
"Nesya ... aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
Bang Alven menatapku dengan wajah seriusnya. Sementara di dalam benak tengah mencari Elena yang tadi tidak terpantau sejenak saat memilih menu.
Mungkin Elena sembunyi di bawah meja. Aku intip ke bawah meja, ternyata Elena tidak ada. Mata mulai liar melihat ke setiap bagian di restoran ini dengan degup jantung semakin kencang.
"Kamu sedang apa?"
"Elena mana, Bang?"
"Bukan kah tadi dia di ...." Bang Alven pun turut mengedarkan pandangan ke segala sisi.
"Apa Abang tidak melihatnya? Ke mana dia?"
Bang Alven pun ikut panik. Dia mulai bergerak mencari-cari di balik setiap meja yang ada. Dia menggaruk kepala dengan gusar mulai melepas jas yang tadinya melekat sedikit acak-acakan setelah jotos-jotosan dengan Bang Alan.
Dia mulai bertanya kepada pramusaji dan sepertinya pramusaji menjelaskan sesuatu kepada Bang Alven. Aku pun mendekat dan penjelasannya mulai terdengar.
"Kami memang melihat ada anak kecil tadi, Mas. Hanya saja kami kira dia anak pelanggan area depan. Makanya kami biarkan bermain di arah depan."
"Bagaimana sih pelayanan tempat ini?" bentaknya membuat sang pramusaji sedikit ciut.
"Maafkan kami, Mas."
Bang Alven menarikku keluar dan dari arah depan terlihat Pak Arendra hadir bagai pahlawan membawakan Elena yang tertawa riang.
"Kenapa ada di sini?" suara dingin memecah suasana akrab kedua orang ini.
Aku juga heran kenapa tiba-tiba Pak Arendra muncul di sini juga? Jangan bilang dia sejenis pe ngun tit?
"Udah kayak pahlawan kesiangan aja kamu, Mas? Kamu sengaja mengikuti kami sampai ke sini?
Pak Arendra terlihat gelagapan. "Tadi aku naik ojek online gara-gara tidak menemukan kunci mobil dan motor. Ayo katakan kamu simpan semua benda itu di mana?"
"Alasan!"
Terus pengendara ojek online tampak baru saja sampai. "Udah, aku ke kampus dulu." Dia bergerak cepat seakan menghindari interogasi dari sang adik.
"Ya udah, kita pulang saja!" ucapnya dingin berlalu menuju kendaraannya.
Dia kenapa? Tiba-tiba aneh seperti ini? Benar-benar membuatku merasa heran. Mesin kendaraan telah menyala, dan kami hening dalam waktu yang panjang.
"Semoga selamat sampai tujuan." Aku dan Elena melambaikan tangan. Dia hanya mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Kenapa Om Aven, Buk?"
"Mungkin tiba-tiba sakit perut," ucapku asal. Tidak mungkin aku katakan, sepertinya dia tengah kesal. Namun, kesal karena apa? Entah lah ....
*
*
*
*
Saat malam, aku teringat pada ucapan Elena. Elena mengatakan bahwa dosenku itu, tadinya main petak umpet di bangku bagian belakang.
"Gimana cara Om Aren main petak umpet?" tanyaku yang masih kelu jika menyebutnya papa Elena. Karena kenyataannya tidak begitu.
"Papa, Buk ... Bukan Om Aren ... Itu Papa Elena."
"Iya, kalo kamu mau manggil apa juga terserah. Cerita ke Ibuk dong gimana caranya main petak umpet?"
Elena tampak berpikir keras. Lalu dia menepuk keningnya. "Oh, iya ... tadi Elena udah janji untuk tidak cerita. Aduh, Elena lupa. Gimana ni, Buk? Nanti Papa marah sama Elena."
Wajah Elena terlihat ketakutan. Dia sibuk dengan apa yang ada di kepalanya sendiri.
"Gimana Ibuk mau cerita? Bahkan Ibuk gak tahu kamu cerita apa."
Elena menutup mulutnya bersembunyi di bawah selimut.
Waktu pun terus berjalan. Aku mendapat kabar bahwa jalan masuk ke dusun telah diperlebar. Rasanya, aku ingin pulang ke dusun untuk sejenak. Aku ingin melihat keadaan tanah kelahiranku setelah dibuka jalur baru oleh pihak TNI yang membangun negeri.
Namun, jadwal kuliah semester ini ternyata lebih padat dari sebelumnya. Mungkin saat liburan semester baru bisa ke sana. Liburan semester akhir biasanya lebih panjang dan aku bisa puas berada di tanah kelahiranku.
