
*Maaf ya Kak, telat update ... soalnya habis perjalanan jauh ๐๐๐*
...๐๐๐...
"Aaaghhh!" Tangan Pak Arendra telah cabik oleh sebilah belati yang dihujamkan oleh pria pertama yang mencium dengkulku tadi. Benda tajam itu hendak ditujukan padaku, tetapi Pak Arendra yang menyambutnya dengan tangan kosong.
"Pak Aren ...."
Ini sungguh terlalu, aku langsung membalas dengan melayangkan tendangan pada ulu hati pria itu. Akan tetapi, kali ini giliran dia menangkap kakiku dan menarikku hingga berada lekat pada tubuhnya.
Kebetulan yang buruk sekali, aku hanya mengenakan pakaian kebesaran kaum emak-emak, di saat keadaan sulit datang melanda.
Dengan kasar, daguku dijepit dan dia tertawa sinis. "Ternyata, kamu boleh juga!" Dia mulai meraba kakiku beruntung aku smenggunakan lapisan dalamnya hingga di atas lutut.
dugh
Tiba-tiba pria itu terbelalak dengan mulut ternganga.
bruuuk
Dia ambruk tepat di depan kakiku. Sementara di belakang pria pingsan itu tampak Pal Arendra tengah memegang sepotong kayu yang dipungutnya entah di mana. Bongkahan kayu itu terlepas, tangan yang terluka bergetar hebat.
Pukulan tersebut membuat aliran da rah pada lukanya semakin deras. Aku langsung merobek daster bagian bawah yang tengah kupakai. Pak Arendra seketika membuang muka ketika aku melakukan itu.
"Jangan khawatir, Pak. Saya selalu menggunakan sesuatu yang wajib dipakai."
Dia mencoba kembali melihat ke arahku. Lalu perlahan beralih ke bawah.
"Ekhem ... matanya tolong ya?" Di dalam kepala sedang memikirkan bagaimana cara menghentikan pendarahan sementara waktu.
"Hmm ... aku hanya ingin tahu pengaman sejenis apa itu?"
"Ooh, sepertinya Bapak baik-baik saja." Luka itu kuikat dengan potongan kain tadi dengan kuat.
"Agghhtt! Pelan-pelan!" rintihnya.
"Cepat angkat tangannya tinggi-tinggi!"
"Buat apa?"
"Agar tidak terus mengalir dengan deras." Sebenarnya aku tidak tahu apakah cara demikian sudah benar atau tidak, yang jelas itu adalah petuah yang terpatri dalam benak, ucapan nenek moyangku di dusun.
"Masa, sih?" Dia tampak sangat tidak percaya.
"Ikuti saja!"
Akhirnya dia patuh juga untuk mengangkat tangannya setinggi mungkin. "Sampai kapan begini?"
__ADS_1
"Sampai ditangani dengan baik oleh tenaga kesehatan."
Dari wajahnya terlihat ekspresi kebingungan. Namun, dia tetap mencoba menahan tangannya berada di posisi atas.
"Maafkan saya ya, Pak ... saya hanya bisa merepotkan Bapak."
"Ya, kamu memang selalu merepotkanku. Makanya, kalau kamu libur seperti ini, lebih baik fokus ngasuh anak. Ini nyari duit mulu. Kapan punya waktu dengan Elena?"
Benar juga apa yang diucapkan Pak Arendra. Huufft ... aku merasa bingung harus berbuat apa. Apakah usaha ini harus aku hentikan? Bagaimana dengan dana mengumpulkan pembangunan sekolah untuk dusun?
nguuung
nguuung
nguuung
Terdengar sirine kendaraan polisi yang semakin mendekat. Sementara aku, langsung berlari mengambil Elena yang masih tidur dengan nyenyak. Pasukan kepolisian langsung menyisir lokasi.
"Bu, terima kasih sudah menjaga anak saya."
"Bagaimana keadaan suamimu?" wajah Ibu itu terlihat khawatir.
"Dia bukan ... aku akan membawanya ke rumah sakit, Bu." Tanpa menunggu lagi, aku segera bergerak meminta bantuan pihak kepolisian untuk mengantarkan kami ke rumah sakit.
*
*
*
"Seandainya aku tidak teledor, mungkin semua tidak akan terjadi."
"Anggap saja kamu diingatkan untuk mencari pengganti suamimu."
Belum ... aku belum memikirkan sampai ke sana, sehingga aku refleks menggelengkan kepala.
