Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-31


__ADS_3

*Halo kakak readera tersayang, maaf ya aku lama up nya, karena aku dipusingkan kejar dateline buat karya Gadis Penari & Tuan Amnesia. Kemarin sudah ada di sini, judulnya Terpaksa Menikahi Tuan Amnesia, tapi sepi bener ... 😂😂😂 jadinya aku pindahkan aja. Sekarang udah beres, mau beresin Nesya dan Mamas.*


"Lhoh? Datang lagi? Bukannya baru kemarin ini? Aku puasa lagi dong?" Mas Arena protes.


Aku sendiri juga merasa heran, karena ini tidak biasa. Aku buka ponsel yang tadinya tergeletak di atas meja. Aku mulai menghitung siklus yang sedikit terbaikan karena kesibukan yang tidak menentu.


"Perasaan, bulan kemarin datangnya tanggal lima belas, si. Aku juga bingung tak tau kenapa," ucapku.


"Ooh, syukur lah bukan seperti yang aku duga."


Suamiku berjalan mendekat dan memegang perutku yang masih terasa sedikit panas. "Duuuh, padahal aku ngarep ada baby di sini. Tapi, kalau belum juga nggak apa. Setelah ini kita harus berusaha lebih giat lagi."


"Berusaha lagi? Maksudnya?"


Dia tersenyum tipis terhadapku. "Nanti semalaman akan kita kejar sampai berkali-kali, biar dia jadi," bisiknya tepat di telingaku.


"Huuu, kayak yang kuat aja," ucapku meragukan dirinya.


"Aku bersih-bersih dulu yah." Dia berlalu masuk ke dalam kamar dan tak beberapa lama, terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Perutku masih merasakan hal yang sama, yakni nyeri ketika PMS. Namun, anehnya kenapa hanya sedikit? Apakah karena tidak lancar?


*


*


*


Keesokan pagi, aku kembali dibuat heran. Pembalut yang aku gunakan tidak banjir seperti hari-hari biasa saat awal kehadiran bulan. Perutku masih merasakan mules dan nyeri yang sama.


"Aaah, apa yang terjadi?"


Aku pun menceritakan apa yang menjadi beban di dalam pikiranku kepada Mak. Mak tersenyum melirik heran padaku.


"Masa kamu tidak tahu? Bagaimana cara kamu mengetahui kehadiran Elena?"

__ADS_1


Aku mencoba mengingat kejadia lima lima tahun yang lalu. Dalam pernikahanku dengan Bang Alan, aku tidak langsug dikaruniakan seorang anak hingga kala itu, Mak Bang Alan menganggapku sebagai wanita mandul.


Namun, setelah delapan bulan pernikahan, aku baru menyadari bahwa bulananku tidak pernah mampir lagi, karena sibuk siang malam bekerja menyiangi sawah dan mengurus suami. Saat itu lah aku baru tahu, ada seorang anak di dalam rahim setelah memeriksanya secara langsung dengan Bidan Sri.


"Ini memang terlalu cepat untuk menyimpulkan, tetapi kita tunggu saja pada siklus normalmu yang sebenarnya. Jika dugaan Mak memang benar, mungkin kamu tidak akan datang bulan lagi."


Aku segera menebak apa yang ada di dalam pikiran Mak. Secara tidak sadar, aku memegangi perut yang berisi benih yang sedang menyatu. Rasa haru yang besar tiba-tiba hinggap dalam hati.


Suamiku telah rapi keluar dari dalam kamar. Wajahnya terlihat heran menatapku dan mendekat. "Kamu kenapa? Kok terlihat sedih?"


Aku belum bisa mengatakan apa pun kepada Mas Aren, kali ini mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan segalanya. Aku hanya bisa refleks memeluknya membuat dia menjadi heran.


"Apa kamu sedang sakit, Sayang?"


Aku menggelengkan kepala, ini hanya sakit sesaat menjelang kebahagiaan yang kamu inginkan, Mas. Semoga.


Pagi hari, aku berangkat bersama Mas Aren, dan pulang naik ojek online karena aku pulang siang. Hari ini aku bisa mengasuh sendiri Elena sembari duduk di meja kasir menggantikan Kak Vina.


