
*booocil skip*
Aku hanya mengulum senyum, dia akan aku buat minta ampun. Seperti apa yang terjadi pada Nesya.
"Ajari aku ya, Sayang ...."
"Kita lihat saja nanti!" Nita mengajakku menuju ke kamar yang telah dipesan dan merangkul lenganku dengan manja.
Nesya tidak pernah seperti ini. Oh, ya ... aku yang tak pernah memberikan kesempatan untuk dia bermanja. Kami memasuki kamar dan Nita langsung menghempaskan tubuh semoknya langsung ke atas kasur.
gleeekk
Suasana kamar ini membuat pemandangan tadi yang terlihat biasa berubah tiba-tiba. Pancaran sinar yang dibuat remang-remang, membuat Nita terlihat begitu meng ga i rah kan.
"Kenapa diam di situ? Ayo sini!" Nita menepuk-nepuk bagian kosong di sebelahnya.
"Aku mandi dulu." Aku teringat apa yang dikatakan oleh Zico, harus mandi dulu, biar pelanggan senang.
"Oh, ya ... kita mandi bareng aja?" Nita mengucapkannya tanpa beban. Dia langsung bangkit dan melepaskan high heels yang terpasang cantik di kakinya.
Dia mendekatiku dan langsung meraba dada yang lumayan bidang milikku. Ooh, aku tidak boleh kalah oleh keagresifannya. Bagaimana pun pria lah yang akan memimpin permainan ini.
Aku pun mulai merangkul tubuhnya. Aku mulai menempelkan bibirku pada bibirnya yang bewarna merah menyala. Ooh, dia membalas ciumanku dengan menekan kepalaku.
Dia memainkan lidahnya dalam mulutku. Aku tak mau kalah, menyusupkan tangan ke balik pakaian. Di sela ci um an kami, terdengar de sa han nya yang merasakan liar nya tangan ku bermain pada benda yang berada di balik bra.
Ini sungguh berbeda dengan milik Nesya, dan Inke. Ini benar-benar memenuhi tanganku. Sungguh membuat ga i rahku semakin membara.
"Ternyata kamu jago menyenangkan perasaan wanita, Sayang." ucap Nita.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apa-apa aku tarik pakaian milik Nita satu per satu. Begitu juga wanita itu melakukan hal yang sama pada diriku dan aku angkat tubuhnya menuju kamar mandi. Di sana ada bath up dan kuturunkan Nita di dalam sana.
Aku mulai mengisikan air ke dalam bak mandi mewah milik para bangsawan ini. Ini adalah pengalaman pertama ber ci n ta di dalam bath up sambil mandi bareng. Hal yang tak pernah aku lakukan dengan Nesya.
Sementara Nita mengisikan sabun cair yang tersedia hingga busa memenuhi bath up tersebut. "Ayo, Sayang! Masuk sini!" Nita melambaikan tangannya mengajakku masuk.
Aku bergerak masuk dan kami duduk saling berhadapan. Mata ini tak henti memperhatikan setiap jengkal yang ada di tubuhnya. Nita bergerak membelai belalai gajah yang me ne gang di dalam air yang dipenuhi busa.
"Punyamu oke juga."
"Tunggu sebentar!" Aku keluar dan buru-buru mengambil benda yang selalu diingatkan oleh Zico tadi. Aku juga tidak mau mengambil risiko. Meskipun sepertinya dia begitu legit, aku harus bisa membatasi diri. Ini hanya lah pekerjaan, harus profesional.
"Aaah, cemen!" ucap Nita melihat benda yang ada di tanganku.
"Yang penting membuatmu puas kan? Ini adalah SOP bagi diriku sendiri."
Dia melirikku dan tersenyum jahil masih asik dengan aktifitasnya. Aku tidak boleh keok oleh wanita ini. Pengalamannya benar-benar melebihi aku yang masih bermain dengan normal dengan Nesya.
