Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
63. (PoV Alven)


__ADS_3

[ Kirim pertolongan ke lokasi sekarang juga. Darurat 🙏🙏🙏 ]


Sebuah balasan yang tidak terduga aku dapatkan dari seseorang yang aku kirimi pesan chat tadi. Ditambah lagi dia mengirim lokasi keberadaannya saat ini.


Aku balas pesannya.


[Apa yang terjadi?]


Sekian waktu aku tunggu, tetapi belum ada tanda pesanku dibaca oleh seseorang yang ada di seberang sana. Dia pasti dalam bahaya, aku harus segera melakukan apa yang dimintanya.


Aku pun mengecek lokasi yang dikirimkan. Dia berada di sebuah lokasi yang tak jauh dari daerah pasar minggu. Apakah saat dia berbelanja, terjadi sesuatu padanya?


Aku segera memberi laporan pada pihak kepolisian. Namun, aku tak menyangka membuat laporan seperti ini harus melewati banyak prosedur dan ujung-ujungnya membuang-buang waktu.


Setelah melaksanakan semua prosedur yang ada, baru lah mereka mau bergerak. Semoga kamu baik-baik saja. Aku menutup kaca helm fullface dan menyalakan mesin kendaraan.


Aku memilih untuk mendahului iringan kendaraan polisi, melaju dengan kecepatan penuh menuju titik lokasi yang diberikan oleh Nesya tadi.


Saat aku sampai, suasana hanya terasa hening dan sepi. Aku merasa takut, membayangkan bahwa aku telah terlambat memberikan bantuan kepada Nesya.


Ada ketakutan yang tak terungkap bergelayut di dalam hati. Aku terus mengikuti titik dan terdengar suara Mas Aren tengah berbicara dengan Nesya.


Langkah kakiku mendekati arah suara yang terlihat meski suasana cukup gelap. "Kalian tidak apa-apa?"


"Teeelaaat!" ucap Mas Arendra.


"Lalu bagaimana dengan keadaan kalian? Ada yang terluka?" Aku edarkan pandangan dengan memfokuskan pupil agar melihat lebih jelas lagi meski dalam kegelapan.


"Sepertinya Pak Aren terluka, Bang. Tadi dia dipukul oleh banyak orang."


Suara Nesya terdengar penuh dengan nada khawatir. "Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?"


"Tidak usah. Aku baik-baik saja." ucap kakakku.


Netra milikku menangkap sesuatu yang ada di tangan Mas Aren. Dia tengah menggenggam keranjang belanjaan yang mungkin milik Nesya. Jadi, setelah berpisah di kampus tadi, dia langsung ke tempat Nesya?


"Kalian sudah terlihat bagai keluarga utuh."


Nesya terlihat gelagapan. Dari wajahnya, terlihat jelas dia tidak setuju dengan apa yang aku utarakan. Sementara, aku tidak bisa melihat apa yang ada di dalam pikiran Mas Aren. Dia masih seperti yang aku lihat.


Tak lama, beberapa gerombolan polisi datang mendekat kepada kami. "Selamat malam, kami mendapat laporan bahwa ada yang meminta pertolongan di wilayah ini."


Aku pun segera mendekat kepada pasukan polisi tersebut. "Semuanya sudah aman terkendali, Pak."


Mendengar pernyataanku, raut wajah sang polisi sedikit berkerut. Barang kali mereka kesal karena seolah membuat mereka repot, tanpa ada yang harus dilakukan. Mas Aren pun berjalan mendekat.

__ADS_1


"Tadi kami dikepung kawanan perampok, Pak. Hanya saja, semua sudah aman terkendali karena bantuan seekor ular."


Ular? Tanpa sengaja aku tertawa, tetapi aku mencoba menahannya. Aku takut, Mas Aren tersinggung seolah tidak memercayai apa yang diucapkannya.


"Hmmm, sepertinya lokasi ini harus disisir dengan segera. Ular itu harus segera ditangkap. Jika tidak, masyarakat yang berada di lokasi ini bisa merasa resah."


Aku dan Mas Aren mengangguk. Di dalam benak masih bergelut memikirkan cara ular bisa membantu mengusir para perampok tersebut.


Setelah mencatat beberapa keterangan yang diberikan Mas Aren, akhirnya pasukan polisi-polisi tersebut pergi meninggalkan kami. Kami semua juga bergerak meninggalkan lokasi ini.


