Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
35. Sebenarnya aku mencintainya


__ADS_3

Aaah, dia pasti sangat marah padaku. Akan aku pikirkan kembali, drama apa yang harus aku lakukan esok pagi. Sepertinya dia mencoba mengintipku. Aku harus bersembunyi. Gawat juga jika ketahuan.


Usai Dian kembali membawa makan malam kami, kami berbincang sembari menikmati makan malam yang dibeli secara online tadi.


"Aku adalah seorang manger di sebuah perusahaan multi nasional. Jadi, karena kesibukanku yang bekerja tidak mengenal waktu, membuat kekasihku meninggalkanku."


Aku terus mengangguk menikmati makanan ini. Aku tidak memedulikan apa yang dia katakan. Yang terpenting bagiku adalah uang yang akan diberikannya padaku.


"Bagaimana denganmu?"


"Uhuuuk ...." Tiba-tiba Dian membuatku tersedak dengan pertanyaan yang entah apa.


Dian segera menyodorkan air mineral yang dibelinya tadi. "Makan yang pelan dong!" Mengusap punggungku dengan senyum nakalnya.


Usai meneguk minuman tersebut, aku mencoba mengingat apa yang ditanyakannya tadi. Hmmm, sepertinya aku memang tidak mendengar apa yang dia ceritakan sama sekali.


"Tadi kamu menanyakan apa?"


"Mengapa kamu memilih menjalani hidup seperti ini? Berapa usiamu? Sepertinya kamu masih sangat muda."


"Ooh, aku. Aku membutuhkan uang. Sedangkan saat ini usiaku sudah dua puluh satu tahun."


Mata Dian terlihat berbinar. "Waah, aku mendapat brondong yang jauh lebih muda dong. Tapi permainan ranjangmu sungguh luar biasa. Bahkan kamu melebihi---" Dian menghentikan ucapannya.


"Melebihi siapa? Kamu biasanya memadu kasih ini dengan siapa?" Sepertinya Dian cukup berpengalaman di ranjang. Dia sama sekali tidak merasa canggung dengan permainan ranjang kami, dan tentunya dia bukan seorang perawan.


Dian menggelengkan kepala. "Lebih baik kita lupakan saja. Yang penting, saat ini kita adalah suami istri."


"Suami istri itu tinggalnya di rumah. Bukan di sini," candaku memecah kecanggungan sikapnya yang cukup kaku.


"Kalau kamu beneran mau menikah denganku, aku seneng banget. Aku akan membawamu ke rumahku." Dian langsung merangkul lenganku dan menyandarkan lengannya.


Aku menikah lagi? Hmmm ... boleh juga. Namun, aku masih memiliki Nesya dan ada Elena di antara kami.


"Bagaimana, Sayang? Apa kamu mau menikahiku secara resmi? Aku janji akan membiayai semua kebutuhan hidupmu. Jadi, kamu tidak perlu lagi melanjutkan pekerjaan ini. Cukup denganku saja kamu serahkan kelelakianmu itu."


Aku masih bingung. Ini sungguh sangat mendadak. Seharusnya aku senang diajak wanita kaya untuk menjadi suaminya. Namun, aku baru mengenalnya tadi malam, sebagai pelanggan yang mendadak menjadi istri.


"Bagaimana Lan? Kenapa kamu diam saja? Katakan padaku, apa kamu bersedia menikahiku secara resmi di KUA?"


Aaah, menikah resmi? Aku sudah memiliki istri yang sah. Tidak mungkin menjadikannya sebagai istri utamaku. Apakah kali ini adalah kesempatan untuk mengakhiri semuanya dengan Nesya? Bagaimana dengan Elena?


"Lan? Kenapa kamu diam saja? Apakah itu artinya kamu tidak bisa menjalani hubungan pernikahan resmi denganku?" Dian terus mendesakku. Ada apa dengan dia?

__ADS_1


"Aku harus memikirkannya terlebih dahulu."


"Oooh, baik lah." Dian memulai dengan ritual rabaannya dan adegan selanjutnya.


Pagi harinya, Dian membangunkanku dengan gelitikan. "Ayo bangun Sayang! Sudah pagi."


Untuk pertama kali aku rasakan tubuh ini tidak lelah saat bangun di pagi hari. Apa karena sudah tidak terlalu diforsir seperti hari-hari sebelumnya? Secara refleks aku segera mencari pakaian dan langsung mengenakannya.


"Lhoh? Sepagi ini kamu mau kemana?" tanya Dian heran.


"Aku harus pulang. Nanti orang di rumah pasti mencariku."


"Siapa yang mencarimu? Orang tuamu? Atau ... jangan bilang kalau kamu ini sudah menikah?" tebak Dian terkekeh.


"Aaah, tidak mungkin. Kamu masih terlalu muda untuk menikah." Dian menyimpulkannya sendiri.


Bagaimana ini? Apakah aku harus berkata jujur bahwa sebenarnya aku ini memang sudah menikah.


"Ayo siap-siap dulu sanah! Aku juga harus siap-siap untuk pulang ke rumah. Aku harus bekerja. Kalau kami sudah memiliki jawaban dengan permintaanku tadi, mari kita bertemu dengan orang tua masing-masing."


Aku hanya mengangguk dan kami berpisah menuju tempat pulang yang berbeda. Setelah sampai, aku langsung mengetuk pintu. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Bukan kah sudah masuk waktu Subuh? Biasanya dia melaksanakan solat tepat waktu.


Akhirnya aku gedor pintu sambil berteriak. Aku yakin sekali dia sengaja tidak membukakan pintu untukku.