Beberapa waktu Nita heran melihatku yang masih kuat belum menyemburkan apa-apa. "Apa kamu yakin ini yang pertama?"
"Iya," jawabku singkat. Karena yang dilakukan ini memang pertama sekali untukku. Meski melihat semua benda di tubuh wanita bukan lah yang pertama bagiku.
Nah, sekarang adalah giliraku dan langsung mengambil posisi berada di atasnya. Aku mulai memainkan setiap jengkal yang ada di tubuhnya. Dia meng ge lin jang merasakan nik mat nya permainan li dahku. Beberapa waktu kulakukan hal yang sama sembari menyelipkan jemari pada pangkal pahanya.
Dia semakin bergetar menginginkan lebih. "Ayo ... masukan belalai itu!"
"Sekarang?"
"Iya ... aku ga sabar mencicipinya." Tangannya aktif membelai benda pusaka ini.
__ADS_1
"Kamu siap-siap ya ...." Ku kulum bibirnya beberapa waktu dan kami mulai permainan inti diawali di dalam bath up yang dipenuhi busa ini. Namun, tak lupa, aku pasang pengaman dulu, meski wajah Nita terlihat keberatan.
Aku mulai dengan ritual pemersatu bangsa. Dia berhasil mendapatkan kepuasan, tetapi aku masih bertahan. Tubuhnya terlihat terkulai lemas puas, aku bantu siram dengan air bersih agar tidak licin lagi karena sabun.
Setelah itu aku angkat tubuhnya, meski lebih berat dibanding Nesya, tetapi has rat ku yang belum selesai dengan mudah mengangkatnya menuju ke atas ranjang super empuk hotel ini.
Kali ini permainan gulang guling kami lanjutkan di atas ranjang. Entah berapa kali kubuat Nita or gas mee. Permainan kami sudah tidak terhitung berapa ronde. Seperti biasa, urusan ranjang tubuhku masih begitu prima. Hingga akhirnya dia menyerah menyuruhku menyelesaikan permainan.
"Gila kamu Lan? Gilaaa ...." Nita tersengal saat pada hentakan terakhirku pada miliknya. Akhirnya aku selesai dan tubuhku terasa lemas dan mendarat di atas dua melon yang manis itu.
Aku terbangung saat Nita bersiap untuk pulang. "Kamu sudah bangun?"
Aku lihat waktu masih menunjukan pukul tiga pagi. Kami baru menyelesaikan permainan satu jam yang lalu. Tubuhku masih merasa lelah. "Kenapa buru-buru?"
"Aku harus pulang sebelum anakku bangun." Dia mencari sesuatu dari dalam tas tangannya. Dia menarik dompet dan membuka benda tersebut.
"Aku rasa kamu berbohong bahwa ini adalah pengalaman pertamamu. Namun, karena kamu telah berhasil membuatku puas sampai gila, maka aku kasih kamu bonus." Lalu dia meletakan beberapa lembar uang bewarna merah di atas nakas di samping ranjang.
"Aku cabut ya! Bye ... See you!"
Dia pergi begitu saja. Ternyata malam panas kami berlalu bagai bukan sesuatu yang istimewa baginya. Baik lah, aku juga harus kembali. Aku segera mengenakan pakaian dan mengambil penghasilan pertamaku.
"Lumayan!" Aku masukan pada kantong celana dan segera kembali ke klub tadi menjemput satu-satunya kendaraan yang aku miliki.
Aku segera menuju ke rumah, di mana Nesya pasti kebingungan gara-gara aku tidak pulang semalaman. Saat aku ketuk pintu, dengan segera dia membuka pintu dan menangis memelukku.
Melihat dia begini membuat perasaanku terenyuh. Dia benar-benar mengkhawatirkanku, meskipun sebelumnya kami bertengkar dengan hebat.
Aku segera menuju kamar, mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Aku tidak tahu lagi apa yang dikatakannya. Tubuhku sungguh sangat lelah dan kurebahkan diri di samping Elena yang masih lelap.
__ADS_1