Mataku beralih pada brangkar yang ada di sebelahnya. Di sana ada Elena yang belum terbangun juga semenjak tadi.
Apa benar aku harus mencari pengganti Bang Alan? Bang Alan ... bukan kah dia sudah tidak memiliki istri? Ah, jangan dia! Kamu bodoh jika kembali lagi dengannya! Batinku berperang pada diri sendiri.
Kembali kulihat Elena, kulihat waktu yang dihabiskan oleh Elena tertidur karena pengaruh bius yang diberikan pen ja hat tadi. Ini sudah hampir tiga jam. Dokter mengatakan, jika lebih dari tiga jam, maka akan dilakukan tindakan lebih lanjut.
Tak lama kemudian, Bang Alven dan kedua orang tuanya datang dengan wajah khawatir.
"Kenapa semua bisa begini?" tanya Bu Jenie.
"Tadi aku ...." Aku tak tahu bagai mana cara menjelaskannya. Yang pasti ini adalah kesalahanku.
__ADS_1
Aku terlalu sibuk mencari uang. Hingga aku lalai dan membiarkan anakku bermain sendirian di luar dengan ponsel. Bisa saja penculik itu ada niat lain, tetapi aku masih beruntung. Elena masih bisa dibawa pulang meski pun hingga saat ini masih belum sadar juga.
"Maafkan aku, Mbak--"
"Mama!" Pak Arendra dan Bang Alven mengucapkan itu dengan serempak hingga membuatku cukup terkejut.
"Ta-tapi dulu Mbak--"
"Mama! Masa kamu memanggil ibuku, Mbak? Aku aja lebih tua darimu," gumam Bang Alven ikut duduk di atas brangkar di samping kakaknya.
Aku lirik ke arah Bu Jenie. Memang benar apa yang diucapkannya. Bahkan, Bu Jenie lebih tua dari pada usia Mak di dusun. Usia Mak, hanya beberapa tahun lebih tua dibanding Pak Arendra. Namun, bedanya, Mak sudah memiliki cucu di usia Pak Arendra yang sekarang.
"Bagaimana, Ma? Nesya panggil Mama sama Mama juga ya?" tanya Pak Arendra.
"Ya udah, terserah ... bagaimana pun juga kalian pasti protes kalau Mama masih kukuh minta dipanggil seperti kakak-kakak yang masih muda."
Lalu Bu Jenie melirik padaku. "Lalu nanti gimana kata Retno, Wulan, dan Mia jika mereka tahu kamu memanggilku, Mama?"
"Ehm--"
"Tentunya Nesya mengganti panggilan mereka menjadi Tante dong." timpal Bang Alven.
"Hussh! Kamu diam aja. Kamu persiapkan diri saja buat keberangkatan ke Jakarta sanah!" ucap Bu Jenie sembari cemberut.
"Bang Alven mau ke Jakarta? Kenapa tak pernah cerita? Padahal Abang tiap hari main ke tempatku usai kerja." Bang Alven sama sekali tidak menceritakan apa-apa mengenai informasi barusan.
"Mau apa ke sana?"
Bang Alven menekuk wajahnya. "Maaf ... sebenarnya aku tak mau--"
"Harus mau!" Bu Jenie menyela ucapan Bang Alven.
"Tapi Ma--"
"Ini kesempatan langka lho? Apa kamu tak mau mengikuti jejak Mas Aren-mu ini? Dapat beasiswa melanjutkan pendidikan hingga S tiga tanpa membuat Mama dan Papa mengeluarkan uang sepersen--"
"Tapi Mas Aren kan jadi diting ...." Bang Alven menyela ucapan ibunya.
Sedikit demi sedikit aku mencoba memahami apa yang terjadi pada Pak Arendra. Jangan-jangan, apa yang aku pikirkan memang benar? Sepertinya dia ditinggal karena sifatnya yang memang sangat aneh. Membayangkannya saja aku sudah bisa menebak.
Akan tetapi, sebenarnya dia baik. Namun, aneh ... eeeh, baik kok. Bukan hanya aneh, tetapi cukup baik dalam sifatnya yang selalu berubah-ubah begitu. Aaah, terkadang aku berpikir apakah dia seorang penyandang syndrom bipolar?
"Kamu jangan asal berpikir buruk tentangku!"
...๐๐๐...
Mampir yuk pada cerita teman Author ya Kak ... biar makin rame makin semangat ๐๐
__ADS_1