kali panggilan, tetapi tidak ada jawaban. Perasaanku mulai kalut. Aku mulai menduga-duga, apakah Kak Vina ingin mengkhianati aku?


Setelah sekian waktu, aku lihat Mak dan Bapak dipenuhi oleh keringat menunggu di teriknya cuaca. Udara di kota memang sangat berbeda dengan udara di dusun. Kota ini terlalu panas bagi mereka. Ooh iya, kenapa aku sampai lupa? Bukan kah aku memiliki kunci sendiri.


Aku segera membongkar ransel mencari kunci toko yang masih tertutup. Beberapa waktu kuhabiskan untuk mencari-cari benda kecil tersebut. Aaah, setelah semua barang keluar dari tempatnya, akhirnya aku menemukan kunci itu.


Aku segera memasukan kembali benda-benda tersebut. Aaah, segala sesuatu memang terjadi di luar rencana. Lain kali aku harus menaruh kunci di bagian utama. Setelah itu aku segera membuka kunci dan ternyata ... apa yang kupikirkan dan apa yang aku khawatirkan.


Semua isi benda di dalam toko masih utuh seperti biasa. Lalu apa yang terjadi? Aku segera membuka pintu ruko dengan lebar. Langsung membuka grup WA khusus para pekerja di laundry ini. Banyak sekali percakapan yang ada di dalamnya.


Aku baca sepintas, dan ternyata ... "Innalillahi wa inna illaihi rajiun ...." Mulutku secara refleks mengucapkan hal tersebut.


"Kenapa, Sya?" tanya Bapak.


"Ayah Kak Vina meninggal, Pak."


"Innalillahi wa inna illaihi rajiun." Mak dan Bapak serempak mengucapkannya.


Aku segera mengganti pakaian, dan menutup kembali pintu ruko tadi yang sudah kubuka dengan lebar. Bapak dan Mak juga mengikuti apa yang aku lakukan. Mereka juga akan ikut bersamaku.


Sebuah mobil yang sangat aku kenal berhenti tepat di depan toko ini. Aku hampiri, dan pengendara mobil tersebut keluar dari posisinya.


"Maaf, Bang. Laudry-nya tutup untuk sementara waktu." Hanya sebuah kalimat datar yang bisa kusampaikan kepadanya.


Pria tersebut tak lain adalah mantan suamiku, memperhatikanku dari atas hingga ke bawah. Aku menggunakan penutup kepala dan gamis berwarna hitam.


"Mau melayat?"


Aku mengangguk dan hendak bergerak meninggalkannya. Dia menahan dengan menggenggam pergelangan tanganku. "Aku ikut?"


"Apa?"


Dia menganggukan kepala. "Iya, aku ingin ikut melayat juga."


Aku mencoba melepaskan tangannya. "Kamu apa-apaan sih?"


"Aku mau menemanimu."

__ADS_1


"Tidak perlu!"


"Kenapa kamu di sini?" Bapak muncul dari dalam. Mungkin Bapak mendengar keributan yang kami buat.


Bang Alan melepas genggamannya. Dia menuju ke tempat Bapak berdiri. Dia langsung menyalami Bapak dan mencium tangan beliau.


"Kenapa kamu ke sini?" Bapak mengulangi pertanyaannya.


"A-aku ingin bertemu dengan Nesya dan Elena, Pak."


"Kenapa kamu masih ingin bertemu dengannya? Bukan kah kamu sudah memiliki istri? Apa istrimu tidak akan marah jika mengetahui kamu masih menemui mantan istrimu?"


"Dia tidak akan ta--"


"Sudah! Hubungan kalian saat ini telah berakhir! Kalian jangan bertemu lagi."


"Kenapa begitu, Pak?"


Bapak hanya menggelengkan kepala. Aku tahu, Bapak merasa tidak enak setelah kejadian yang terjadi antara aku dan Mak Bang Alan. Bang Alan tentu belum mengetahui atas apa yang telah terjadi di antara kami di dusun sana.


"Pak, ayo kita berangkat."


"Tunggu sebentar, Mak masih menyiapkan Elena."


Aku lirik sejenak ke arah Bang Alan. "Kami semua akan pergi. Kamu juga boleh pergi."


"Kamu boleh pergi dari sini!" Sebuah nada tinggi begitu lancar keluar dari mulutku.