Namun, masih tak ada jawaban. Ini adalah kali pertama dia mendiamkanku. Apakah dia mulai membenciku? Tidak! Tidak mungkin dia membenciku. Aku tahu dia sangat mencintaiku.


Apa yang harus aku lakukan jika dia benar-benar membenciku? Meskipun aku bosan dengannya, tetapi ... aku belum siap jika benar-benar berakhir dengannya.


Semakin lama tanpa sahutan, entah kenapa perasaanku menjadi kalut seperti ini? Aaah ... aku? Kenapa ini? Degub jantungku benar-benar menjadi cepat menatap ke arah pintu yang masih tertutup.


Dia sungguh-sungguh marah? Bukan kah dia tidak pernah marah padaku? Meskipun aku selalu sengaja menyakitinya, dia tidak pernah seperti ini. A-aku harus bagaimana?


Aku hanya bisa membenamkan kepala dalam pangkuan. Kenapa aku ketakutan seperti ini? Padahal sebelum-sebelumnya, aku selalu ingin meninggalkannya. Namun, dia seperti ini mengapa aku merasa kacau? Apakah aku benar-benar sanggup berpisah dengannya?


ceklek


Akhirnya, terdengar suara pintu dibuka dari arah dalam sana. Dia muncul masih dalam keadaan terselimut mukena. Apakah dia merenungkan semua kejadian dalam solatnya? Apakah dia memaafkan segala kesalahanku dan mendoakanku usai dia solat?


Aku segera mendekat dan berlutut di hadapannya. Aku yakin ... aku tak sanggup kehilangannya. Bagaimanapun, aku cinta padanya. Ya, aku yakin, sebenarnya aku mencintainya. Dia yang selalu menerima semua kesalahan yang selalu menyakitinya.


"Maafkan Abang, Dek. Abang mengaku salah. Seharusnya Abang berdiri di pihakmu, bukan malah menyalahkanmu. Harusnya Abang tidak menelantarkan kalian berdua di sana."


Namun, nyatanya dia tak bergeming. Dia mematung dengan wajah dingin. Apakah dia tidak yakin dengan perasaanku yang benar-benar menyesal dan takut kehilangannya? Oh ... Dia pantas berlaku seperti itu terhadapku.

__ADS_1


Aah, ya ... apakah dengan uang yang diberikan oleh Dian tadi bisa membuatnya bersuara kembali? Aku serahkan semua uang yang aku dapat kepadanya.


Dia menerima uang tersebut. "Ini upah untuk malam tadi? Kenapa banyak sekali?" Dia terlihat sangat terkejut.


"Boss memberiku bonus karena bekerja dengan sangat baik."


"Alhamdulillah. Uang ini bisa buat beli mesin cuci murah." Dia segera menyimpan uang tersebut. Haah, legaa sekali rasanya, akhirnya dia mencair juga.


Apa yang harus aku lakukan lagi ya? Agar dia benar-benar memaafkanku? Ooh, ya ... aku akan mencoba menggantikan pekerjaannya. Aku segera mencuci pakaian yang akan dikerjakannya.


Sedang asik bekerja, Nesya mengejutkan dan membuatku menghentikan semua. "Apa yang kamu lakukan?"


Dia mendekat dan memeriksa apa yang aku lakukan. "Jangan disikat. Ini bahannya tipis!" Ooh, kenapa dia malah marah?


"Yaah, jadi berbulu?" sungutnya.


"A-apa aku melakukan kesalahan?"


"Biar aku yang ganti rugi. Abang tidur saja temani Elena."


Tuh kan? Dia masih memaafkan aku meski jelas melakukan kesalahan seperti ini. Apa masih ada yang seperti Nesya di dunia ini?


Meskipun aku sama sekali tidak mengantuk, aku hanya mengangguk patuh dan segera menemani Elena yang masih lelap dalam tidurnya.


Aku tatap Elena dan membelai rambut gadis yang bertubuh mungil ini. Aah, Sayang. Maafkan ayah. Tiba-tiba aku teringat pada penawaran Dian. Apa yang harus aku lakukan?


Sepertinya aku harus berhenti. Aku tak tahu bagaimana jika nanti Nesya mengetahui semuanya. Aku harus mengakhiri semuanya dengan Dian. Bagaimana caranya mengakhiri dengan Dian? Aku harus memikirkan alasan yang bisa diterima olehnya.


Seharian ini Nesya terlihat bahagia. Wajahnya sangat penuh oleh senyuman. Aku teringat kembali pada Nesya yang aku lihat saat pertama kali bertemu. Ya, dia sangat cantik bila tersenyum.


Selama ini, aku hanya bisa membuat Nesya menangis. Air mata memudarkan kecantikannya selama ini. Dia selalu murung dan terlihat sangat menyedihkan. Apa aku terlalu ja hat padanya?


"Waaah, senyum-senyum aja?" Aku sengaja menggodanya.


"Soalnya aku suka kalau Bang Alan seperti ini."


deegh


Aku seperti tertohok oleh ucapan manis itu. Bagaimana sikap ku selama ini? Tentu saja jawabannya hanya satu. Selalu menyakitinya.


Malam pun mendekat, aku merasa sangat malas meninggalkan Nesya dan Elena malam ini. Namun, aku harus pergi. Aku ingin membatalkan semua perjanjian antara aku dan Dian.


"Daah, Ayaaahh ...." Nesya melambaikan tangannya dengan penuh semangat.

__ADS_1


Tunggu aku, Sayang. Malam ini adalah terakhir kali aku meninggalkan kalian. Esok adalah hari di mana aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian.


__ADS_2