Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-36. (pov Arendra) Maafkan aku, Sayang


__ADS_3



Aku lagi bikin VT baru Nesya dan Mas Aren. 😂😂😂 so sweet banget gara-gara sound nya. Wkwkwkw.. Pemasaran? Kepoin di IG aku yah.


...****************...


Huuuffft, akhirnya sampai juga setelah perjalanan dinas yang panjang. Ponselku menghilang saat lupa menyimpannya, ketika makan di sebuah resfauran. Padahal, sebelumnya aku ingin sekali menelepon Nesya, karena aku merasa bersalah pergi tanpa pamit. Akan tetapi, panggilanku tak kunjung diangkat.


Saat kembali dari toilet, ponselku sudah menghilang. Aku pun tidak bisa menghubungi siapa pun, termasuk Nesya. Aku punya kelemahan menghapal nomor ponsel. Jangankan kontak istriku, kontak Mama dan Papa saja tidak ada yang bisa kuingat.


Nesya pasti merasa sangat khawatir. Apalagi aku mencueki dia saat Bu Rezi ada. Setelah itu, aku diburu Bu Rezi untuk segera pergi ikut dia ke kampus di ibu kota provinsi sebelah. Aku merasa sangat bersalah, harusnya tidak begitu sih. Tau-tau nya malah pergi mendadak.


Sebenarnya, saat di sana aku sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi. Namun, bagaimana lagi. Tugas negara ini harus dilaksanakan.


Padahal perjalanan aku sudah berusaha beranjak dari sana mulai pukul empat sore. Pukul empat dini hari baru sampai di sini. Meskipun namanya provinsi sebelah, aku harus menghabiskan waktu selama dua belas jam melawan rasa takut melewati daerah yang memang rawan.


Sampai-sampai, aku berpikir jika ada yang mau macam-macam mau aku tabrak dan lari terus bergerak maju menuju istri yang pasti sangat sedih saat kehilanganku.


Aku tatap cahaya lampu di lantai atas masih terlihat cukup benderang. Bagaimana caranya memberitahukan bahwa aku ada di bawah ya? Nggak enak membangunkan semua orang jam segini. Apalagi bukan bulan Ramadan.


Sepertinya, aku tunggu saja sampai ada yang membuka pintu? Sebentar lagi pagi, dan aku yakin ada yang akan bangun membuka pintu ruko.


klaaang


klaaang


Suara itu sangat aku hafal. Itu adalah suara kunci pintu roling saat dibuka, mengeluarkan suara yang sangat nyaring. Pintu terdengar dibuka kasar. Apa ia tahu aku telah datang?


Aku lihat Nesya bergi begitu saja dengan wajah cemasnya. Apa dia tidak menyadari mobil ini sudah terparkir tepat di depan toko? Apa yang dia pikirkan?


Aku segera keluar dari mobil, pintu toko dibiar begitu saja, aku tutup dulu sejenak, dan Nesya terlihat telah jauh dari tempat ini. Cepat sekali dia? Apa dia berlari?


Aku setengah berlari mengejarnya di belakang. Ah, istriku? Kamu kenapa seberani ini? Apa gunanya aku jika semua bisa kamu lakukan seniri.

__ADS_1


Aku mempercepat langkah nyaris lari mengejarnya, semakin dekat dan langsung aku peluk, nafasku terengah. Ia tertegung mematung. Tubuhnya kaku, sepertinya ada banyak hal yang ia pikirkan.


"Kamu mau ke mana, Sayang?"


Tubuhnya yang tadi menegang, terasa mengendor. Ia memutar badan langsung memelukku. "Maaasss? Maaasss? Ini beneran kamu? Kamu ke mana aja?" Nesya sesegukan dalam pelukanku.


Pelukan itu kubalas dan mengusap kepalanya. "Maafkan aku, Sayang. Kamu pasti mencemaskanku?" Saat ini posisi kami tak jauh dari kantor polisi terdekat dari rumah.


"Maas, Masss, jangan pergi tanpa kabar lagi. Aku sungguh tidak sanggup jika kamu seperti ini. Aku, aku sunggu bingung harus mencari kamu ke mana?" Nesya sesegukan dalam pelukanku.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tahu aku salah. Seharusnya aku mengatakannya padamu semenjak awal."


Namun, tubuh Nesya semakin lama terasa semakin kendor dan lemas. Ia seperti kehabisan tenaga dan perlahan beringsut turun dari pelukanku.


