
"Kamu?" Wanita berisik itu adalah wanita yang kemarin hampir jatuh mencari sesuatu di kerangka parkiran kampus kakakku.
"Maaf." ucapnya menangkupkan tangan. Dia terlihat memilih buku-buku yang tadi dia lempar ke atas meja dengan seenaknya.
"Ooh, jadi begini kelakuanmu pada adik ipar?" Aaaah, dia membuatku kesal saja. Dia pikir aku ini apaan, hingga seenaknya kabur saat menyadari aku lah yang duduk di meja ini.
Wanita ini adalah wanita incaran kakakku. Usianya lebih muda, tetapi sudah memiliki anak bernama Elena.
"Hah? Adik ipar? Sejak kapan aku menikah dengan kakakmu?" pedas juga mulutnya. Dia membatalkan rencana pindah meja, menarik bangku yang ada tepat di sampingku untuk duduk di sana.
Kakakku, Mas Aren akhir-akhir ini sibuk mencari senjata untuk menyerang Mbak Reina, kekasih yang menikah dengan sahabat karibnya. Menurutku sih wajar saja sang kekasih kabur dari dia. Dia itu bagai kulkas yang tak memiliki kehangatan sama sekali.
Barang kali saja, selama di luar negeri, Mbak Reina diacuhkan sehingga menemukan kenyamanan lain saat bersama sahabat Mas Aren, yang biasa aku panggil Bang Gani, pria baik yang sangat perhatian.
Aku teringat betapa hancurnya hati saudaraku ini mendapati kabar sang kekasih menikah dengan Bang Gani. Hal ini membuat nilainya sempat anjlok gara-gara down yang cukup parah.
Aku lirik kembali wanita yang tengah sibuk membolak-balikan halaman beberapa buku. Kalau tidak salah, dia bernama Nesya. Mungkin karena telah memiliki anak bernama Elena lah, yang membuat Mas Aren seolah mengejar dia.
Padahal, mungkin saja sekadar memamerkan Elena kepada Mbak Reina. Memanasi dia yang sudah menikah lebih dari lima tahun, tetapi belum juga dikaruniai seorang anak pun.
Wanita berisik di sampingku masih sibuk membolak-balikan lembaran buku hingga membuatku tergaduh oleh suara lembaran kertas yang dibukanya. Dia benar-benar tidak memedulikanku yang sedari tadi duduk di sebelahnya.
Padahal aku memiliki banyak pertanyaan untuknya. Aku sungguh penasaran dengan kisah mereka. Namun, aku merasa kasihan jika dia akan jadi calon korban yang akan dikecewakan oleh saudaraku. Aah, bodo amat! Lebih baik, aku melanjutkan menulis skripsi yang hampir saja rampung ini.
Akan tetapi, mata ini dengan sendirinya melirik dia yang ada di sampingku tanpa perintah. Sepertinya, dia orang yang aneh, bisa-bisanya ketiduran di tempat seperti ini. Dikira benar-benar akan sangat serius mengerjakan tugas, ternyata malah molor.
Mumpung dia tidur, aku ingin mencari jawaban atas rasa penasaranku. Aku berdiri tepat di belakangnya, mencoba memfokuskan pupil melihat langsung apa yang ditulisnya. Namun, tulisannya begitu kecil, membuat tubuhku refleks membungkuk memperbesar bola mata.
"Nesya ...."
dugh
"Aaauuuww ...."
Aku dan wanita bernama Nesya itu sama-sama berteriak. Karena panggilan tadi membuat Nesya yang tertidur bangun refleks menegakan kepala, membentur hidung dan kaca mataku.
Sumpah! Sakit banget, gilak? Terbuat dari apa kepalanya itu hingga membuat hidungku seakan lepas dari rangkanya.
__ADS_1
"Bang Alven ngapain?" Dia melirikku dengan mata tajam mengusap kepala bagian belakang.
"Kamu yang ngapain tiba-tiba bangun? Bilang dulu kek!" Aku kembali duduk di bangku sebelahnya. Hidungku sudah terasa senut-senut ngilu.
Aku pandangi sosok perempuan yang memanggilnya tadi. Dia berjalan bergantian melihat kami berdua. Anehnya si pemilik nama tak acuh mengusap kepala yang tadi berbenturan dengan hidungku.
Aku buka kacamata dan memijit-mijit rongga pembauan berharap rasa sakit ini semakin berkurang.
