
Setelah sampai di rumah, Elena menangis dengan suara yang cukup kencang.
"Elena tidak mau punya adik. Elena maunya punya kakak," tangisnya.
Entah apa yang membuat Elena berpikir seperti itu. Bagaimana pun, tentu saja aku ingin memiliki keturunan juga. Meskipun bukan sekarang, aku yakin setelah waktunya, Nesya akan memintaku untuk menghamilinya.
Aku berjongkok di hadapan putri kecil yang semakin besar tampak semakin cantik. Aku usap air mata dan kepalanya, membuat dia terlihat sedikit tenang.
"Ayo katakan kepada Papa. Kenapa Elena tidak mau memiliki adik? Adik itu akan menemani Elena nantinya. Apa Elena tidak mau mencoba menyuapi adik makan nantinya?"
Elena masih kukuh menggelengkan kepalanya, meski kali ini terlihat tidak sekeras tadi. Aku buka kedua tangan, memintanya mendekat masuk ke dalam pelukan.
"Adik itu jahat, adik itu nakal. Elena pernah digigit sama adik Cila di belakang. Elena gak mau punya adik. Mau nya punya kakak aja ya, Pa?"
Jujur, ucapan polosnya ini dengan mudahnya membuatku tertawa dengan terbahak. Elena menghentikan tangisnya melirik sang ibu yang sedang ribet melepaskan kebayanya.
"Kok Papa ketawa?"
"Coba ceritakan kepada Papa! Apa alasan Elena lebih suka sama Kakak dibanding sama adik?" Aku tarik gadis kecil itu lalu mengangkatnya naik ke atas tempat tidur.
"Kakak itu suka sayang-sayang Elena. Kakak juga suka cium dan peluk Elena."
"Kakak? Siapa kakak yang kamu maksud?"
"Itu Kak Syauqi, Pa. Udah sekolah dan suka mengajak Elena main."
Hah? Siapa yang berani memeluk dan mencium anakku tanpa seizinku? Rasanya, aku ingin menyentil ginjalnya.
Namun, sentuhan di pundakku membuat teralih dari amarah yang tadinya ingin kuluapkan kepada anak yang bernama Syauqi itu. Aku lirik wanita yang ada di belakangku, dia terlihat menyunggingkam senyuman jahil.
"Cuma anak-anak kok. Jangan dibawa sampai ke hati begitu." ucapnya santai.
"Tidak boleh! Meskipun mereka sama-sama masih kecil, tidak boleh ada yang namanya main peluk-peluk dan cium-ciuman. Nanti kalau kebiasaan sampai besar dan kebablasan bagaimana?"
__ADS_1
Nesya mengerutkan dahi sebagai balasan dari penjelasan yang aku berikan. Tiba-tiba, dia mengecup bibirku.
"Sepertinya kamu terlalu berlebihan, tetapi kamu seksi banget jika marah begini." bisiknya. "Apa kita kasih adik buat Elena malam ini saja?" tambahnya, dan jujur hal itu membuatku jadi lebih bersemangat.
"Yaa, aku was-was. Sekarang ini, aku adalah orang tua Elena. Aku belum siap anakku dewasa terlalu cepat. Selagi bisa kita jaga, ya harus beri perhatian lebih."
Nesya tersenyum mendorong bahunya padaku. "Aah, kamu. Lebih keren dibanding aku sebagai orang tua."
Setelah itu, aku kembali menatap lurus kepada Elena. "Elena mau tau rasanya punya adik?" tanyaku kembali, tetapi dia masih menggelengkan kepala.
Elena beringsut menuju keluar kamar. "Elena tidak maaauuu!" ucapnya menutup pintu kamar kami.
"Dia ngambek kan? Kamu siiih, pakai mancing-mancing." Aku tarik Nesya naik ke atas pangkuanku.
"Beneran mau berikan adik untuk Elena malam ini juga?"
"Hmm, bukan mancing siiih, hanya saja aku ingin memberikan hadiah untukmu yang telah mengangkatku menjadi istri seorang pejabat di kampus."
Lalu, kecupan demi kecupan pada bibir kami saling berbalasan. Aku angkat Nesya, menuju pintu kamar dan menguncinya. Setelah itu pakaian yang masih terpasang itu, kulucuti satu per satu. Dia pun begitu, melepaskan dasi dan kemeja yang masih rapi melekat. Namun, malam ini kami kembali hanyut, bagai malam pengantin yang panas bergelora.
Setelah itu kami berdua mandi menikmati kecupan di bawah shower saling belai menggunakan lembutnya sabun membuat semua semakin bergelora.
*
*
*
tok
tok
tok
__ADS_1
Terdengar ketukan kecil dari balik pintu. Sepertinya aku sudah mengenal itu adalah ketukan milik Elena yang membangunkan kami yang terkulai lemas di bawah selimut menyatu tanpa sehelai benang pun.
tok
tok
tok
"Ibuk ...." Kali ini suara kecil itu telah terdengar membuat kami berdua segera membuka mata.
Saat mataku terbuka, aku pandangi seseorang yang melekat erat di tubuhku tanpa jeda sedikitpun. Bibirnya mengulas senyuman, membuatnya terlihat cantik meski belum mencuci muka.
"Bangun ...." bisiknya membelai dadaku.
"Jika kamu belai begitu, akan ada yang lain terbangun karenamu."
Dia menggelengkan kepala. "Mandi dulu, kita belum solat subuh."
Seketika aku baru menyadari, hari ini harus segera bangun dan mandi. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai ketua jurusan. Aku kecup bibirnya dan ku belai dua benda yang membuatku gemas itu.
"Terima kasih untuk hadiahnya malam ini. Semoga, hadiahnya bener-bener menjadi adik Elena yang muncul sembulan kemudian ya?" kali ini ku masuk ke dalam selimut, dan mencium perutnya.
Setelah itu, kami sama-sama membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. Setelah itu, Nesya segera membuka pintu mencari Elena yang tadinya menjadi alarm setiap pagi kami. Matanya sayu seperti biasa, karena terlambat membukakan pintu untuknya.
"Ayooo, temanin Ibuk masak," bujuk Nesya yang terdengar olehku yang masih berada di dalam kamar.
Aku tengah disibukkan berpikir tentang pakaian yang akan kugunakan sebagai Ketua Prodi nanti.
Setengah jam kemudian, istriku dan Elena masuk ke dalam kamar. Sepertinya dia telah menyudahi proses pembuatan sarapan untuk semua yang ada di rumah.
"Ya aaampuuun, masih belum memakai baju kerja?" ucapnya sedikit kaget.
"Iya nih, tolongin milih baju kerja dong?"
__ADS_1