Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
33. Pelanggan kontrak


__ADS_3

*Halo kakak readers semua ... Adakah yang bersedia membagi vote untuk cerita ini? Pengajuan kontrak untuk cerita ini masih belom lolos juga ... Authornya mulai galon. Bisa bantu sawer dengan iklan, atau bunga dan kopi yaah ...*


Akhirnya aku bisa memberikan uang kepada Nesya. Uang yang aku dapat dengan bermandikan keringat. Aku perhatikan Nesya begitu gembira mendapat uang dariku, hingga memenuhi apa yang aku inginkan dengan mudahnya.


Dia tidak perlu tahu apa yang aku lakukan. Melihat dia lebih ceria seperti ini saja membuat sesuatu di dalam hatiku merasa lega. Aku baru menyadari, bahwa nafkah dari suami itu memang sangat pnting.


Waktu terus bergulir, aku mengaku pada Nesya bekerja sebagai pramusaji di sebuah klub malam. Padahal klub malam hanya sebagai lokasi transaksi bagiku.


Berbagai jenis wanita aku layani untuk memenuhi ha srat mereka yang tak merasa puas akan yang diberikan oleh suami mereka. Bahkan, Nita datang kembali mencariku. Kali ini dia membawa anggotanya para sosialita kesepian. Mereka ingin bermain beramai-ramai sekaligus denganku yang sendirian.


"Aku tahu kamu pasti bisa melakukannya. Ayo ... Masing-masing kami akan membayarmu berbeda. Syaratnya satu! Kamu harus mampu memuaskan kami."


Malam itu aku memecahkan rekor kembali. Aku yang masih dua puluh satu tahun, meladeni tante-tante usia di atas empat puluh tahun.


Seperti biasa mereka siap-siap pulang saat waktu menujukan pukul tiga dini hari. Masing-masing mereka membayarku dengan harga yang sama.


"Aaahh, Nesya pasti sangat menyukai uang yang banyak ini."


Namun, ada satu wanita yang tidam beranjak sama sekali. Dia tinggal sendirian sembari melihatku dengan wajah menginginkan aku kembali.


"Mba, kenapa belum pulang?" Aku mulai memasang pakaian.


Dia berdiri menarik pakaianku kembali. "Aku masih menginginkannya. Tadi terlalu ramai! Aku ingin melakukannya berdua saja denganmu."


Ooh, dia yang bernama Dian. Dian adalah yang paling muda dari mereka. Dia tidak pernah menikah, jadi jajan dengan orang-orang macam kami lah solusinya.

__ADS_1


"Aku mau, kamu tidak perlu menggunakan pengaman. Aku lebih suka jika kamu menembakan pasukan kecebong putih milikmu ke dalam rahimku."


Mendengar istilah itu membuatku tertawa. Namun, aku kembali teringat akan ucapan suhu bernama Zico. Harus tetap menggunakan pengaman.


"Hmmm, maaf Mba ... Ini sama-sama demi keamanan kita."


"Aku sehat kok. Kamu bisa mengecek kesehatanku ke laboratorium. Aku sungguh menginginkannya. Aku akan membayarmu mahal untuk itu!" Dian membelai-belai benda yang ada di pangkal pahaku ini. Walaupun sikapnya aneh, wajahnya sangat lah cantik.


"Hmmm, sekali ini saja ya? Tapi janji, bayarannya harus tinggi!"


"Kamu jangan mengkhawatirkan itu!"


Kami pun memulai kembali dengan diawali ciuman dan saling raba dan re mas benda sen sitif yang ada di antara kami. Setengah jam kemudian, Dian mendekapku menyandar di dadaku.


Aku langsung teringat pada Nesya. Aku baru menyadari, aku tidak pernah lagi menyentuh dan menikmati istriku sendiri. Bahkan, aku sempat menolaknya saat dia menginginkanku. Setiap sampai di rumah, tubuhku selalu merasa lelah.


Dia pasti merasa sedih di saat aku sudah memberinya uang, tetapi aku tidak bisa memberikan kepuasan batin untuknya. Aku teringat kembali pada para pelangganku adalah wanita-wanita yang tidak bahagia di ranjang beraama suaminya.


Apakah Nesya akan melakukan ini juga? Mencari pria yang bisa memuaskan has rat nya yang belum aku berikan kembali? Aaah, kenapa makin hari aku selalu memikirkan perasaan Nesya?


Bagaimana jika dia mengetahui bahwa aku adalah pria pemuas naf suu para wanita? Apakah dia masih akan tetap mencintaiku? Atau malah sebaliknya?


Pikiranku mulai kacau dan ketakutan akan sesuatu. Aku tak ingin Nesya mengetahui pekerjaanku ini. Entah kenapa aku merasa sangat merindukan Nesya. Sepertinya aku harus mengajaknya jalan-jalan. Malam ini aku panen besar.


"Alan, apa kamu mau jadi suamiku?"

__ADS_1


Ucapan pelangganku yang barusan membuyarkan lamunanku. "Apa maksudmu?"


"Apa kamu mau menjadi suamik? Sepertinya aku jatuh cinta padamu."


Kenapa mendadak begini? Menikah dengannya? Jadi setelah itu dia tidak akan membayarku lagi?


"Kamu jangan khawatir, kita hanya menikah secara kontrak. Jadi kayak kesepakatan dalam beberapa waktu kamu hanya meladeniku. Kamu tidak boleh menerima orderan dari wanita lain."


"Bayarannya?" Aku sebagai pria yang biasa dibayar, tentu tidak mau rugi jika setiap meladeninya hanya diberi upah ucapan terima kasih.


"Aku akan menggajimu tiap bulan. Sepuluh juta, cukup apa tidak untuk sebulan?"


Aku menggelengkan kepala. Aku rasa upah harian yang aku dapat dalam sebulan lebih dari itu.


"Masih kurang ya?"


"Ya," ucapku singkat.


"Dua puluh juta mentok. Kalau masih kurang, aku akan mencari pria lain saja."


Aku rasa dua puluh juta sebulan, rasanya cukup. "Jadi kontrak kita berapa lama?"


"Nanti aku konfirmasi lagi. Apa kamu setuju dengan bayaran segitu?"


"Ya, setuju!" Setidaknya aku hanya melayani satu pelanggan saja dalam semalam.

__ADS_1


__ADS_2