Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
34. Jalan-jalan yang gagal


__ADS_3

Keesokan harinya aku mengajak Nesya dan Elena jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kami akan menghibur Elena dengan permainan yang ada di arena khusus bagi anak. Akan tetapi, ada sosok tak terduga kutemui di sana.


"Nina?" Mulutku secara refleks memanggilnya. Dia terlihat sungguh modis. Nina adalah cinta pertamaku. Berbeda dengan Inke, Nina adalah gadis yang sangat cantik. Semua yang ada padanya sungguh sempurna.


"Bang Alan di sini?" Nina berhenti dan meminta izin pada kawan-kawannya untuk memberi waktu agar kami berbicara.


Mata Nina liar mencoba mencari sesuatu. "Mana Nesya dan anakmu?" Tentu saja dia tahu bahwa aku menikah dengan Nesya. Mereka juga satu kelas dulunya waktu SMP.


"Oh iya, mereka sedang menungguku. Tapi biar aja, sebentar lagi aku akan kembali. Apa kabar? Kamu tahu nggak? Aku kangen banget sama kamu. Kamu tak pernah pulang ke dusun lagi?"


"Iya, males aku ke dusun. Nesya bagaimana kabarnya? Sayang sekali dia tidak melanjutkan sekolahnya. Padahal dia itu pinter banget lho? Juara satu melulu, aku tidak bisa mengalahkannya."


Aku baru tahu ini. Dia sama sekali tidak pernah mengatakannya. Apakah benar Nesya sepintar itu?


"Nina?" Sebuah panggilan membuat kami refleks melihat ke arah si pemilik suara. Nesya mencariku.


"Nina, apa kabar?" tanyanya.


"Kamu bisa lihat sendiri." Nina melihat Elena dan berjongkok mencoel dagunya.


"Udah gede aja ya, Dek?" Dia merogoh kantong dan memberikan lolipop kepada Elena.


"Jangan!" Nesya mencegah Nina melakukan itu.


Nina tertegun karena dilarang oleh Nesya. "Ya udah kalau nggak boleh." Dia memasukan kembali ke dalam kantong celana joger yang dikenakannya.


Aku tidak suka melihat sikap Nesya yang memojokan Nina seperti ini? "Lebay amat sih? Cuma satu doang, terima aja lah!"


"Iya, adik-adik dan keponakan di dusun, aku beri permen dan coklat sesuka hati saja. Ini baru sebuah permen udah dilarang?" Nina menatap Elena kembali.

__ADS_1


"Duh, kasihan kamu, Dek. Punya Ibuk over protektif." tambah Nina lagi.


"Pokoknya sebelum dia pintar gosok gigi, dia belum boleh makan ini." Nesya masih kukuh dengan sikapnya.


"Sekarang bagaimana sekolahmu Nin?"


"Wah, kamu tidak tahu ya? Sekarang ini aku sudah berkuliah." Dia melirik Nesya sejenak dan membuang muka.


"Oh iya, kamu tidak bersekolah." celetuk gadis itu.


Aku lihat, raut wajah Nesya langsung berubah dengan seketika. "Oooh, kamu sudah kuliah? Hebat ya? Semoga sukses."


Nesya langsung memasukan Elena ke dalam gendongan, setelah itu langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa kepada kami berdua. Apakah dia marah? Emangnya ada yang salah dengan yang dikatakan Nina tadi?


Wajar saja dia tidak tahu karena Nesya memang tidak dalam dunia pendidikan lagi. Jadi aku rasa, Nina pantas berkata demikian.


"Sepertinya dia marah padaku." ucap Nina melirik kepergian Nesya.


Namun, sedang tengah asik ngobrol, teman-teman Nina tadi mengajak Nina cabut. Terpaksa obrolan kami sudahi. Setelah itu, aku baru mencari Nesya. Dia kemana ya?


Entah kenapa kakiku melangkah menuju ke pantai yang tepat berada di depan pusat perbelanjaan ini. Ternyata memang benar, Nesya ada di pantai. Dia bersama siapa? Apakah yang aku khawatirkan memang terjadi? Dia mulai mencari pelarian?


Melihat dia bersama laki-laki lain sungguh membuat aku sangat amarah. Aku langsung menarik tangannya yang sedang berbicara dengan pria yang sama sekali tidak ku kenal. Dia kenal pria itu di mana?


"Kau sudah berani macam-macam ya? Tak bisa melihat lelaki tampan sedikit pun ya? Sekali saja ada pria tampan, langsung kau dekati?"


Nesya terus ku tarik. Dia masih bersedia mengikuti langkahku. Sepertinya dia marah gara-gara aku halangi dekat dengan pria lain. Dasar mu raa han! Tak bisa ditinggal sedikit, dia langsung berpaling dariku!


"Kau berani-beraninya ya bicara dengan pria lain di belakangku?"

__ADS_1


Dia meronta menarik tangannya hingga terlelas dari genggamanku. "Lalu kau sendiri bagaimana? Apa aku hanya sekedar pajangan, saat kamu berada di dekat orang yang kamu suka?"


Oooh, dia mau playing victim? "Kamu sudah berani?" Tanpa sadar suaraku keluar dengan sangat keras.


"Hek ... hek ... hek ...." Membuat Elena menangis.


Ini sungguh membuatku sakit kepala. "Suruh anakmu diam!" Aku masih belum bisa menahan emosi. Volume yang keluar masih sangat tinggi.


"Huwaaaaaaa ... Ibuk ... Ibuk ...." Elena menyembunyikan wajahnya dalam dada Nesya.


"Jadi dia ini, hanya anakku?" Nesya berbalik meninggalkanku. Oooh, gitu ... kita lihat! Apa dia bisa pulang dengan sendiri atau tidak. Awas kau!


Aku baru menyadari waktu sudah sangat sore. Sekalian saja menuju ke lokasi tempat kerja. Nanti tinggal hubungi Dian yang sudah mengontrakku.


Sampai di lokasi, aku segera mandi. Dian pun pulang dari kantor langsung ke sini. Dia pun mandi lalu menggunakan pakaian yang sangat seksi.


"Kamu sudah makan belom?" tanyanya.


"Belum."


"Aku pesan online saja," ucap Dian.


"Baik lah."


Sedang asik pemanasan, panggilan dari kurir sekaligus ojek online menelepon Dian. "Makanan kita sudah sampai."


Dian keluar, dan sedikit aku intip keluar. Ternyata ada Nesya dan Elena di atas kendaraan pengemudi online itu. Cerdas juga dia, aku pikir dia akan tersasar luntang lantung tak tahu arah.


Aaah, dia pasti sangat marah padaku. Akan aku pikirkan kembali, drama apa yang harus aku lakukan esok pagi.

__ADS_1


***tidak lolos kontrak guys ... boleh othornya numpang nangis? Apa karya ini nganu banget??? jawab yaaa***



__ADS_2