
"Padahal mereka tidak tahu, pertanggungjawabannya ini dunia dan akhirat." ucapku.
Lingga mengedikkan bahu. "Aw, ah! Gelap. Yang penting aku jadi temennya ibu negara prodi akuntansi ding." Lingga mengedipkan mata.
"By the way, kok hari ini kamu cerahan dibanding beberapa waktu lalu?" Meskipun Lingga terlambat datang ke kampus, dia tampak lebih bahagia dibanding sebelumnya.
Lingga memutar bola matanya. "Masa sih aku terlihat lebih bahagia?"
Aku perhatikan kembali raut wajah Lingga yang telah lepas tanpa beban. Dia hanya mengulas senyuman, tanpa memberi jawaban.
"Ayo lah! Masa main rahasia-rahasiaan segala denganku?"
Lingga mengajakku menuju tempat istirahat favorit bagi kami semua. Yaitu gazebo yang ada di halaman kampus kami. Setelah dipikirkan kembali, di tangan Lingga sudah tidak terlihat ponsel pemberian pacarnya yang selalu dia pegang.
"Mana hapemu?"
Lingga tersenyum kecut megeluarkan benda itu dari dalam tas nya. Ini menambah kecurigaanku akan sesuatu yang disembunyikan oleh Lingga.
"Yang itu sudah aku kembalikan. Yah, anggap saja singgah sebentar jadi penghibur pernah memiliki yang model begitu."
Ucapan Lingga membuatku semakin bingung. Akan tetapi, aku belum bisa melanjutkan menginvestigasi temanku itu. Karena sebuah panggilan masuk membuatnya melonjak kegirangan.
"Aku ke sana dulu." ucapnya menjawab panggilan telepon tersebut.
Lingga menuju lokasi yang terasa nyaman untuknya. Lalu dia berbicara dengan santai dan banyak senyum. Ah, Lingga ... Ada apa lagi ini? Hmmm, sepertinya aku tahu bagaimana rasanya di saat kita tidak mengetahui apa yang terjadi dengan sahabat kita. Baik lah, aku akan menunggu waktu di mana dia bisa menceritakannya kembali padaku.
Setelah sekian waktu dikacangin teman, akhirnya Lingga menyelesaikan obrolannya dengan seseorang yang ada di ujung jaringan. Aku turut bahagia jika Lingga bahagia, karena dia berhak untuk bahagia, setelah cukup menderita beberapa waktu lalu. Lingga telah duduk di bangku kosong yang ada di sampingku.
__ADS_1
"Cieee ... Cieeee," candaku padanya.
"Apaan sih?" ucapnya padaku dengan cengiran menghiasi wajahnya.
"Ada apa gerangan? Boleh bagi-bagi cerita nggak yaaaa?"
Lingga memutar bola matanya dan tersenyum kembali. "Semalam, kami berdua telah bicara dari hati ke hati. Intinya dia sudah terbuka dengan keadaannya denganku."
"Dia siapa?"
"Ya, Bang Alan."
Entah kenapa aku yang tadinya semangat berpikir dia berganti jodoh, semangat itu kandas dengan tiba-tiba. "Oohh ...."
"Aku kembalikan lagi ponselnya, kataya mau dia jual dulu buat tabungan. Siapa tahu, bisa nabung untuk modal pernikahan kami berdua." Lingga menceritakannya dengan penuh semangat.
"Serius amat, Sya? Kenapa? Ada apa?" Lingga terlihat kebingungan.
"Tapi, aku harap kamu jangan marah dengan apa yang akan aku katakan!" Aku tangkap netra yang saat ini terlihat secerah hari ini.
"I-iya." ucapnya gugup. "Jika kamu begini, kamu membuatku takut. Kalem dong, please."
Sebelum memulai pembicaraan, akhirnya aku menghirup nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya kembali. "Sama dengan hal yang aku katakan sebelumnya. Sebaiknya kamu akhiri saja hubungan dengan dia."
Lingga tersentak mendengar apa yang aku ucapkan barusan. Rautnya yang tadi terlihat bahagia, kini alisnya mulai bergerak menyatu.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku ingin berbicara serius denganmu tentang banyaknya alasan yang membuatku mengakhiri hubungan dengannya. Salah satunya adalah karena dia itu laki-laki toxic!"
Lingga mendorong tubuhku yang masih menggenggam kedua lengannya. Dia bangkit dan benar-benar marah. "Apa maksudmu?"
Aku turut bangkit dan menggenggam kedua lengannya kembali. "Aku melihat diriku yang dulu pada dirimu, saat ini. Aku tidak ingin kamu mengalami rasa sakit yang sama karena dia juga."
Kembali kedua tengannya menepisku dan wajahnya merah padam karena amarah.
"Kamu jangan sama-samakan dengan keadaan kalian dulu dong! Sekarang, zaman telah berubah!" Lingga melipat kedua tangan di dadanya.
"Jika kamu seperti ini, aku malah berpikir kamu tidak menginginkan kebahagiaanku bersama dirinya. Apalagi, dia adalah suamimu dulu." Lingga melirikku lewat ujung mata.
"Aku tahu, dulu kamu sangat mencintainya, tetapi berakhir karena masalah kecil dan sepele. Makanya kamu tidak rela saat melihat dia lebih bahagia saat bersama denganku."
Lingga membelakangiku. "Cih, aku tak menyangka kamu sepicik itu!"
Aku berjalan cepat tak ingin dia semakin salah paham seperti ini. Aku kembali berdiri tepat di hadapannya. "Dengarkan aku dulu, Lingga! Aku ini sudah mengenal dia melebihi dirimu. Hanya saja aku tidak bisa mengatakan hal lain yang menjadi aib dalam masa pernikahan kami."
Aku menarik nafas kembali, agar bisa mengatur suara dengan baik. "Coba saja kamu nilai sendiri! Barang yang sudah dia berikan untukmu malah diambilnya kembali. Bahkan, dia menjualnya lagi sebagai alasan untuk tabungan masa depan?"
"Apa kamu yakin pria seperti itu benar-benar tulus dan ikhlas? Itu sama hal nya dengan pecundang! Dia tidak menghargai wanitanya dengan tulus. Aku sudah puas menghadapinya, dan aku berharap, cukup aku yang merasakannya saat bersamanya."
Lingga kembali mendorongku. Dia berlalu tanpa mengatakan apa-apa dengan wajah merah padam. Dia sulit terlepas, dari belenggu indah yang dibuat oleh Bang Alan untuknya.
Sama persis sepertiku yang dulu. Tak berhenti menjadi wanita bodoh karena tarik ulur percintaan yang dia berikan padaku.
Sepertinya aku harus menemui dan berbicara dengannya secara langsung.
__ADS_1