
Awalnya, aku ingin sekali menertawakan nasib Reina saat ini. Akhirnya dia mendapat karma bertubi setelah menghianatiku. Akan tetapi, melihatnya menangis seperti itu membuat perasaanku tak tega.
Padahal aku berharap, Nesya cemburu saat melihatku mencoba menenangkan Reina seperti apa yang aku rasakan saat melihat dia dekat dengan adikku sendiri. Bahkan, dia menceritakan segala hal yang terjadi pada dirinya kepada Alven. Sementara, kepadaku tidak sama sekali.
Sepertinya dia tengah merayakan sesuatu di tempat ini. Kira-kira, dia merayakan apa?
"Pak, lebih baik antarkan dia pulang atau ke tempat yang jauh lebih tenang. Saat aku merasa sedih, aku lebih suka sendirian." ucap Nesya.
"Bagaimana Reina? Apa kamu mau kuantar pulang?"
Reina mengusap air mata yang tiada henti menjatuhi pipinya. Dia menggelengkan kepala. "Jika aku bersedih, aku lebih suka ditemani oleh seseorang."
"Ooh, kalau begitu temani saja, Pak. Aku harus bergabung dengan yang lain."
Oh, dia mau menjauh dariku seperti ini? Tidak akan kubiarkan.
"Kalau begitu kenapa tidak gabung ke sana juga?" Aku ajak Reina gabung ke tempat Nesya dan kawan-kawannya duduk.
Wajah Nesya terlihat keberatan. Dia pasti tidak suka jika ada orang asing tak dikenal tiba-tiba ikut serta seperti ini. Reina pun kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku di sini saja." tolaknya.
"Kalau begitu, ayo di sini juga, Sayang. Aku tak ingin kamu salah paham saat melihatku hanya berdua dengan Reina. Aku ingin kamu tahu, saat ini aku hanya mencintaimu. Aku tak ingin kamu marah jika aku hanya berdua dengan Reina."
Nesya membesarkan matanya mencubit tanganku yang menggenggam tangannya. Dia menggelengkan kepala. "Tidak apa, Pak. Aku percaya padamu."
degh
(maaf buat yang tidak suka sama visual dari Author .. makanya gak berani pampangin visual banyak-banyak. soalnya banyak yang suka protes 🤣😂🙏)
Perasaanku seketika berdebar saat dia mengatakan hal tersebut. Ini nyata apa tidak? Aku mencoba membaca apa isi hatinya lewat netra bewarna gelap itu. Aah, aku sadar ... ini hanya akting. Aktingku harus lebih sempurna lagi.
(maafkan Author ... meleyot lihat senyum manis si gula Aren ☺️☺️☺️ *skip buat yang ga suka yah ... boleh ngehalu sesuai bayangannya)
"Aah, terima kasih, Sayang. Kamu hati-hati ya? Apa perlu aku antar pulang?"
__ADS_1
Dia menggelengkan kepala. "Kamu gak perlu khawatir. Aku bisa pulang bareng yang lain."
Elena aku turunkan dan rambutnya langsung aku acak. "Elena jangan nakal sama Ibuk ya? Nanti malam Papa akan ke sana."
"Asiiiik, beneran ya Pa? Nanti bawakan Elena burger yang enak ya?"
Aku acungkan jempol dan Nesya menggandeng tangan gadis kecil itu. Elena melambaikan tangan padaku dengan cengiran anak seusianya.
"Sepertinya kamu sangat dekat dengan putri kekasihmu itu?" Reina mengaduk minumannya. Air matanya sudah tidak jatuh seperti tadi.
Aku kembali duduk di samping Reina, tetapi mata ini selalu melirik ke arah meja yang diduduki oleh rombongan orang-orang yang bekerja di laundry. Aku mencoba menebak siapa yang menjadi bos di sana.
"Ekhem ...." Reina memdapatiku yang terus memandang Nesya dari jauh.
"Sepertinya kamu sangat menyukai ibu dari anak itu."
Entah lah, yang jelas dia selalu mengganggu di kepalaku. Cukup melihat dia dari jauh saja, sudah membuat perasaanku tenang. Namun, dia terlihat jarang tersenyum. Seandainya saja dia lebih banyak tersenyum, mungkin kecantikannya akan lebih terpancar.
"Kamu mengenalnya sejak kapan?"
"Hmm, jika dihitung semenjak pertama bertemu sepertinya sudah cukup lama."
"Kapan waktunya?" Reina kembali mendesakku dengan pertanyaannya yang belum aku jawab.