Aku pun mencoba mencari tahu bagaimana cara agar bisa mengajukan pembangunan untuk tingkat SMA bagi daerah terisolir.
Aku pun mencoba bertanya kepada pihak dinas terkait. Namun, jawaban yang didapat sungguh membuatku kecewa.
"Sepertinya, untuk sementara waktu, wilayah dusun kamu itu, belum bisa dibangun sekolah menengah tingkat atas. Karena, berbagai faktor dan pertimbangan yang harus dipertimbangkab."
"Untuk sementara waktu, biar lah warga dusun di sana melanjutkan pendidikannya ke luar. Semoga, ke depannya ada rezeki di desa tersebut untuk pembangunan sekolah tingkat atas."
"Tapi, Pak. Akses jalan masuk ke sana kan sudah lumayan bagus. Kenapa tidak membantu saya untuk mengajukan usulan saya ke atasan Bapak? Siapa tahu, hati atasan Bapak bisa tersentuh. Apa Bapak tidak sedih, jika anak-anak di sana kebanyakan hanya tamat SMP saja?"
Pak Kasman, orang yang aku tanya hanya menggelengkan kepala. "Nanti saya akan coba. Namun, ada hal yang kami khawatirkan jika membangun sekolah di daerah sana."
__ADS_1
"Apa gerangan, Pak?"
"Selain akses pembangunan yang masih belum lancar, nanti setelah pembangunan selesai, siswa yang mendaftar hanya satu atau dua orang saja."
"Lokasi di sana sangat lah jauh. Sementara sekolah tingkat SMA dibuat untuk menampung beberapa SMP. Namun, bila ke depannya daerah di sana semakin ramai, kemungkinan besar bisa dilaksanakan pembangunan sekolah dengan segera."
Jawaban Bapak itu membuatku sangat kecewa. Namun, aku tak bisa menyangkal jika di sana memang hanya memiliki dua desa miskin. Saat aku SMP dulu, jumlah satu tingkat hanya dua puluh orang. Bahkan aku dapat kabar tahun ini jumlah siswa SMP yang baru masuk hanya sekitar sembilan orang.
"Lalu bagaimana usaha saya agar bisa mewujudkan mimpi untuk memiliki sekolah di sana, Pak?"
"Jika kamu benar-benar sangat menginginkan ada sekolah di desa tersebut, apa boleh buat ... untuk sementara kamu usaha sendiri dalam pembangunan secara swadaya."
"Jika progres yang ditunjukan sangat bagus sesuai harapanmu, kami akan membantu untuk mengembangkannya."
Meskipun sedikit kecewa, tetapi dusun kelahiranku masih memiliki harapan untuk membangun SMA.
"Lhoh? Nesya? Kenapa di sini?"
Aku angkat wajah ... aah, dia lagi ... ooh, iya ... di sini memang lingkup kerjanya juga sih.
"Kenapa muka ditekuk gitu?"
Aku duduk di bangku-bangku yang ada di sana. Dia juga ikut duduk di sampingku. "Silakan, Pak. Kan ada urusan. Kenapa tidak langsung bicara sama mereka?"
"Cerita dulu ada urusan apa di sini?" desaknya.
"Selamat siang, Pak Rendra ..." Beberapa orang hadir dan salah satunya Pak Kasman yang memberikan penjelasan kepadaku tadi.
"Pak Rendra kenal dengan gadis ini?" tanya Pak Kasman.
"Oooh, dia ini mahasiswa saya."
"Oooh ... begitu. Sudah lah, Dik Nesya. Lebih baik kamu selesaikan dulu kuliahnya. Siapa tahu saat kamu menyelesailan kuliah, keadaan di sana semakin baik. Siapa tahu usulanmu nantinya diterima oleh pemerintah pusat."
Pak Arendra mengerutkan keningnya belum memahami apa yang sedang terjadi. "Bapak ini sedang membicarakan apa?"
"Dik Nesya ini mengusulkan untuk membangung sekolah tingkat atas di dusun terisolir. Namun, keadaan di sana masih cukup sulit."
Pak Arendra sedikit menegakan tubuhnya. "Apanya yang sulit, Pak? Kita tinggal meminta saja kan? Lalu tinggal menunggu hasil terima atau tidak."
Ucapan Pak Arendra membuat harapanku semakin meningkat tinggi. "Kamu serius menginginkan SMA di dusunmu?" tanya Pak Arendra.
Aku mengangguk mantap. "Aku ingin sekali, Pak. Aku tak ingin ada lagi yang bernasip sama sepertiku di usianya yang masih belia."
__ADS_1
"Bagus! Ayo kita bangun berdua!"