Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
68. Meningkatnya rasa percaya diri


__ADS_3

Aaah, aku coba dulu sama yang itu, yang tubuhnya paling kurus. Aku coba menguatkan kepalan membentuk tinju super. Aaah, sepertinya tidak akan sekuat itu.


Sepertinya, aku harus mencari sebuah batu yang seukuran kepalan. Ah, itu dia ... aku pungut dan benda ini akan meningkatkan kepercayaan diriku yang masih layu.


Aku juga telah mempelajari titik-titik vital jika ada kejadian penye rangan seperti ini. Titik vital yang membuat lawan langsung KO setelah mendapat serangan tipis-tipis.


Meski dengan langkah yang sedikit ragu aku harus yakin bisa melakukan ini karena selama beberapa waktu terakhir, aku begitu tekun mempelajari ilmu bela diti ini. Pria yang menjadi korban uji coba pertama mendapat dengkul tadi telah terlihat mereda.


Saat ini dia terlihat lebih tenang, tidak seperti tadi yang bergulang-guling karena mendapat ciuman bagian tulang kering yang ada di lutut.


Orang yang paling kurus itu kucolek dikit. Namun dia masih mencoba melayangkan tinjunya pada Pak Arendra. Aku colek lagi, tetapi tanganku ditepis olehnya. Aku colek lagi, akhirnya dia menoleh ke belakang.


"Apa?" tanyanya kesal.


"INI Om!"


dugh


"Aaagh ...." Satu pu ku lan keras perpaduan antara tinju dan batu kulayangkan pada dagunya.


Dia langsung oleng meringkuk dengan rasa sakit luar biasa yang aku beri. Meski bukan bagian kepala, tetapi ini bisa membuatnya pusing luar biasa.


dugh


Aku layangkan siku menukik tajam pada bawah tengkuknya. Dia tergeletak tak berdaya dengan seketika. Hal ini membuatku semakin percaya diri dan yakin bahwa aku juga bisa, meskipun hanya pemula.


Salah satu pria bertubuh sedang aku tarik dari aksi pe nye rangan bersama kelompoknya. Mereka tinggal tiga orang. Dia menyadari satu kawannya berhasil kubuat KO.


"Kau?" Dia pun langsung memyerangku dengan pu ku lannya.

__ADS_1


"Aaaampun, Ooom ...." Namun benda keras di tanganku turut meminta tumbal kembali.


"Aaagh ...." Batu itu aku layangkan pada ulu hatinya. Akan tetapi, sepertinya aku belum berhasil menjatuhkannya. Dia masih cukup kuat menerima se ra ngan yang aku beri.


Dia hendak menangkap dan mencoba melumpuhkanku. Akan tetapi, dengan sengaja menjepit satu kalinya lalu aku berguling, berputar bagai tornado.


dugh


Aku berhasil membuatnya terhempas mencium aspal. Kepalanya pun ikut mendarat dengan benturan hebat. Kutepuk tangan dan kakiku. Berasa tidak rugi ikut kelas muangthay yang mahal.


Pak Arendra dalam diam dan waspada, melirikku dengan heran. Dia pasti bingung, aku yang saat ini tak sama dengan aku yang ditemaninya ke pasar dulu.


Semenjak kejadian itu, aku memilih untuk melatih fisik yang terlalu lemah ini. Aku tak ingin cuma duduk di pojokan sekedar menangkap ular seperti dulu.


Jika memiliki andil seperti ini, aku bisa berbangga hati kepada diri sendiri. Aku bisa menjadi orang yang lebih berguna, dari pada sekedar menunggu semua selesai.


"AWAAAS!" Aku memperingati Pak Arendra.


Beruntung Pak Arendra berhasil menangkap kaki yang tiba-tiba muncul seperti pada serial laga Ksatria Baja Hitam RX zaman baheula.


"Aaagghh ...." Teriakan pilu memberi arti bahwa dia sungguh sangat kesakitan.


Pak Arendra menangkap kaki pria tadi laku memutarnya hingga lawan terhempas dengan keras di aspal panas. Hal ini tentu akan membuat pinggul dan tubuh bagian lain mengalani cidera bagian dalam.


Mereka semua telah berhasil dibereskan. Aku tendang seseorang yang meringkuk di dekat kaki. Pak Arendra mengacungkan jempol meskipun wajahnya masih memasang wajah heran.


"Sejak kapan kamu bisa bela diri?"


"Semenjak jambret itu, Pak. Semenjak itu lah saya memutuskan agar harus bisa bela diri. Tidak boleh sekedar menye-menye tak tahu diri."

__ADS_1


Aku lihat Pak Arendra menganguk dalam bahasa tubuh yang tak mampu aku pahami. Kenapa lagi dia?


Dari pada pusing sendiri, lebih baik aku kembali ke tempat di mana Elena tengah tertidur. Kurang ajar sekali mereka. Anakku sekecil itu tak sadarkan diri karena bius yang diberi.


"KURANG AJAR! RASAKAN INI!"


Sebuah teriakan dari belakang membuatku segera memutar tubuh.


"Aaaghhh!" Tangan Pak Arendra telah cabik oleh sebilah belati yang dihujamkan oleh pria pertama yang mencium dengkulku tadi. Benda tajam itu hendak ditujukan padaku, tetapi Pak Arendra yang menyambutnya dengan tangan kosong.


đź’–


đź’–


đź’–


Yuhuuu ... ayoo Kak ... jangan bosan ya, jika Author promo karya milik teman. Karena kami semua saling membantu. Siapa tahu bisa saling berbagi rezeki. Kakam readers menemukan bacaan baru, teman Author juga memiliki readers baru.


Napen: AdindaRa


Judul: Complicated Mission



Ada satu lagi ni, buat penyuka karya scie-fi ... yuk ... mampir juga di sini ya Kak.


Napen: PEROA


Judul: MARS Rise of Cydonia

__ADS_1



Yuk ... mari diramaikan.


__ADS_2