"Apa hubungan kalian sudah pada tahap yang serius?"
Kembali kulihat punggung ibu satu anak itu. Dia juga melihat ke arahku, sekedar menganggukan kepala. Apa yang harus aku lakukan agar benar-benar mendapatkan hatinya?
"Semoga kami memang berjodoh. Kamu sendiri bagaimana? Apa perlu aku telepon dia untuk membicarakan masalah ini?"
Reina menggelengkan kepala. "Aku rasa, aku belum siap melihat mukanya."
"Katakan lah padaku, apa alasan yang membuatmu lebih memilih dia!" Jujur, aku sangat penasaran.
Mata Reina mengawang ke langit-langit restoran ini. Lalu dia menggelengkan kepalanya. "Aku tak ingin dengan kejujuranku, akan menbuatmu sakit hati."
"Katakan lah! Apa kekuranganku agar aku bisa memperbaiki diriku dengan hubungan yang baru."
Wajahnya terlihat lesu. Mungkin dia belum bisa mengatakan alasan tersebut. Aku kembali melihat ke arah Nesya.
__ADS_1
"Kamu sendiri bagaimana?" tanyanya.
"Aku?" Reina menganggukan kepala. "Menurutmu?"
"Aku lihat kamu baik-baik saja setelah semua usai."
Ah, sebelumnya aku memang selalu merasa sakit hati pada Reina dan Gani yang me nu suk ku dari belakang. Awalnya aku berpikir akan sangat mudah menjerat Nesya untuk jatuh pada pelukanku sebagai alat untuk membalas dendam terhadap Reina. Namun, kenyataannya ... semua rasa berbalik kepadaku.
Melihat mantan suaminya mencoba mendekat, ada panas membara di dalam hati. Saat ini, Alven telah berada cukup jauh dari Nesya. Hal itu membuatku merasa sedikit tenang, meskipun tak bisa tenang dengan sepenuhnya.
"Hmmm, sepertinya aku pulang saja. Aku salah besar meminta pria yang sedang jatuh cinta untuk menemaniku. Namun, aku sedikit merasa lega, kamu sudah tidak membenciku lagi. Itu sudah lebih dari cukup."
Reina bersiap memasukan benda-benda miliknya ke dalam tas. "Aku akan mengantarmu," ucapku menawarkan diri.
Namun, dia menggelengkan kepala. "Lebih baik kamu bergabung ke sana. Sepertinya kamu akan lebih bahagia saat berada di sisinya."
Reina pamit dan keluar dari tempat ini. Sungguh lucu memang. Dia yang memanggilku ke sini, dia juga yang meninggalkanku sendiri.
Aku tak ambil pusing dan segera bangkit, menarik bangku Elena. Semua mata yang ada di meja tersebut memandangku dengan penuh tanda tanya. Nesya terlihat sibuk dengan ponselnya, apakah dia sedang chatting dengan Alven?
Aku angkat Elena setelah itu duduk di kursi Elena lalu memangku gadis kecil itu. "Hmmm, apa aku mengganggu jika bergabung bersama kalian?"
"Lanjutkan, Mas ... ayo mau makan apa?" ucap salah satu yang ada di sana.
"Mumpung Bos Besar berbaik hati untuk mentraktir kita atas kesuksesan usahanya." tambah yang lain.
Aku segera mencoba mencari bos besar yang berbaik hati telah memberikan tumpangan rumah pada Nesya. Rasanya, aku ingin mengucapkan sesuatu kepadanya.
"Kenapa, Mas? Mencari siapa?" tanya Vina yang ada di sisi Nesya.
"Oh, aku ingin bicara dengan bos kalian. Ke mana dia? Kenapa tidak terlihat?"
Dalam bayanganku, orang yang biasanya menjadi pimpinan pastilah berpenampilan necis. Minimal sedikit menor dibanding yang lain. Akan tetapi, di meja ini tak satu pun tampak yang seperti itu.
"Emangnya Mas Aren belum mengenal siapa bos besar yang mempekerjakan kami semua?" tanya Vina kembali.
"Hmm ... sepertinya aku memang tidak tahu siapa orang itu."
"Lalu tujuanmu untuk mengetahui siapa orangnya itu kali ini buat apa?" tanya Vina.
__ADS_1
Semua yang ada di meja terlihat menahan senyum. Apakah ada yang aneh? Ibu dari Elena yang ada di sampingku membesarkan mata, mungkin dia ingin tahu juga.
"Tujuanku adalah ...."