
Nulisnya di antara lelah dan capek ya kak 🙏🙏🙏 banyak typo dan pendek.
*Ayo kakak semua ... komen dan hadiahnya dong? Hihi ... Biar Halu author yang mangkrak gara-gara sibuk, jadi lancar seperti berada di jalan tool ... 🤣🤣🤣*
"Maaf ... permisi ... calon istriku mau lewat." Pak Arendra mendorong wanita tadi dengan dingin.
"Eh, jangan gitu, Pak. Kasihan!" ucapku memegangi wanita itu agar tidak terjatuh.
Namun, tanganku kembali ditarik kasar dan dia terus berjalan tak memedulikanku yang tengah terseret mengikuti langkahnya.
"Pak? Sakit!" Aku tarik tanganku yang tengah digenggamnya dengan sangat erat.
Aku lihat ke arah belakang, wanita tadi menatap kepergian kami dengan wajah sendunya. Apakah dia adalah kekasih Pak Arendra yang dulu? Dia terus menarikku hingga wanita yang tadi tidak terlihat lagi.
"Pak!" Aku yang sedari tadi memberontak pun tidak dianggap sama sekali.
Dia menghentikan langkah tanpa menoleh padaku sedikit pun. Lalu melepaskan pergelangan tanganku yang ditarik paksa tadi. "Pergi lah!"
Lalu dia berbelok menuju ke bagian lain. Aku mengelus tanganku yang kesakitan karena ulah pria tadi. Enak sekali dia ... setelah membuatku merasa sangat kesakita, dia pergi seenaknya.
"Hah! Aneeeh!"
__ADS_1
"Dasar bocah! Ga ada bedanya sama Elena." Aku terus merutuki sikapnya yang kembali berubah nomaden tak jelas dengan tiba-tiba seperti itu.
Aku segera menuju kampus dan mendalami kesendirian yang telah terbiasa kurasakan. Aku sudah tak menghiraukan saat diri ini tak memiliki teman dekat lagi.
Biar lah ...
Aku ke kampus buat mencari ilmu ...
Meraih mimpi yang jarang dimiliki oleh anak-anak dusun seperti kami.
Ya, biar lah ...
Dunia tidak akan terhenti meski tak satu pun yang mendekat padaku.
Hmmm ... barusan aku ngapain ya? Nyanyi-nyanyi yang tak dikenal oleh masyarakat yang keluar dengan asal bersenandung dalam jiwa..
Perkuliahan pun usai. Aku bergegas mengendarai motor menuju rumah. Ada Elena yang tengah menunggu di sana.
Karena masih dalam area kampus, motor kukendarai dengan sangat pelan. Aku masih bisa melihat suasana kampus yang hiruk pikuk menjadi tontonan oleh para mahasiswa.
Semakin dekat, semakin jelas terdengar sebuah pertengkaran antara dua wanita. Hmmm ... aku jadi tertarik ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Helm pun aku buka.
__ADS_1
"Dasar ganjen kamu, ya? Siapa nama kamu!? Biar saya ajukan untuk mengeluarkan pelakor gatal kayak kamu. Belum jadi apa-apa kamu sudah bikin orang tuamu malu. Percuma saja kau sekolah tinggi-tinggi jika hanya sebagai wanita ranjang suami saya!"
"Suami kamu yang kegatelan. Atau kamunya yang tidak menberikan servis yang memuaskan."
Di balik kerumunan itu, aku merasa sangat mengenal suara itu. Itu adalah suara teman yang dulunya cukup dekat denganku.
"Apa kau bilang wanita gatal?"
Aku mendengar teriakan-teriakan saling se rang antara kedua orang itu. Sementara beberapa orang yang menonton berusaha untuk melerai, tetapi tak ada tanda-tanda pertengkaran itu akan berhenti.
"Rasakan ini! Dasar wanita tu!"
"Dasar ja l*ng tak tahu diri! Sini kau! Kau akan mam pus hari ini juga!"
Akhirnya aku memutuskan untuk turun dan ingin mencoba menerobos melihat secara langsung siapa orang yang berada di tengahnya. Pertengkaran tersebut terdengar terhenti. Ada dua pria yang sama-sama menahan dua wanita tersebut.
Dengan susah payah aku coba untu terus menerobos dan masuk pada celah-celah kerumunan mereka.
"Hah ... akhirnya sukses juga!"
Lalu mataku terbelalak melihat siapa yang sedang jambak-jambakan itu. Salah satunya adalah gadis yang pernah menjadi teman dekatku.
__ADS_1
"Lingga?" Dia tercenung melihatku sejenak, lalu membuang muka.