
Apa Mas Aren mendengar semuanya? Namun, posisi ini cukup jauh. Mungkin saja dia tidak mendengar semua obrolan kami.
Aku pun berjalan merangkul Lingga yang masih terlihat shock dengan apa yang baru saja terjadi dengan kami tadi. Rona wajahnya terlihat sedikit kelam, dan bibirnya memutih. Aku mengusap punggung berharap ia bisa menjadi sedikit lebih tenang.
Saat posisi kami lebih dekat dengan Mas Aren, aku beralih pada suamiku yang menatap kosong lurus ke depan. "Mas, apa yang kamu lakukan di sini?"
Sementara itu, Lingga masih menunduk membisu bergerak sendiri menuju bangku yang tersedia di dekat meja kerja. Aku merangkul lengan Mas Aren, tetapi dia hanya diam membisu.
"Kenapa, Mas?"
Akhirnya dia bergerak mengikuti tanganku yang menariknya. Aku menempatkan ia duduk pada bangku kasir yang masih kosong. Ia masih membisu, sepertinya menunggu waktu yang tepat untuk berbicara denganku.
Melihat Lingga yang terpuruk, aku segera memberikan segelas air putih untuknya. Beberapa waktu kemudian, tanpa banyak bicara, Lingga mantap untuk pulang sendiri menggunakan motor yang selalu membawanya ke mana pun ia melangkah.
Setelah memastikan Lingga benar-benar telah pergi, Mas Aren langsung membuka suara.
"Akhirnya aku tahu," ucapnya.
Aku pun duduk pada bangku kosong di sebelahnya, sembari menggenggam tangannya. "Tahu apa?"
"Alasanmu berpisah dengannya."
"Lalu, bagaimana menurutmu?" tanyaku.
"Kenapa tidak kamu katakan kepadaku sedari awal?" tanyanya kembali.
"Ya, aku merasa tidak penting saja membahas segala hal tentang dia. Aku tidak ingin mengingat kebodohanku sebagai seorang istri yang menerima saja tanpa bertanya mengenai pekerjaannya. Yaa, aku malu pada diriku sendiri yang bodoh ini."
"Kamu tahu? Tiba-tiba, aku teringat pada masa pertama kali bertemu. Apa kamu masih ingat, saat benda milikmu yang melayang mendarat di kepalaku?" ucapnya.
Sontak aku tertawa mendengar memori yang sekian waktu bergulir kembali pada masa ini. Saat itu di mana hari pertama aku bertemu dengan pria yang marah-marah, dan pulangnya nyasar di tempat Bang Alan bekerja, meski pun saat itu aku tidak tahu.
"Emang kenapa, Mas?"
"Saat itu adalah masa aku terpuruk. Pertama kali bertemu dengan Reina, setelah ia menikah dengan sahabatku. Saat itu juga kali pertama aku bertemu dengan Si Alan itu menarikmu yang menggendong Elena kecil. Sebenarnya aku ingin memisahkan kalian, tetapi aku pikir kalian bertiga itu kakak adik yang ditinggal orang tua sejenak. Memikirkannya aku merasa bodoh juga, menyimpulkan semua sendiri."
__ADS_1
Isi kepala Mas Aren hari ini terbongkar sudah. Hal ini membuatku tertawa tiada henti membayangkan jika Bang Alan, aku, dan Elena sebenarnya memang masih pantas menjadi kakak adik yang sebemnarnya.
"Dipikir-pikir memang lucu banget. Elena lahir ketika aku belum tujuh belas. Toh nyatanya memang masih ada yang memiliki adik saat usia SMA kan?"
Mas Aren juga terlihat tertawa lepas. "Ya, karena itu aku berpikir Elena itu adik kamu. Namun, kenyataan sungguh sangat mengejutkan."
"Sudah, Mas ... Sudah! Aku nggak mau lagi mengungkit kisah lalu yang membuatku menyesali terlahir sebagai gadis dusun. Mungkin semua akan berbeda jika aku terlahir di kota. Pastinya aku juga akan menyangka itu adiknya saat melihat remaja belia yang menggendong anak."
Tangan suami yang tiada terlepas dari genggaman, akhirnya menarik diriku untuk semakin dekat lagi. "Sepertinya aku tidak akan was-was dan cemburu lagi padanya."
