Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-59


__ADS_3

Aku pun melambaikan kedua tanganku ke kiri dan ke kanan. Memastikan pertanyaan yang muncul dalam kepalaku. Namun, matanya tak berkedip. Masih sama seperti sebelumnya, menatap gerakan tanganku dengan kosong dan hampa.


Sepertinya, aku berharap terlalu banyak. Tak mungkin ... Ini hanyalah gelutan lonjakan impian yang seakan singgah menjadi nyata.


"Sayang?" Dia memanggilku masih menatap di cermin. "Kenapa diam saja?" tambahnya lagi.


"Kamu mau cukuran lagi ya?" Kuulang kembali pertanyaan tadi yang belum mendapat jawaban.


Ia menggelengkan kepala. "Aku hanya membayangkan bagaimana penampilanmu saat ini." Tangannya langsung menarikku perlahan dan membelai perut yang aku sendiri telah lupa sudah berapa di angka bulan keberapa.


"Kalian anak hebat, tidak rewel, dan memahami keadaan Papa. Terima kasih ya, anak-anakku." Mas Aren mencium perutku dan mencium pipiku.


Setelah selesai berkemas dan sarapan, seperti biasa taksi online yang ditetapkan menjadi langganannya telah siap menunggu di depan toko. Rasanya aku sudah cukup sulit melangkah dan semua terasa berat.


Setelah kepergian Mas Aren, aku melihat catatan kehamilan. Tanggal perkiraan kelahiran anakku tinggal satu minggu lagi.


"Pantas saja, kalian berdua membuat Ibuk merasa sesak," gumamku kembali membelai balon padat yang tiada henti bergerak.


"Aaah, tuh kan ... Kalian berdua lagi-lagi membuat Ibuk kebelet melulu. Padahal baru lima menit yang lalu balik buang air kecil." Deru napas yang terasa berat, kutarik kaki yang terasa ngilu saat dipijakkan.


"Ibuk ... Ibuk ..." Elena berseragam sekolah TK setengah berlari mengejarku dari arah luar. Semenjak dua bulan yang lalu, Elena sudah bersekolah di TK yang ada di dekat rumah sekaligus tokoku ini.


"Kenapa, Sayang?" tanyaku sebelum masuk ke kamar mandi.


"Kenapa Ibuk tidak ikut ke sekolah seperti biasanya?" ucapnya dari arah luar kamar mandi.

__ADS_1


Aku selesaikaj hajat, dan mencuci tangan sebelum keluar dari kamar mandi. Elena sudah menungguku dengan wajah penasarannya.


"Iya, habis ini Ibuk akan ke sekolah," ucapku membelai rambut halus putri kecilku ini.


Setelah itu, tangan Elena aku bimbing dan menarik tas kecil yang biasa aku gunakan setiap keluar. Aku pun segera memesan taksi online dan mengantarkannya ke sekolah TK tempat ia menimba ilmu.


"Belajar yang rajin ya, Cantik! Biar pinter."


Elena menganggukkan kepala mencium tanganku lalu masuk ke dalam area sekolahnya. Sementara aku kembali masuk ke dalam taksi online itu dan segera memintanya mengantarkan ke alamat yang aku tulis di aplikasi.


"Mau apa ke kampus, Mbak?" tanya sang supir yang terus melirikku lewat spion depan mobil yang ia kendarai.


"Biasa, Bang. Kuliah sambil hamil," jawabku.


"Waaah ... Hebat sekali ya Mbak? Kuliah dalam keadaan hamil sepertinya berat ya?"


Setelah tepat berada di koridor kampus, ada Lingga yang menyambutku dan merangkul lenganku. "Seharusnya kamu di rumah saja? Kehamilan tuamu ini sudah cukup berbahaya jika tidak diawasi orang terdekat."


"Aku tidak tenang sebelum memastikan Pak Rendra kalian itu dalam keadaan baik-baik saja."


