
Setelah menyelesaikan rapat penyambutan di ruang jurusan dengan suasana dingin dan mencekam, aku pun segera keluar dari ruangan rapat. Huuufftt, rasanya sangat lega. Berasa seperti baru keluar dari neraka.
Saat berjalan di koridor, aku melihat Nesya tengah bertengkar hebat dengan sahabatnya. Lingga pergi begitu saja dengan wajah cemberut.
Nesya pun terlihat kesal, entah apa yang menyebabkan pertengkaran itu. Semoga bukan karena mantannya lagi. Urusan yang harusnya berakhir semenjak dulu malah tak kunjung usai gara-gara Lingga malah berpacaran dengan mantan suami Nesya.
Dia tidak menyadari kehadiranku. Nesya masih sibuk menatap panjang melihat kepergian temannya. Kepalanya kuusap dan ia sangat kaget karena itu.
"Aaaah, Mas ih?" sungutnya memasang wajah manyun.
"Kamu kenapa?"
Dia menggelengkan kepala lalu menghempaskan diri duduk di bangku bawah gazebo di taman kampus. Dia menopangkan dagu pada kedua tangan.
"Ada apa? Kenapa kalian bertengkar?"
"Jadi kamu melihat kami bertengkar?" gumamnya masih belum mengganti posisi.
"Iya, aku melihat kalian berdua marah-marah, lalu Lingga pergi. Kali ini masalah apa lagi?"
Nesya hening dengan sejenak. "Aku menyuruhnya putus saja dengan Bang Alan, eh ... dianya nggak mau. Malah menuduh aku yang bukan-bukan." Nesya terlihat cemberut, tetapi jika dia begitu sungguh membuatku jadi benar-benar kesal.
"Sudah lah! Kamu jangan terus ikut campur dengan urusan mereka! Biarkan mereka bahagia dengan dunianya!"
Nesya mengangkat wajahnya, dia bangkit langsung merangkul lenganku. Tumben sekali dia mau seperti ini di tempat terbuka seperti ini? Aku lirik kiri dan kanan, kebetulan tidak ada yang melihat.
"Kenapa tiba-tiba begini?"
__ADS_1
"Kamu cemburu ya?"
"Enggak ah, ngapain juga cemburu?" Aku pun menyugar rambut dengan satu tangan yang masih menganggur.
"Aku, mah ... di atas rata-rata. Masa, sama yang begituan doang aku bisa cemburu?"
Nesya yang tadinya terlihat cemberut, kini bergelayut tertawa mulai melepas pelukannya. "Mentang-mentang udah naik kasta ya? Tiba-tiba, jadi sombong." Dia menarik hidungku dengan gemas.
"Udah ah, malu. Nanti ada yang lihat." ucapnya.
Kami berpisah, karena aku harus masuk kelas melanjutkan pekerjaan. Sementara ia, memilih beristirahat di ruang kerjaku yang kali ini ukurannya lebih luas.
Saat materi perkuliahan, muncul pertanyaan dari mahasiswa yang aku ajar saat ini. Salah satu dari mereka menanyakan apa manfaat bagi lulusan sarjana akuntansi, melanjutkan perkuliahan hingga program profesi akuntan.
Kampus kami memang banyak sekali melahirkan sarjana akuntansi. Akan tetapi, di antara mereka, tidak banyak yang melanjutkan program profesi akuntansi, karena faktor biaya yang jauh lebih tinggi dibanding magister.
Sepertinya aku akan mengangkat masalah ini sebagai salah satu karya yang aku ciptakan. Mereka harus mengetahui juga, begitu banyak manfaat program profesi akuntan yang masih begitu minim.
Supaya tidak lupa dengan planing jangka pendek ini, aku segera memindahkan ide tersebut ke dalam sebuah agenda khusus yang selalu menjadi tempat untuk menyimpan semua rencana yang akan aku capai.
Salah satunya, memiliki anak bersama istri tercinta, minimal lima biar rumahku ramai. Apalagi usia Nesya masih sangat muda, bisa lah rencana produksi anak dalam jangka panjang ini berjalan dengan sukses.
"Pak, kenapa senyam-senyum sendiri?" Salah satu mahasiswi di kelas mengomentari diriku yang sempat terlupa masih berada di ruang kelas.
"Sepertinya lagi ingat yang tadi malam bersama istri," seloroh salah satu mahasiswa membuat suasana kelas menjadi riuh.
"Ssstt!" Aku hanya memberi kode dengan telunjuk di bibir.
__ADS_1
Usai perkuliahan, beberapa mahasiswa masih terlihat geli membicarakan pembahasan saat perkuliahan tadi. Aku berjalan menuju ruang kerja yang dihuni oleh Nesya.
Saat aku masuk ke dalam, ternyata dia sudah tidak ada lagi di dalam ruang kuliah. Aku segera menghubunginya, tetapi panggilanku tidak dijawab.
Dia ke mana ya? Padahal aku baru saja ingin mengutarakan rencana yang baru saja membuat karya sesuai dengan jurusan ini. Aku segera mengambil ponsel dan menghubunginya.
"Kamu di mana? Kenapa nggak bilang-bilang saat kamu pergi?"
"Maaf, Mas. Aku hanya lagi ..." Dia tidak melanjutkan ucapannya.
"Nanti aku tunggu di rumah yaaa. Love you suamiku." Panggilan ditutupnya tanpa tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara.
Saat pulang ke rumah, Nesya benar-benar telah berada di sana. Wajahnya kembali terlihat cemberut.
"Kenapa lagi? Jangan bilang kamu melanjutkan rencana mencampuri urusan Lingga dan mantan suamimu itu? Harus berapa kali lagi harus aku katakan kepada kamu. Jangan ikut campur dengan urusan orang lain!"
Nesya mengerutkan keningnya. "Ngomong apa sih?"
"Terus, kenapa cemberut gitu?"
"Sepertinya aku keguguran, Mas."
"Hah? Emang kapan hamilnya? Kok aku tidak tahu?"
"Aku pulang karena karena tiba-tiba tamu bulananku datang."
"Lhoh? Datang lagi? Bukannya baru kemarin ini? Aku puasa lagi dong?"
__ADS_1