Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
85. Ikrar cinta


__ADS_3

*Author belum sempat edit-edit. Jadi kalau ada typo,.maklum aja ya Kak. Tadi baru sampai rumah dari perjalanan luar kota, langsung nulis, jadi belum sempat ceki-ceki lagi karena ngantuk*


"Boleh ... asal dibeli dengan harga tinggi!"


"Pak Juned! Kamu ini? Sudah dibangunkan sekolah untuk dusun kita saja seharusnya kamu berterima kasih."


Pria bernama Juned ini melengos. "Kalau tidak bisa bayar, maka tak usah ada pembangunan di sana!" Lalu dia masuk begitu saja ke dalam rumahnya yang besar itu.


Pak Kades terlihat menghela nafas. "Ayo kita cari ke tempat lain."


"Biar aku yang bayar. Aku sudah menyiapkan uang untuk ini."


Pak Arendra membelalakan mata dan menggelengkan kepala. "Sekolah itu, bukan dari biaya pribadi. Kecuali kamu memang berencana membangun sekolah swasta dan kamu memiliki yayasan untuk kepengurusannya. Apa kamu punya?"


Aku menggelengkan kepala tak memahami apa yang dikatakannya. "Tidak apa, beli ukuran satu kelas dulu."


"Kalau belum turun dana, biar aku buat pakai dana yang sudah aku siapkan."


Pak Arendra menggenggam kedua pundakku. Pak Kades ikut menyaksikan aksi Pak Arendra ini.


"Kamu yakin?" Kepala kuanggukan dengan mantap.


"Baik lah, kalau begitu yang kamu mau, aku akan mendukungmu dan ikut patungan denganmu."


"Jangan! Aku ingin memajukan tanah kelahiranku, sementara Bapak menemaniku seperti ini saja sudah cukup."


"Tentu, ini adalah kampung halaman kamu, tentu saja aku dukung. Kamu kan calon istriku."


Aku lirik ke arah Pak Kades, beliau terlihat tersenyum dan menganggukan kepala. "Ternyata begitu, setelah cerai dari Alan, kamu jadi orang hebat begini karena mengenal orang hebat juga ternyata."


"Bukan, Pak. Dia hebat karena dia memang sangat luar biasa. Jangan jadikan potensi yang dimilikinya, dianggap karena ada orang lain di sisinya."


Tangan Pak Arendra beralih menautkan jemarinya pada jemariku. "Pak, kenapa?"


__ADS_1


"Ayuk, sekalian mencari orangtuamu. Sebenarnya tujuan utamaku untuk ke sini adalah ingin bertemu pada orang tuamu."


Aku merasa sangat canggung. Kami belum memiliki status hubungan yang jelas, tetapi dia sudah sangat ... sangat membuat pikiranku kacau.


"Pak, malu ...." Aku mencoba melepas genggaman itu.


"Mau tak mau atau malu tak malu, aku ikrarkan kamu adalah calon istriku."


Pak Kades memberikan tepukan tangan dengan anggukan. "Sepertinya, cara pemaksaan memang cocok bagi Nesya."


Aku terus mencoba melepaskan genggaman erat yang membuat jantung terasa mau keluar dari tempatnya.


"Aku tak memerlukan jawabanmu. Aku akan berusaha membuat mulutmu mengatakan kamu mencintaiku. Karena aku sudah mengatakan bahwa Aku Mencintaimu."


"Kenapa bisa begitu? A-aku--"


Pak Arendra menarikku kembali naik ke motor. "Kami ke rumah Nesya dulu sebentar ya, Pak. Setelah dapat restu, kami akan kembali mencari Bapak."


"Hahaha ... baik lah. Saya ada di balai desa. Nanti, akan saya usahakan mencari lokasi lain milik warga yang mau menghibahkan tanahnya. Nanti akan saya iming-imingkan dengan hal yang menarik. Semoga ada yang ikhlas menyerahkan lahan miliknya."


Lalu kami pamit dan Pak Arendra menarik tanganku untuk memeluk pinggangnya. "Pegangan yang erat!"


*


*


*


"Apa kamu yakin meminang putri kami? Kamu tahu sendiri, bagaimana dengan statusnya saat ini. Usianya memang masih muda, tetapi Nesya itu pernah menikah dan sudah memiliki anak."


Aku menaruh kopi dengan asap yang masih mengepul di meja untuk kedua pria dewasa ini. Pak Arendra saat ini dibanjiri keringat di suhu udara yang sangat sejuk lembah perbukitan yang mengelilingi dusunku ini.


"Iya, Pak. Saya sangat yakin."


Lalu Pak Arendra melirik Mak dan Bapakku secara bergantian. Usia mereka bertiga dalam rentang tak terlalu jauh. Pak Arendra pasti bingung harus memanggil kedua orang tuaku bagaimana.

__ADS_1


Bapak menyerahkan gelas kopi tanpa tadah kepada Pak Arendra. Dia terlihat bingung bagaimana cara memegang kopi seperti ini. Ini pasti karena biasa minum kopi dengan cangkir yang memiliki cawan.


"Ayo ambil, Pak." ucapku yang melihat dia kebingungan.


"Begini caranya!" Bapak mempraktikan memegang ujung gelas dan menyeruputnya sedikit. Lalu ditiru oleh Pak Arendra dan menyeruputnya di ujung bibir.


"Jika kamu merasa yakin, kita tunggu jawaban dari orang yang kamu lamar. Apa dia bersedia untuk menikah denganmu?"


Aah ... aku bingung. Ini benar-benar di luar rencana, karena aku tak tahu dia akan seberani ini menemui orang tuaku.


"Bagaimana Nesya? Apa kamu mau menerima dia?"


"A-aku--"


"Kebetulan sekali kalian ada di sini. Sini kau, adik kurang ajar!" Itu Bang Jojo. Aaah, aku melupakan dia. Kenapa dia datang ke sini?


"Jojo, bagaimana keadaanmu? Ayah kamu gimana kabarnya?" Bapak berusaha menenangkan Bang Jojo.


"Alaaah! Pak Cik, gara-gara anak Pak Cik ini, aku masuk ke dalam penjara. Setelah itu, tak ada lagi yang mau menerimaku bekerja karena aku memiliki catatan kriminal."


Bang Jojo berkacak pinggang persis preman. Dia melirik Pak Arendra yang masih kaku mati kutu di rumah keluargaku.


"Jadi, kau di sini juga?"


Bang Jojo mengambil gelas kopi tadi dan menyiramkannya pada Pak Arendra.


*


*


*


Mampir lagi yuk Kakak semua di karya sahabat-sahabat Author yang lain.


Napen: Lady Mermad

__ADS_1


Judul: Jerat Hasrat Kakak Ipar



__ADS_2