"Mas, mau pulang ke rumah?"


Mas Aren terlihat berpikir sejenak. "Sepertinya aku harus pulang."


"Iya, Mama sudah menanyaimu semenjak tadi. Kenapa sudah larut belum kembali juga?"


Tanpa jawaban, dia bergerak masuk ke dalam mobil. Sementara Nesya sudah masuk ke dalam, karena khawatir Elena masuk angin.


*


*


*


Setelah mendapat ceramah semalam suntuk dari kedua orang tua kami, Mas Aren belum keluar kamar juga semenjak subuh. Dia seharusnya berangkat kerja, atau dia sudah melompat jendela karena karena kesal diceramahi oleh mereka?


Aku ketuk pintu kamar, tetapi tak ada sahutan. "Sepertinya Mas Aren kabur dari rumah, Ma?"


"Aaah, kamu ini ada-ada saja. Coba buka dulu pintunya, baru bicara!"


Sesuai perintah, knop pintu aku tarik ke bawah. Akan tetapi, pintu kamar ini dikunci oleh sang pemilik kamar.


tok


tok


tok


"Udah bangun, Mas?"


Namun, hanya hening tanpa jawaban. Aku semakin yakin orang di dalam telah kabur, seperti drama ikan terbang yang sering ditonton Mama.


tok


tok

__ADS_1


tok


Aku ketuk kembali pintu itu. Namun masih hening, membuat Mama berjalan mendekat dan menempelkan telinga di pintu.


"Sepertinya masih ada pergerakan di dalam. Mungkin tadi orangnya lagi mandi." ucap Mama berlalu.


Baik lah, sepertinya orang di dalam kamar ini sedang tak ada niat untuk berbicara denganku. Lebih baik aku berangkat saja menjemput Nesya.


Aku sampai di lokasi di waktu yang sangat tepat. Nesya telah memasang helm dan dia sudah menyalakan motor.


"Haai!"


Dia menganggukan kepala menurunkan kaca penutup helm bersiap naik ke atas motornya. Aku bergerak cepat dan mematikan mesin motor yang tadinya menyala. Hal ini membuat Nesya menaikan kembali kaca helm dengan muka kesal.


"Sini kuncinya!"


Dia menjangkau kunci tersebut. Akan tetapi kunci itu berada erat dalam genggamamku.


"Ayo balikin!"


"Kamu tak usah naik motor ke kampus." ucapku.


Mata dan bibirnya membulat terlihat heran. "Kenapa begitu?"


"Biar aku yang mengantarmu ke kampus."


"Jangan!" ucapnya cepat.


"Kenapa? Apa ada yang marah?"


"Bukan! Hanya saja nanti aku susah kalau tidak ada motor. Barang lima meter ke toko di depan kampus aja aku naik motor. Jadi, aku tidak bisa meninggalkan motor ini."


Benar juga apa yang diucapkannya. Aku tidak bisa menjemput dan mengtarkannya pulang seperti pasangan kekasih yang lain. Kekasih? Aaah ... sepertinya aku sudah gila.


Kunci motor miliknya aku serahkan, dan aku menyilakan dia berangkat dulua. Ada Vina yang terlihat senyum-senyum penuh arti sambil menggandeng Elena. Gadis kecil itu melambaikan tangan, aku berusaha melebarkan senyuman agar dia tidak kecewa seperti waktu itu.


Sepertinya aku sudah kehilangan jejak Nesya. Dia sama sekali tak ada niat untuk menungguku? Tak apa ... kali ini masih di awal. Tak boleh menyerah meskipun kakak kandungku sendiri yang harus aku hadapi.


Aku berhasil menyusulnya, di saat dia sudah memasuki gerbang kampus. Dia membawa motor bagai pembalap yang tidak takut kena tilang polisi.


Aku menyejajarkan motor beriring dengannya. Dia membuka kaca helm, dengan senyuman jahil.


"Satu lagi alasan aku tidak mau diantar, karena aku tak nyaman jadi penumpang di belakang. Mending aku jalan kali dari pada gregetan." ucapnya sedikit tinggi.


"Kenapa kamu tidak mendaftar jadi pembalap saja?"

__ADS_1


tiiiinnn


Klakson kendaraan roda empat hampir membuat kami berdua oleng karena kaget.


__ADS_2