
*Terima kasih buat kakak-kakak readers yang mau menunggu cerita ini ya ... Insya Allah mulai senin-minggu akan ikut crazy up. 😇 semoga kuat buat up 3 bab sehari di tengah pekerjaan yang tengah dikerjakan. Authornya lagi urus pindah kerja antar provinsi. Jadi bakalan sering banget bolak balik keluar kota 🙏😂*
Mohon doanya ya Kak, semoga semua urusan Author lancar.
*
*
*
"Lingga?"
Aku lihat Lingga telah babak belur dengan rambut acak-acakan. Sementara lawannya adalah seorang wanita yang terlihat sudah lebih dari tiga puluhan, masih menggunakan pakaian kerja berwarna kaki. Namun, aku merasa wajah wanita itu tidak lah asing.
Aku mencoba mengingat kembali, rasanya wanita ini pernah terlihat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dia hendak menyerang Lingga kembali, dan aku mencoba berdiri di tengah antara kedua orang tersebut.
"Maaf ya, Bu ... kalau boleh tahu, apa yang sedang terjadi?"
"Kau pasti komplotannya?" ucap wanita itu, tetapi matanya membesar melihat padaku.
"Bukan kah kam--"
"Reina! Apa yang kamu lakukan di sini?" Seorang pria tak dikenal muncul dari balik kerumunan.
Melihat pria yang baru saja hadir, membuat reaksi berbeda dengan Lingga. Dia langsung mendekati pria tersebut. Jadi, semenjak tak pernah dekat lagi, Lingga jadi seperti ini? Ah, aku tidak boleh menduga-duga seenaknya.
"Lingga, kamu tidak apa? Maaf ya, sudah membuatmu repot seperti ini?" ucap pria yang memiliki tubuh kekar, terpancar dari pakaian yang dia kenakan.
"Dang, seharusnya kamu membelaku! Kamu tanya bagaimana keadaan dan perasaanku saat ini karena ulah kalian! Tapi kenapa?" *Dang\= Abang/Mas \= panggilan bagi lelaki dituakan.
Aku bagai melompat pada masa lalu kelam saat menemukan suamiku ... maksudku mantan suamiku dulu melakukan penghiaa natan. Rasanya sungguh hancur. Tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mengungkapkan rasa sakit itu. Namun, kenapa harus Lingga?
"Kamu ini sungguh membuatku malu pakai bawa-bawa seragam kerja untuk seperti ini." ucap pria tersebut.
"Jadi, kamu malu kepadaku, Dang?" Dia menatap nanar kepada pria yang kuduga adalah suaminya, tetapi menyentuh bahu Lingga. Wanita itu pergi dengan uraian air mata yang tiada henti mengalir di pipinya.
Aku benar-benar terenyuh dengan suasana seperti ini. Namun, Lingga adalah temanku. Mungkin kejadian sebenarnya tak seperti yang terlihat. Aku harus berpositif tingking.
"Kamu tidak apa-apa, Lingga?" Aku mendekati Lingga dengan wajah prihatin. Dia hanya menggelengkan kepala dan menarik pria itu pergi dari tempat ini.
Kerumunan pun mulai bubar. Aku mendengar beberapa ucapan yang kurasa itu tak pantas dilontarkan tentang Lingga.
"Maaf ya, kakak-kakak ... jangan ghibah dulu. Mungkin ini hanya sebuah kesalahpahaman." aku turut menyela agar mereka menghentikan berkata buruk pada seseorang yang pernah menjadi sahabatku beberapa saat.
__ADS_1
Aku pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Esok adalah week end, dan aku bisa lebih bersantai seperti masa berakhir pekan seperti biasanya.
*
*
*
"Buk ... Elena mau es kelapa muda." Aku sengaja menutup laundry lebih cepat dari biasanya.
Aku mengajak semua anggota laundry untuk makan di restoran dekat pinggir pantai, sore ini. Aku ingin merayakan moment kesuksesan laundry kami dengan mentraktir semua anggota makan di sini. Sekalian memberi mereka bonus, karena omset yang kami dapat semakin meningkat.
"Bagaimana kalau buka cabang baru aja?" tanya Kak Sinta, salah satu dari empat orang yang bertugas dalam bagian pencucian.
"Hmmm ... ide bagus juga Kak. Hanya saja, aku belum bisa melakukannya karena kuliah juga. Satu laundry ditambah kuliah reguler ini saja membuatku kelimpungan."