Kusandarkan kepala pada pundaknya dan mengangguk merasa bahagia. "Seharusnya sih dari dulu aku ceritakan ya? Biar kamu tak pernah salah paham lagi. Tapi, dengan itu semua membuat aku menyadari bahwa kamu, benar-benar mencintaiku."
Tangan Mas Aren mengusap kepalaku. "Dulu enggak kok."
"Iya aku tahu, kamu kena karma kan?" candaku.
"Iya, sepertinya karma ini terlalu indah."
*
*
*
Ya, mungkin saja karena yang ada di rahimku kali ini ada dua orang, ditambah lagi bagian-bagian lain yang ukurannya semakin bertambah, membuat kehamilan ini persis sama dengan kehamilan sembilan bulan.
Suamiku telah rapi dengan baju kerjanya dan dasi. Sudah lama sekali ia tidak berpenampilan seperti ini karena hanya menemaniku bekerja di rumah.
"Kenapa senyum-senyum? Aku tahu kok, aku ini sangat tampan," ucap Mas Aren menata posisi dasinya, meneperkirakan posisi yang bagus.
"Iya, suamiku memang yang paling tampan dari semua yang aku kenal. Akan tetapi, dia lebih tampan kalau diam. Jadi gimana dong?"
"Papaaaaa!" Elena tiba-tiba muncul dari arah luar memeluk Mas Aren. "Papa jangan pergi kerja? Nanti Elena sendirian kalau Papa dan Ibuk pergi?" ucapnya sedih.
"Ibuk di rumah saja kok, kamu jangan khawatir ya? Elena bantuin Papa buat jagain Ibuk dan adik di dalam perut Ibuk ya?" ucap suamiku mengusap kepala Elena.
__ADS_1
Elena memandangi perutku yang sudah membulat. Lalu dengan senyum lugunya ia memelu perutku dan menciumnya. "Baik lah, Dek. Hari ini kita di rumah ya?"
Aku bersyukur Mas Aren berhasil meluluhkan hati Elena. Ia membuat Elena mulai memahami bahwa adik yang ada di dalam rahimku ini, adalah pemberian Allah yang sangat berharga.
"Mereka akan menemanimu hingga kamu dewasa nanti. Kalian akan saling menjaga satu sama lain, tak ada beda seperti Papa dan Ibuk yang selalu menjagamu," terang suamiku dengan hati-hati.
Perlahan Elena mulai membuka hatinya hingga seperti saat ini. Elena seolah tak sabar lagi menunggu kelahiran adik-adiknya.
Setelah makan bersama, suamiku memilih menggunakan jasa taksi online untuk mengantarkannya ke kampus. Setelah Mas Aren pergi, aku pun pamit kepada Elena karena akan pergi juga.
"Tapi kata Papa, Ibuk di rumah saja sama Elena," rajuknya.
"Iya sayang. Nanti setelah Ibuk bisa melihat Papa aman dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, Ibuk akan menemani Elena."
Elena menganggukkan kepalanya. Ia mengusap dan mencium perutku. "Ibuk jaga adik Elena baik-baik yaaa?"
*
*
*
Di kampus, aku menggunakan benda-benda yang membantu menyamarkan keadaanku saat ini. Mas Aren berjalan tanpa menggunakan tongkat apa pun. Dia berjalan perlahan, sepertinya mencoba menghitung jumlah ubin yang ia lewati menuju ke ruang kerjanya yang dulu.
Beberapa mahasiswa berjala di dekatnya, menyapa suamiku dengan sangat ramah. Suamiku masih memasang wajah seakan benar-benar melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Akhirnya Pak Rendra masuk lagi. Bagaimana keadaan Bapak?" tanya para mahasiawa centil itu.
"Ya, Alhamdulillah ... Seperti yang kalian lihat," ucapnya yang tak luput dari perhatianku.
Setelah obrolan beberapa saat, Mas Aren melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya. Waah, pasti ruangan kerjanya penuh debu dan sangat kotor. Aku terus melanjutkan mengikutinya.
"Siapa sih? Mencurigakan banget?" ucap salah satu mahasiswa yang melihatku sangat tertutup, sehingga tak satu pun bisa mengenalku.
"Penguntit ya?"
__ADS_1