
"Karena saya tidak ingin membuatnya menjadi khawatir. Saya tidak berani beramsumsi, tetapi semoga ini tidak lama."
Aku merasakan sebuah jari menarik kelopak mata bagian bawah. Akan tetapi sama sekali tak ada yang terlihat.
"Lalu, bagaimana caranya kami menjelaskan kondisi Anda kepadanya? Sudah lebih seminggu ini dia menunggu, dan akhirnya Anda memaksa kami berbohong."
Pantas saja kulitnya terasa tidak sehat seperti biasa. Dia selalu menungguku hingga aku benar-benar terbangun seperti hari ini.
"Justru karena itu, Saya tidak bisa menambah berita buruk untuknya. Dia pasti akan sangat sedih jika mengetahui saya tidak bisa lagi melihatnya. Dia sudah terlalu gembira saat ini. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan itu."
Suasana pun terasa hening dengan seketika. Aku pun tak tahu harus bagaimana dengan ini semua. Yang jelas, aku harus berusaha untuk bisa melihat kembali, sebelum kedua anak yang ada di dalam kandungan istriku lahir.
"Apakah di rumah sakit ini selalu tersedia donor untuk mata saya? Berapa pun itu, akan saya bayar. Asalkan saya bisa melihat lagi dengan segera."
"Hemmm, maaf Pak. Masalahnya bukan di donor matanya. Kita harus mengecek penyebab kebutaan yang Anda alami. Setelah kondisi Anda cukup membaik, kita akan melakukan CT-scan dan pemeriksaan pada mata Anda."
"Secara umum saya periksa, keadaan retina dan kornea Anda baik-baik saja. Namun, karena saya bukan spesialis mata, saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Oleh sebab itu, untuk sementara Anda bersabar dulu."
Aku menyetujui apa yang dikatakan oleh sang dokter. Aku pun meminta semua pihak rumah sakit jangan terlalu banyak membicarakan kondisiku yang sebenarnya kepada Nesya. Aku takut, Nesya akan semakin sedih dan menjadi stress. Lebih baik dia tidak mengetahui ini.
Setelah dokter keluar, aku mendengar langkah kaki ringan yang masuk ke dalam ruangan ini. Untuk pertama kalinya aku baru menyadari bahwa suara langkah kaki istriku yang selama ini seperti itu.
Aku berusaha mengankat tubuh yang masih kaku, dan langkah kecil itu terdengar menjadi lebih cepat.
"Mas, istirahat saja."
Dia menahanku untuk tidak bergerak kembali. "Mau apa? Kamu itu belum sembuh. Istirahat saja!" ucapnya.
"Aku bosan, Yang. Maunya memeluk kamu sambil duduk seperti ini." Meski sedikit dipaksakan, aku pun melebarkan senyuman.
"Kamu lihat siapa, Mas?"
Ah, ternyata dia udah berada di sisi yang lain. Aku harus memasang pendengaranku dengan baik.
"Ah, enggak ... Hanya ada cicak aja di sana." ucapku asal tunjuk.
Suasana kembali hening. Sepertinya ia memperhatikan apa yang aku tunjuk. "Ah, ya ... biarkan saja mereka," ucapnya kembali.
Aku kembali menggerakkan tubuhku. Seluruhnya terasa kaku. Nesya sepertinya mendekat padaku dan ia pun memapah dan membantuku untuk bangkit, meninggikan posisi bantal yang ada di belakang.
__ADS_1
"Bagaimana, Mas? Udah nyaman?"
Aku menganggukkan kepala, tetapi aku tidak berani melirik dia berada di mana. Sepertinya menunduk menjadi pilihan terbaik.
"Kamu pasti capek banget ya? Menungguku di sini di saat kamu sendiri tidak bisa dikatakan baik-baik saja," ucapku.
Aku merasakan kehadirannya dan duduk di pinggir ranjang. Ia merebahkan diri bersandar di sampingku dan tangannya merangkul diriku.
"Tidak apa, Mas. Apa pun akan aku lakukan demi kamu, suamiku."
Meski tangan masih belum leluasa untuk kugerakkan, aku tetap mencoba menariknya masuk ke dalam pelukanku. "Meski aku belum mandi selama seminggu, aku akan tetap memelukmu."
Namun, aku tidak mendengar dia protes sama sekali. Dia pun memelukku dan membelai-belai pipiku. "Terima kasih, Tuhan. Engkau masih mendengar doa hamba-Mu yang hampir putus asa."
Aku tak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus senang, atau sedih. Yang penting aku harus bisa meneruskan drama ini. Ini tidak boleh terlalu lama. Aku harus bisa melihat kembali.
"Huuk ... Huk ..." Nesya mencoba melepaskan diri dari dekapanku. Ia pun seperti berlari menuju ke suatu tempat.