Kak Vina, orang yang begitu aku andalkan mengacungkan dua jempolnya kepadaku. "Kamu sunggu keren, Nesya."
"Apanya yang keren, Kak? Nilai semester laluku aja pas-pasan banget. Bahkan ada yang C."
Dia terbahak dengan seketika. "Nilai C pun diberi oleh Mas Aren." Kak Vina kembali tertawa terbahak.
"Aku pikir, Mas Aren bakalan memberi nilai A plus kepadamu."
Lalu Kak Vina tertawa terpingkal-pingkal. "Namun, kamu keren kok Nesya. Bisa berkuliah sembari meng-*hand*le laundry seperti ini merupakan hal yang tak bisa dilakulan oleh mahasiswa lain."
"Sebenarnya kamu bisa lebih berkembang lagi. Namun, aku setuju dengan keputusanmu. Nanti saja membuka cabang laundry usai tamat. Aku yakin hasilnya akan lebih pesat lagi setelah ini." tambah Kak Vina.
"Mohon doa kakak-kakak semua ya." ucapku menangkupkan kedua tangan di hadapan mereka semua.
"Aaamin."
Namun, Kak Vina mematung melihat sosok yang berada di belakangku. Aku pun ikut melihat ke arah belakang. Aku melihat sosok wanita yang duduk sendirian bermain ponsel dengan wajah sedih bin kusut.
"Bukan kah dia--"
"Kamu kenal dia?" ucapanku terputus karena disela Kak Vina.
"Dia kemarin berantem dengan teman kuliahku di kampus." ucapku.
"Oo ... aku pikir kamu kenal sama dia." celetuk Kak Vina.
Lalu aku lihat kembali ke arah wanita itu. Aku lihat dia di mana ya?
__ADS_1
"Dia itu mantan pacarnya Mas Aren," ucap Kak Vina tiba-tiba.
Ucapannya itu langsung membuatku teringat pada kejadian lalu saat di dinas pendidikan. Dia wanita yang berwajah sendu di sana. Oh, ya ... Pak Arendra sengaja berakting saat itu karena dia lah mantan Pak Arendra yang diceritakan Bang Alven.
drrrrt
Ponsel bergetar, balasan pesan chat dari Bang Alven masuk kembali. Kak Vina ikut melirik apa yang ada pada layar ponsel tersebut.
"Sebenarnya saat ini hubunganmu dengan Mas Alven gimana sih? Kalian udah jadian?" tanya Kak Vina.
Ucapan Kak Vina yang tiba-tiba begitu, kembuatku tersedak. Makanan ku telan terasa masuk pada saluran pernafasan.
"Uhuk ... uhuk ..." Aku segera menepuk-nepuk dada agar makanan salah masuk kamar tersebut turun dengan segera dan aku pun langsung mendorongnya dengan air.
"Ibuk, makan itu jangan bicara," ucap Elena dengan senyum jahil.
"Bener juga ya, Nak? Padahal Ibuk selalu ingatkan kamu. Sekarang Ibuk yang kena batunya." Aku cubit hidung mancung milik gadis kecil ini.
"Kamu sungguh mencurigakan." Kak Vina terkekeh.
"Lhoh? Emang kenapa, Kak?"
"Kalian udah jadian ya?"
Aku menggeleng cepat. "Kenapa Kakak bilang begitu?"
"Kalian kayak orang pacaran aja, chatting udah gak kenal waktu."
"Pacaran itu apa, Tante?" sela anakku.
"Tuh, Kak ... Elena jadi nanya-nanya kan? Kakak jangan bilang yang aneh-aneh di hadapan Elena. Dia ini lagi super kepo terhadap segala hal."
"Buk, pacaran itu apa, Buk?" Elena mulai mendesak jawaban atas pertanyaan yang dimilikinya.
"Elena lebih suka yang mana? Papa Aren apa Om Alven?"
"Iih, Kak ... apaan sih?" Aku membesarkan mata kepada Kak Vina.
"Elena suka Papa ... Papa Aren baik orangnya. Tapi, Elena tetap lebih suka sama Ayah."
Elena memutar wajahnya sejenak. "Nah, itu kan Papa?" menunjuk seseorang ke arah belakangku.
Kami serempak melihat ke arah belakang. Melihat orang yang ditunjuk Elena merangkul wanita yang saat ini menangis di bahunya.
__ADS_1