"Baik lah. Aku hanya ingin melihatmu sejenak, karena aku tidak melihatmu beberapa waktu yang lalu. Aku dengar kamu lagi pulang ke dusun."


Aku menganggukan kepala, membenarkan apa yang dia ucapkan. Entah bagaimana dengan perasaannya? Apa dia tidak bisa menilai kami yang sudah jengah melihat wajahnya?


"Apa kamu bertemu dengan Mak? Bagaimana kabar Mak dan Ayah di dusun?"


Aku lihat Mak dan Elena sudah menuju keluar rumah. Wajah Mak cukup tegang saat melihat Bang Alan. Pintu rolling segera kurapatkan dan kukunci. Aku segera menggendong Elena dan menggandeng Mak untuk meninggalkan tempat ini.


Rumah Kak Vina tidak terlalu jauh dari ruko yang aku sewa ini. Cukup berjalan kaki beberapa menit, kami sudah sampai di rumah duka.


"Tunggu!" cegat Bang Alan.


"Apa lagi?"


"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" Tangannya kembali menggenggam erat pergelangan tangan ini. Apakah dia pikir di antara kita masih sama? Tidak, tentu saja tidak.


Aku tatap lurus tepat langsung menangkap netra Bang Alan. Aku yang sekarang, bukan lah aku yang dulu yang menjadi budak cintanya. Meski beberapa waktu lalu, rasa itu masih ada ... tetapi, kali ini -- setelah Mak Bang Alan memperlakukanku dengan keji -- aku akan mencoba menghapus segala tentang dia.

__ADS_1


"Lebih baik kamu tanyakan sendiri bagaimana kondisi keluargamu. Jangan tanyakan padaku!" Aku tepis tangannya yang sembarangan menggenggamku seolah dia jadi orang yang paling mengkhawatirkan aku.


Bahkan dulu dia tidak pernah sekhawatir ini kepadaku. Ada apa dengannya?


"Dek ... kenapa kamu begini? Apa kamu masih marah padaku?" Dia mencoba menangkap tanganku kembali, tetapi langsung ku tepis.


"Jangan pegang-pegang! Kita bukan siapa-siapa lagi!" teriakku meronta di hadapannya. Aku benar-benar tidak sudi dipegang oleh tangannya.


"Sudah! Kamu pergi lah ke mana pun kamu pulang! Kami semua akan pergi ke rumah duka. Kamu jangan merusak suasana." Bapak melerai pertengkaran kami.


Lalu kami semua bergerak meninggalkan dia yang termangu melihat diriku yang bisa berkata sekeras itu padanya. Mungkin dia merasa heran, kemana Nesya yang selalu lembut dulu? Ke mana Nesya yang selalu patuh kepadanya? Ke mana Nesya yang bodoh itu?


Aaahh, aku pasti bisa. Aku pasti bisa menata hati ini. Apalagi teringat perlakuan ibunya kepadaku. Aku yakin semua akan bisa kulewati dan kulepaskan ... meskipun tidak akan mudah.


Kami semua sampai di saat suasana sudah sepi. Sepertinya acara pemakaman sudah usai. Hanya beberapa keluarga inti yang tertinggal di rumah duka ini. Kami berempat melihat Kak Vina yang terduduk sendu di pojok ruangan.


"Assalamualaikum ..."


Kak Vina langsung menatap kami dan bangkit bergerak menyambut kedatangan kami. "Walaikum salam," jawabnya dengan kucuran air mata.


"Kamu sudah pulang? Maaf ya, laundry terpaksa aku tutup," isaknya dalam pelukanku.


"Sudah Kak ... Sudah ... Maaf ya aku terlambat datang."


Kak Vina mengangguk dalam sedihnya. Maafkan aku sudah menduga yang tidak-tidak, Kak. Aku hanya bisa berucap dalam hati. Pelukan pun kami lepaskan dan duduk bercengkrama mengenai almarhum ayah Kak Vina. Setelah beberapa waktu, kami pamit, dan bertemu seseorang.


Wajahnya berubah dingin saat melihatku yang sudah mengembangkan senyuman. Dia melewatiku sambil mengatakan sesuatu.


"Dasar penipu, sudah ditolong, ternyata ini balasannya?"


💖


💖


💖


Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.


Napen Author: Hilmiath_


Judul karya: Atmhospere


Blurb:


Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?

__ADS_1



__ADS_2