"Sayang? Sayang?"


*


*


*


Dokter melirikku sejenak. "Istri Anda kelelahan. Sepertinya dia tidak tidur dalam beberapa waktu ini."


Dokter menajamkan matanya. "Seharusnya Anda harus memperhatikan kesehatan istri Anda yang sedang hamil! Jangan membuat dia malah stress seperti ini!"


Hah? "Hamil? Istri saya hamil, Dok?"


Dokter semakin menatapku dengan tajam. "Jadi Anda tidak tahu istri Anda hamil? Jangan cuma tahu buatnya aja! Ini kondisi istri Anda bisa memengaruhi kesehatan bayi juga!"


"Maafkan saya, Dok. Saya benar-benar tidak tahu istri saya sedang hamil. Jika dia benar-benar hamil, aah ... akhirnya." Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia.


"Nah, jika sekarang Anda sudah tahu, jadi Anda jangan membuat dia stress berkepanjangan. Jika tidak, biar saya saja yang gantikam posisi Anda!" ucap dokter dengan tajam.


"Terima kasih, Dok. Setelah ini saya janji akan menjaga istri saya sebaik mungkin."

__ADS_1


Dokter itu mengangguk, dan membuatkan resep untuk Nesya. Aku menggenggam tangan wanita yang sedang mengandung benih buah cinta kami.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi, selalin maaf. Aku terlalu kekanakan." Aku sugar rambut-rambut yang menutupi wajah istriku.


Aku usap lembut perut Nesya, air mataku terjatuh begitu saja. Saat ini, aku telah menjadi ayah sejati. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah membuang egomu dan mau mengandung anakku. Seharusny, aku harus membuang egoku juga."


Sembari menunggu Nesya tidur, aku juga tidak tahu mulai kapan aku tertidur. Sebuah belaian di kepalaku menyadarka aku bahwa aku benar-benar terlelap.


Aku tangkap tangan yang mengusap rambutku dan menggenggamnya. Aku angkat kepala yang terasa sangat berat. Tampak wajah Nesya sendu tanpa senyuman.


"Apa kamu marah padaku?"


Dia menggelengkan kepala. Tangannya membelai pipiku lembut. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Kamu ingin mengatakan apa?" Tangannya yang ada di pipiku kugengganggam dengan erat.


Nesya menarik tanganku dan meletakkannya di perutnya. "Di dalam sini, ada anakmu, Mas. Kembar."


"Benar kah?" Kejutan apa lagi ini? Di dalam rahim Nesya tidak hanya satu. Akan tetapi memberiku sekaligus dua bayi.


Nesya mencoba bangkit, dan aku membantu ia untuk duduk. "Semenjak beberapa waktu lalu, aku ingin menyampaikan padamu bahwa aku sedang hamil anak kita, kembar. Namun, kenyataan yang aku dapat kamu sudah pergi, tanpa mengatakan apa-apa."


Aku duduk mepet di sampingnya dan memeluknya. "Maafkan aku, terima kasih sudah bersedia mempercepat kehamilan dibanding rencanamu. Bahkan aku akan memiliki bayi kembar. Ini sungguh melebihi harapanku."


"Setelah ini, aku berjanji tidak akan pernah membuatmu merasa khawatir lagi."


Nesya mengangguk. "Kenapa ponselmu tidak pernah aktif? Aku benar-benar pusing tidak tahu harus mencarimu ke mana."


"Ponselku hilang dicuri orang. Aku pun tidak bisa mengabarimu." terangku.


Dia tersenyum kecut. "Aku sampai pusing mencari kontak lain yang bisa kugunakan untuk mencarimu. Bahkan, aku mimpi buruk dan aneh." Nesya mengelungkan kedua tangannya di pinggangku. Ia masih dalam posisi m pelukanku.


"Mas, kamu harus janji padaku! Kamu jangan pernah meninggalkanku ya? Aku merasa tidak sanggup jika tidak ada kamu. Aku sudah bergantung dengan keberadaanmu. Kamu adalah oksigen yang tidak boleh jauh dariku. Jika kamu begitu lagi, aku akan matii."


Jari telunjukku mendarat di bibirnya. "Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Aku sangat mencintaimu. Jika nanti ada tugas keluar lagi, aku akan membawamu ke mana pun itu."

__ADS_1


__ADS_2