"Huweek! Huweeek! Huweeek!"
Suara muntah terdengar jelas dari arah yang tidak aku ketahui. Aku mencoba mengendus tubuh yang telah lama tidak dibersihkan ini. Sepertinya aroma obat-obatan mendominasi keluar dari setiap pori-pori tubuhku.
Aku mendengar suara gemuruh dan istriku keluar. "Sepertinya anak-anakmu mengetahui kapan sang ayah telah bangung. Padahal, saat kemarin kamu belum bangun, mereka terlihat sangat anteng."
"Sepertinya tubuhku mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Kemarin-kemarin kita kan gak bisa pelukan," ucapku. Namun, aku tidak tahu dia berada di mana.
"Mas, kamu melihat apa?" tiba-tiba dia sudah berada di sampingku.
"Aah, enggak ... Aku hanya membayangkan betapa beratnya kamu menungguku di sini."
Dari sisi yang berbeda lagi, Nesya kembali menggenggam tanganku. "Tidak apa, Mas. Kamu adalah suamiku. Siapa lagi yang mesti aku tunggu jika bukan kamu. Aku janji, Mas. Aku akan selalu mendengarkan apa pun kata-katamu. Aku tidak akan ngeyel lagi. Apa pun yang kamu mau akan aku turuti."
Ah, kok ... Malah manis begini? "Ayo sini!" Aku buka kembali tanganku, tiba-tiba aku teringat aroma tubuhku tak ada beda dengan bau obat-obatan.
Sebelum aku membatalkan memeluk dirinya, dia kembali masuk dalam pelukanku.
"Nanti kamu muntah lagi."
Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. "Aku rindu padamu. Kami semua rindu padamu."
__ADS_1
Lalu rambutnya kusugar dan keningnya kukecup. "Aku juga."
Keesokan hari, seperti yang dikatakan dokter semalam, pagi ini aku akan menjalani pemeriksaan secara menyeluruh. Sepertinya pihak rumah sakit benar-benar menuruti permintaanku menutup rapat mulut mereka seolah aku tidak apa-apa.
Pemeriksaan pertama yakni pemeriksaan secara menyeluruh. Aku hanya bisa membayangkan apa yang dilakukan alat itu pada tubuhku. Karena, aku sama sekali tidak bisa melihat apa pun.
Selanjutnya aku melakukan pemeriksaan X-Ray ... Setelah itu pemeriksaan pada mata.
Semua hasil pemeriksaan aku pesankan kepada mereka untuk mengatakan bahwa hasilnya baik-baik saja. Ketika istriku masih berada di sisiku, aku memilih untuk menahan diri bertanya secara langsung hasil yang sebenarnya.
Namun, karena Nesya tak kunjung beranjak barang sedetik pun dari sisiku, akhirnya aku mencari akal agar dia pergi agak sejenak.
"Sayang, aku kangen banget makan masakan buatanmu. Aku kangen sama nasi goreng buatanmu. Apa kamu mau membuatkanku saat ini juga?"
Sejenak ia hening, sepertinya ia sedang berpikir. "Sekarang juga? Kenapa tidak menunggu saat pulang aja?"
"Aku maunya saat ini juga. Sepertinya aku lagi ngidam."
"Yang hamil kan aku, kenapa kamu yang ngidam?"
"Ayoo laaah, toloong buatkan. Please ... Aku pengen bangeeet."
"Aku numpang masak di dapur rumah sakit aja ya?" Akhirnya dia luluh juga.
"Aku maunya dimasak di rumah kita, pakai kompor kita, pakai wajan kita, peralatan masak kita."
Aku mendengar helaan napas yang panjang darinya. "Kok ngidam kamu aneh banget? Perasaan selama aku hamil Elena, nggak gitu-gitu amat?"
"Ayo laah, please."
"Lalu, kamu sendirian dong, Mas? Apa Bapakku yang menemanimu?" tawarnya.
"Nggak usah, nanti jika ada apa-apa aku tinggal mencet ini memanggil perawat. Apa kamu lupa? Aku ini pria mandiri selama 32 tahun? Aku ini baru dua bulan menjadi pria tidak mandirinya."
Tiba-tiba ada tangan yangmenarik pipiku. "Aaah, kok aku gemes ya pada pria yang hampir jadi bujang lapuk ini?"
Lalu ia bangkit. "Baik lah, aku akan berangkat untuk membuatkan nasi goreng untukmu. Paling lama satu jam, nanti aku kembali lagi. Cup ..." Dia pergi setelah mengecup pipiku.
Setelah memastika suara pintu kamar ditutup kembali, aku langsung memencet tombol yang disediakan untuk memanggil perawat. Aku sudah menyiapkan mental mendengar apa yang akan disampaikan.
__ADS_1