Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
44. Panggil Mama


__ADS_3

Pak Arendra memberi kode kembali pada Elena. Elena tertawa dan menatapku dengan wajahnya yang jenaka. "Ibuuuk, Papa mau ngajak kita jalan-jalan."


Semua orang yang ada di rumah itu refleks menatap Elena bergantian dengan Pak Arendra. Setelah itu tatapan mereka berpindah kepadaku. Hal ini membuat perasaanku menjadi tidak enak.


"Oom, Sayang!" ralatku. "Ooomm ..." Suasana ini sungguh membuatku merasa canggung.


"Itu tuh, Mas Aren sendiri yang minta dipanggil Papa." terang Kak Vina menyela.


"Bener, Ren?" suara bariton pria berkumis di samping Bu Jenie turut memeriahkan suasana hatiku yang sudah ramai karena degub jantung yang tak beraturan.


"Assalamualaikum!" Seorang pria yang sangat mirip dengan Pak Arendra tetapi tampak lebih muda, masuk ke rumah ini. Sepertinya, dia seorang mahasiswa.


"Walaikum salam. Wah, Mas Alven baru pulang?" sambut Kak Vina langsung di depan pintu.


"Ada kamu, Vin?" tanya pria yang mirip dengan dosenku itu. Dia melirikku sejenak, lalu berlalu masuk ke sebuah ruangan tanpa berkata apa-apa lagi.


"Dia tu, Alvendra. Adiknya Mas Aren. Mirip sekali bukan? Kelakuannya pun tak ada bedanya." terang Kak Vina yang memahami kebingunganku.


"Mirip?" Aku lihat Pak Arendra tengah asik becanda menggelitik Elena. "Masa sih?" tanyaku kembali tak percaya.


Pria yang baru saja lewat terlihat sangat jutek. Menurutku mereka sungguh terlihat sangat berbeda.


"Iya, iiih ... mereka itu bagaikan pinang dibelah dua melebihi kembaran. Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri." terang Kak Vina kembali.


Untuk malam ini aku numpang makan malam di rumah ini. Aku baru mengerti alasan Kak Vina bisa membawa Elena ke rumah ini. Karena dia diminta mengatarkan pakaian yang sudah bersih, dan menjemput pakaian kotor lagi.


Usai acara makan malam, Pak Arendra berjalan menarikku sejenak. Aku pikir, dia akan memintaku untuk mengantarkannya kembali ke lokasi di mana mobilnya ditinggal.


"Aku akan mengantarmu pulang dulu."


"Lho? Bukannya kita mesti jemput mobilnya?"


"Iya, nanti kujemput bareng Alven. Sekarang kamu pulang saja." Pak Arendra melihat ke arah Elena yang sudah mulai mengantuk di atas sofa.


"Mana kunci motornya?" Dia menengadahkan tangan kepadaku.


"Untuk?"


"Biar dibawakan Alven, jadi nanti kita pakai mobil saja ke rumahmu."

__ADS_1


Aku lirik sang adik yang terlihat tak acuh dan membuang muka. "Tidak usah, saya tidak mau terus merepotkan Bapak."


"Buruan, makin malam nih!" Dia menggoyangkan tangannya agar aku segera memberikan kunci tersebut.


Akhirnya aku keluarkan kunci itu dan kuserahkan kepadanya. Dia berbicara sejenak pada Alven, dan adiknya itu mengangguk patuh langsung bergerak.


"Kak Vina bagaimana?" Aku lihat Kak Vina juga sudah bersiap dengan jaketnya.


"Pulang dong." Menarik rusleting jaketnya hingga sampai ke paling puncak.


"Bareng aja?" Aku merasa tidak enak berkendaraan berdua dengan orang itu.


"Aku kan bawa motor sendiri tadi. Dah ya, hati-hati!" Dia langsung pergi tanpa melihat ke arah belakang lagi.


Sementara aku, harus mencari Bu Jenie dan suaminya. "Mbak--"


"Jangan Mbak! Mama dong. Udah tua gitu juga?" sela putra sulung mereka mengerutkan kening.


"Naah, itu yang sedari tadi Papa omongin sama Mama kamu! Tapi Mama kamu tetep saja ngotot maunya dipanggil macam kakak-kakak yang masih muda gitu."


