
*Aiiiss, tadi udah nulis panjang malah dia terrhaapuuuss ... Nyesek banget euy. Hasilnya aku nulis lagi dari awal. Mata udah mengantuk, karena minum obab flu, tetapi ku lawan demi kakak pembaca tercinta.
*Maaf ya akhir-akhir ini sedikit sombong sampai lupa nyapa kakak semua..wkwkwkw.. Aku dah kocar kacir ngejar nulis sana sini. Nah ini kemarinnya aku dah up di sini. Tetapi aku pindahkan ke rumah baru ... ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤

"Mana orangnya? Suaranya ada tetapi tidak kelihatan."
Waduuh, bagaimana ini?
Kepalaku telah liar melihat ke arah kiri, kanan, depan, dan belakang. Akan tetapi bayangan akan kehadiran Lingga benar-benar tidak terlihat.
Braaaak
Bu Yenni memukuli meja tempat beliau duduk. "Saya ulangi sekali lagi!"
"DI MANA ORANG YANG NAMANYA LINGGA?"
Kami semua yang ada di dalam kelas itu terkesiap mendengar auman singa betina itu. Untuk pertama kalinya aku mendengar suara beliau bisa sekeras ini.
Hal ini tentu saja membuat debaran jantungku bekerja begitu hebat. Semua mahasiswa di ruangan kelas ini melirik ke arahku.
__ADS_1
"Ayo ngaku! Kamu kan yang tadinya menjawab saat nama Lingga dipanggil?" ucap seorang perempuan yang ada di belakangku.
"Sssst! Diam aja lah! Pura-pura nggak tahu aja!" ucap seseorang di sebelahnya.
"Iya, beliau lagi ngamok gara-gara tidak diangkat menjadi ketua program studi." ucap yang satunya lagi.
"Iya, sepertinya begitu. Jadi, setelah kalah melawan saingan beliau Pak Rendra, membuatnya menjadi sensitif." timpal yang lain.
Lalu semua yang tadinya bisik-bisik yang kedengaran itu melirik kepadaku. Mereka serempak mengacungkan jempolnya kepadaku. "Selamat berjuang, ibu negara."
"MANA ORANG YANG BERNAMA LINGGA?" kembali teriakan bu Yenni membuat semua orang tersentak.
Ya aaampun ... Aku harus bagaimana dong? Bu Yenni udah setengah mengamuk.
Semua kepala melirik ke arah sumber suara, termasuk aku dan Bu Yenni. Beliau menurunkan kaca mata yang dikenakannya hingga ke ujung hidung.
Lingga melambaikan lima jarinya kepada Bu Yenni dengan senyum kikuk. Setelah itu Bu Yenni memasang kembali kaca matanya dengan baik.
"Kenapa lama sekali menjawab pertanyaan saya?"
"Ooh, saya sedang kurang sehat, Bu. Hal ini membuat saya kurang konsentrasi. Jadinya saya tidak menyadari telah dipanggil beberapa kali."
__ADS_1
Bu Yenni tak bergeming terus menatap tajam ke arahku. Waduh bagaimana ini? Apa beliau sempat mencurigaiku? Tatapan Bu Yenni seakan ingin melumatiku hidup-hidup. Beliau paati sangat membenci kami berdua.
Setelah Bu Yenni tidak lagi memperhatikan kami, Lingga mengendap pindah pada bangku yang telah aku siapkan.
*
*
*
"Gile, njiiirr ... Perkuliahan tadi berasa belajar di neraakaa." celetuk salah satu temanku yang laki-laki berjalan tepat di depanku.
"Iya, mungkin gara-gara rumor itu memang benar. Gara-gara tidak diangkat menjadi ketua prodi, membuat beliau marah luar biasa."
"Padahal, Pak Suhandi sudah merekomendasikan beliau, tetapi Dekan malah merekomendasikan Pak Rendra. Kalah telak dong beliau." tambah yang di sampingnya.
Lingga menyikutku. Aku menganggukan kepala karena aku merasa memahami apa yang dipikirkan oleh temanku ini. "Aku baik-baik saja kok. Ini lah jadinya kalau jadi istri pejabat kampus ya? Padahal sebenarnya tidak ada beda kok dengan tugas sebelumnya. Dia tetap mesti ngajar, hanya saja bebannya makin bertambah."
"Tapi, yang iri juga nambany, Neng. Kamu lihat sendiri kan dampaknya?" ucap Lingga.
Aku sangat paham masalah ini. Ini semua tidak akan ada habisnya.
__ADS_1
*Aduh, aku ngantuk berat euy. Udah dulu ya Kak.*