Dia terus memandang curiga terhadapku, aku langsung menutup laptop memasukannya ke dalam tas. Aku harus cabut dengan segera menuju fakuktas teknik, kampusku.
Aku lirik mereka berdua sejenak, si pemilik nama Nesya, menatapku dengan bibir terkatup sedikit maju. Aaah, aku harus bersiap jika dia mengadu pada Mas Aren. Lagian, kakakku pasti tidak akan terlalu menanggapinya. Dia tentu akan lebih membelaku.
*
*
*
Saat malam datang, kami semua berkumpul dengan makanan yang seperti biasa, dipesan dari tetangga yang menerima katering bagi keluarga kami.
"Walaaah, jadi kamu beneran suka sama Nesya?" Mama menyela pertanyaan Papa.
Namun, Mas Aren hanya menyuapi makanan masuk ke mulut tanpa ada niat menjawab pertanyaan itu sedikit pun.
"Ren! Kapan kamu akan menikah? Usia kamu sudah lewat tiga puluh! Papa tak keberatan jika kamu sama Nesya, meski dia seorang janda. Papa suka kegigihannya dengan segala kisah hidupnya."
"Hmmm ... jadi Papa tak masalah nih punya menantu janda?" Mama kembali menimpal ucapan Papa.
"Yaaa, tak masalah. Jadi Papa tak perlu lama-lama menunggu bermain dengan cucu. Papa langsung memiliki cucu kan?"
Makanan terus masuk ke mulutku suap demi suap. Aku tak memedulikan obrolan yang ditujukan untuk Mas Aren. Yang aku khawatirkan pacarnya itu mengadu atas kejadian tadi siang.
"Ren, kamu tidak mendengar apa yang Papa katakan?"
Mas Aren berhenti dengan aktifitasnya. Meletakan kedua sendok pada piring dan menatap Mama dan Papa secara bergantian.
"Sepertinya bukan dia juga, Ma, Pa."
__ADS_1
"Lhoh? Bukan dia juga?" Mama pun meletakan sendok di atas piringnya. "Jadi, kamu mau yang bagaimana lagi?"
Aku rasa usaha Mas Aren gagal untuk mendekati wanita bernama Nesya itu. Jadi tentu si Nesya itu tak akan mengadu. Syukur laaahh ... aku selamat.
Oh ya, bukannya beberapa waktu lalu dia sempat dekat dengan dosen dari jurusan keguruan?
"Mungkin jadinya sama Mbak Gendis kali?" ujarku asal.
Mas Arendra yang berada di bagian seberang mejaku, menatap lurus tanpa mengatakan apa-apa. Aku merasa takut melihat matanya yang datar itu.
"Sepertinya kamu yang semakin dekat dengan Nesya, kan?" ucapnya padaku
"Maksudnya?"
"Aku lihat kamu duduk berdua di perpustakaan bersamanya."
Bahkan, dia tahu keberadaan wanita itu. Apakah dia selalu mengikuti si pemilik nama Nesya itu?
"Jadi kamu cemburu?"
Dia bangkit dari bangku yang didudukinya. "Ambil aja!" ucapnya berlalu masuk ke dalam kamar.
"Ven ... katakan pada Papa! Jadi kamu berduaan dengan pacar kakakmu itu?"
"Bukan! Kayak tak ada yang lain saja. Lagian si Nesya tidak mengaku sebagai kekasih Mas Aren tuh. Sepertinya, kita saja yang salah duga."
"Tapi Aren udah dekat banget sama Elena. Jadi, Papa kira mereka memang sering bertemu."
"Yaaa, Aren biasanya mengantar pakaian kotornya sendiri ke Laundry milik Nesya itu sih." timpal Mama membuatku kaget.
"Jadi laundry itu milik dia?" kutekankan nada membutuhkan jawaban yang pasti. Mama mengangguk mantap.
"Dia sudah memulai bisnis semenjak bersama suaminya yang dulu. Saat bercerai, dia memutuskan fokus membuka usaha laundry. Para anggota sosialita Mama yang membantu untuk promosikan laundry tersebut. Hingga menjadi seperti sekarang ini."
Ooh, sekarang aku mengerti alasan Mama menyuruh semua cucian dikirim ke sana saja. Padahal dulunya kami mencuci pakaian sendiri. Hmmm ... menarik juga ternyata kisah hidupnya.
"Boleh juga, nih."
__ADS_1