Sementara wanita yang berdiri di samping pria berkumis itu hanya mesem-mesem salah tingkah. "Status kami kan sama toh, Pa? Sama-sama kaum ibu. Jadi wajar dia memanggil Mama dengan Mbak. Kalau tidak mau juga, panggil Kakak atau Ayuk juga boleh."


"Lho? Kenapa kamu yang sewot?" Bu Jenie pun merajuk pada sang anak, membulatkan bibirnya.


"Gak senang melihat mamanya senang apa?"


Lalu Bu Jenie mendekat padaku membelai kepala Elena. Dia mengeluarkan uang bewarna biru diberikan kepada gadis kecil itu. "Ini buat jajan ya? Simpen sendiri, jangan diberikan pada Ibuk. Nanti Ibuk nya jadikan buat modal usaha."


"Tidak usah, Mbak--"


"Mama!" sela Pak Rendra kembali.


Kenapa aku harus memanggilnya Mama? Kami tidak memiliki hubungan apa-apa juga. Jadi, aku tidak mempedulikan apa yang dipusingkan oleh dosen aneh ini.


"Tidak usah dikasih jajan pada Elena, Mbak. Nanti dia kebiasaan."


"Gak apa kok. Dia ini makin gede makin menggemaskan." ucap Bu Jenie ini mengusap pipi anakku yang sudah mengantuk berat.


"Pak, kami pulang dulu. Terima kasih sudah menerima kami tamu yang tidak diundang ini."

__ADS_1


"Hahaha, sering-sering lah main ke sini. Rumah ini sudah lama sepi kayak kuburan. Setelah kehadiran Elena, suasana rumah menjadi ramai karena kicauannya." Pria berkumis ini mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong pakaian yang dikenakan.


Sepertinya aku harus segera cabut. Aku merasa tak enak anak yang belum memahami uang ini, diberikan uang dalam jumlah yang banyak. Aku langsung menarik Elena dan pergi.


Namun, sebuah tangan menyelipkan sesuatu di tanganku. Aku lihat kertas yang berada di tanganku ini. Aaah, apa-apaan ini? Aku sudah salah menduga. Di dalam tanganku, sudah tergulung sebuah amplop bewarna putih.


"Ini apa, Pak?" tanyaku yang heran melihat benda yang terbuat dari kertas ini.


Namun, ayah dan ibu dari Pak Arendra memberi kode telunjuk di bibir mereka masing-masing. "Nanti kamu baca di rumah." ucap suami Bu Jenie yang belum aku ketahui namanya.


"Ayo, buruan!" Pak Arendra yang tadinya keluar duluan, kembali masuk ke rumah memanggilku untuk segera menyusul.


Aku segera menyimpan gulungan amplop tersebut masuk ke dalam kantong celana. Aku pun bergerak keluar dan segera naik ke dalam mobil.


"Banyak bener mobilnya, Pak?" ucapan itu keluar begitu saja dari mulut yang tidak bisa menyembunyikan perasaan. Aku merasa iri, ingin memikinya juga.


"Ini milik Papa. Punyaku cuma satu tadi yang tertinggal. Itu pun masih kredit."


"Oooh ... yang penting punya dulu." ucapku yang masih kagum pada orang-orang yang memiliki kendaraan roda empat. Setidaknya bisa berteduh dari panas dan hujan meskipun masih hutang.


"Rumahmu di mana?"


"Hmmm, aku ke ruko tempat kerja saja. Aku tinggal di sana."


"Siapa yang nyuruhmu tinggal di sana? Yang punya laundry?" Lalu dia menulis pesan, dan mulai menyalakan mobil ini.


Aaah, apa maksudnya ini? "Kak Vina dan Mbak Jenie tidak menceritakan kepada Bapak, siapa pemilik laundry itu?"


"Tepatnya gak nanya sih," ucapnya.


"Ya, anggap saja aku diizinkan tinggal di sini oleh pemilik laundry-nya."


Jarak antara rumah laki-laki ini, tidak terlalu jauh dengan ruko yang aku sewa. Seharusnya tidak sampai lima menit, kami sudah sampai di sana.


"Pak, kita mau ke mana?" Elena telah lelap dalam pangkuanku.


"Yaaa, nikmati jalan-jalan malam berdua," ucapnya melirik gadis kecil yang terlelap ini.


"Bapak kenapa sih?"

__ADS_1


__ADS_2