Namun, seseorang yang terlalu mudah diduga mengagetkanku yang sedang menghitung jumlah customer selama satu minggu terakhir.


Aku segera bangkit tanpa suara bergerak mencari laundry-an milik dia. Setelah itu, aku segera masukkan ke dalam kantong besar mengcek resi tanda lunas yang ia sodorkan.


Masih tanpa suara, aku menyerahkan pakaian bersih miliknya dan beranjak ke belakang ingin menghilang darinya.


"Kamu mau ke mana? Apakah semenjijikkan itu kah diriku hingga kamu sama sekali tidak mau bersuara terhadapku?"


"Aku ada kerjaan di belakang," ucapku berbohong.


"Oh, baik lah. Sembari aku menunggu kesibukanmu, mungkin aku akan bermain dulu dengan Elena, aku sangat merindukannya."


Ah, kenapa aku tidak mengusirnya aja sekalian? Namun, dia adalah ayah kandung dari putriku. Aku tidak bisa berlaku jahat kepada anakku. Dia juga harus dekat dengan ayahnya. Karena ikatan mereka, tidak akan pernah putus hingga terpisah oleh maut.


"Ya." Aku benar-benar ke belakang. Merebut setrikaan yang sedang dipegang Kak Vina.


"Biar aku yang nyetrika. Kakak duduk di depan aja."

__ADS_1


Kak Vina mengernyitkan kening. Dia bangkit dan mengintip melihat mantan suamiku sedang bermain dengan Elena. Akhirnya ia tersenyuk mengerti dan menganggukkan kepala.


"Baik lah, nanti aku akan mengabari jika dia sudah pergi," bisiknya.


Aku pun menggantikan Kak Vina dalam menyetrika. Anehnya kali ini menyetrika terasa begitu berat membuat aku dibanjiri keringat yang tiada henti.


Anehnya, aku belum juga mendapat kabar dari Kak Vina bahwa Bang Alan menandakan meninggalkan tempat ini.


"Nesya, kamu terlihat pucat? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bang Jin yang bertugas untuk mencuci benda berat seperti bed cover dan boneka.


"Tidak apa, Bang. Aku baik-baik saja."


Bang Jin mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepala. Dia melangkahkan kaki ke bagian depan mencari seseorang. Tidak lama, yang datang malah Bang Alan dengan wajah cemasnya.


"Dek, kamu sakit?" Tangannya begitu saja terparkir di kepalaku.


Aku tepis tangan itu. "Jangan terlalu berlebihan, dan jangan memegang-megangku seperti ini! Kita bukan siapa-siapa selain hanya seluet masa lalu yang tak akan pernah terulang!"


Dia tersentak dengan raut yang berubah seketika. Terdengar decakan dan dia pergi tanpa berkata apa-apa. Kak Vina berjalan cepat memanjangkan leher melirik ke arah luar.


"Dia sudah pergi, ucapanmu barusan terlalu sarkas. Kasian juga dia."


"Biar lah Kak. Aku tidak ingin ada fitnah muncul di antara kami berdua yang bisa berpengaruh pada hubunganku dengan Mas Aren."


Kak Vina menggelengkan kepala. "Benar juga sih, tapi ada cara yang baik-baik. Rasanya tidak pantas saja kamu membalas kekhawatiran dirinya dengan skak mat begitu."


Akhirnya aku menghela napas panjang. "Soalnya aku lagi kesel banget sama dia, Kak. Dia seperti mempermainkan sahabatku, dan membuat persahabatan kami menjadi sedikit renggang."


Kak Vina kembali menggelengkan kepala. "Terserah kamu saja, Sya. Semoga saja dia tidak dendam karena merasa sakit hati karena kamu."


"Aaaah, Kakak ... Kok malah nakut-nakutin aku sih?" Meskipun apa yang dikatakan Kak Vina memang benar, hanya saja aku merasa sedikit keberatan seolah ia membela pria itu.


"Aku hanya bercanda, tapi ini serius. Kalau pria dendam, hasilnya akan mengerikan. Selagi kamu bisa berkata baik-baik, lebih baik kamu berucap sebaik mungkin."


"Selagi bisa menghindar, aku akan menghindar," ucapku yang kokoh pada pendirian.

__ADS_1


__ADS_2