Lingga menggelengkan kepala. "Susah banget kalau istri bucin berlebihan pada suaminya. Aku melihat tindakanmu ini cenderung ke tingkat posesif yang berlebihan."


Aku hanya menjawab ucapan Lingga ini dengan senyuman. "Kamu tidak akan tahu rasanya sebelum berada di posisi yang sama denganku."


Lingga mencabikkan bibir. "Sepertinya saat ini aku tak ingin lagi menjalin hubungan. Sepertinya aku harus menyelesaikan perkuliahan dan mencari pekerjaan agar bisa membelikan keponakan-keponakanku ini pakaian yang bagus." Lingga membelai perutku, dan jujur, itu rasanya sangat aneh.

__ADS_1


Dari kejauhan, aku lihat suamiku melangkah dengan pasti menuju kelas yang ia ajar hari ini. Namun, ada hal yang aneh. Ia tercenung seakan menyadari keberadaanku. Lalu, beberapa detik kemudian ia berjalan kembali dengan langkah yang canggung.


"Pak Rendra memang the best banget ya. Ia berusaha seprofesional mungkin. Meskipun keadaannya tidak baik-baik saja, ia terus memberikan materi perkuliahan kepada para mahasiswanya," ungkap kagum Lingga.


Namun, aku hanya sedikit merasa aneh akan gelagatnya tadi. Tidak seperti biasanya, hari ini ia berhenti sejenak melihat langsung diriku yang berada di samping Lingga. Apakah harapanku terlalu tinggi, mengharapkan Mas Aren sebenarnya bisa melihatku dengan segala keadaanku dengan baik?


Aku berusaha mengikuti langkah suamiku, tetapi semua tubuh terasa lelah, dan kakiku sangat pegal. Lingga mengajakku duduk pada bangku yang ada di koridor.


"Udah ah! Jangan jadi mata-mata kayao gini terus! Aku yang nemeninmu aja berasa capek, apalagi kamu yang menjalaninya."


Lingga tiada berhenti mengomel, dan aku yakin omelannya itu karena khawatir kepadaku. Jadi, aku hanya membalasnya dengan mencubit pipinya memberikan senyuman tulus akan rasa sayangku kepadanya yang sudah seperti saudaraku sendiri.


Semua mahasiswa yang diajar oleh suamiku sepakat tidak mengatakan keberadaanku kepada suamiku. Aku diam-diam sering duduk di dalam kelasnya mengambil posisi paling belakang.


Kali ini netranya seakan kembali menangkap keberadaanku, dalam beberapa detik ia menatapku dengan lurus. Setelah itu ia kembali melanjutkan perkuliahan yang diberikan tanpa memegang satu pun buku panduan di tangannya.


Ah, hebat sekali dia. Ia memberikan materi-materi yang seperti tertanam di dalam benaknya dengan sempurna. Sedang asik memperhatikan suamiku mengajar di kelasnya, entah kenapa perlahan aku merasakan sakit di bagian perutku.


Aku teringat dulu saat hamil Elena, menjelang makin dekat dengan tanggal perkiraan, memang akan sering terjadi kontraksi palsu. Aku memilih untuk mengabaikan dan menatap lurus pada sang suami.


Rasa sakit yang tadinya tidak begitu kentara, semakin lama terasa semakin nyata ... dan menyiksa. Aku yang masih berada di dalam kelas suamiku, tidak berani mengadu dan memilih diam dan menahannya sendiri.


Sakit yang semakin menyiksa, membuat seluruh tubuhku basah karena keringat yang berusaha meredam rasa panas dari dalam tubuh ini. Sepertinya, ini tidak bisa lagi ku tahan, aku harus beranjak dengan perlahan tanpa dicurigai oleh Mas Aren yang berada di depan kelas.


Saat aku berhasil berdiri, aku merasakan ada yang keluar dari area bawah tubuhku.

__ADS_1


"Nesya, kamu berdarah?" teriak orang yang ada di sampingku


__ADS_2